Oleh : Budi Purnomo

Menulis Surat Pembaca itu gampang, kata seorang penulis yang memang namanya sering terpampang di berbagai rubrik Surat Pembaca media cetak.
Tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa menulis Surat pembaca itu sulit. Namun terlepas dari pro kontra tersebut, dibandingkan dengan karya tulis lainnya, menulis Surat Pembaca memang lebih gampang.
Mudah-mudahan, Tips Sepuluh Langkah ini dapat menjadi obat bagi Anda yang masih merasa kesulitan menulis Surat Pembaca.

Langkah Pertama : Tentukan tema yang akan ditulis
Sebagaimana menulis artikel pada umumnya, menulis Surat Pembaca pun memerlukan tema yang jelas. Dengan tema yang jelas, diharapkan penulis akan konsentrasi dan fokus terhadap permasalahan yang berkaitan dengan tema. Entah itu memberikan solusi terbaik, menyampaikan pandangan pro dan kontra atau bahkan wacana alternative. Oleh karena itu pembuatan judul tetap harus memiligi daya tarik dan disesuaikan dengan isinya.
Misalnya, kita akan menulis tentang lingkungan hidup, maka kita jangan ngelantur kemana-mana. Selain space tulisan yang terbatas, tulisan yang ngelantur sangat tidak produktif dan tidak enak dibaca.

Langkah Kedua : Tuangkan tulisan dengan bahasa yang jelas
Meskipun belum tentu merupakan suatu kesalahan, tetapi salah satu kelemahan para penulis adalah menonjolkan penulisan dengan menyisipkan bahasa-bahasa asing yang tidak perlu. Tujuannya (mungkin) agar terlihat intelek dan (terlihat) mengikuti perkembangan baru. Sebenarnya sih boleh-boleh saja. Tetapi untuk menulis Surat Pembaca tolong dipertimbangkan baik-baik. Bagaimana pun, menuangkan tulisan dengan bahasa yang lebih jelas dinilai lebih bagus. Penyebabnya, karena karakteristik penulisan Surat Pembaca yang harus singkat dan padat.

Langkah Ketiga : Jangan menulis terlalu panjang.
Kalau kita jeli meneliti tulisan-tulisan Surat Pembaca yang ada di media cetak, baik itu suratkabar, tabloid, maupun majalah, paling panjang hanya memuat 3 s/d 5 paragraph/alenea. Rumus seperti ini sebaiknya jangan Anda tabrak. Mengapa ? tulisan yang panjang dan lebar hanya akan menambah pekerjaan redaksi yang sudah bertumpuk pekerjaan. Kalau Anda menjadi redaksinya pun, tentu akan lebih senang memilih tulisan atau artikel yang pas, sesuai dengan harapan, dan tidak berpanjang lebar.

Langkah Keempat : Baca lagi, edit lagi.
Setelah tulisan selesai dibuat, sebaiknya jangan langsung dikirim ke media cetak. Cobalah diendapkan sebentar saja, lalu Anda cek sekali lagi. Apakah masih ada salah huruf atau salah kata ? Bahkan mungkin ada kalimat-kalimat yang dirangkai dari satu kalimat ke kalimat lain yang tidak nyambung ? Pastikan, semua tulisan yang Anda buat sempurna menurut versi Anda sendiri. Bila perlu, konfirmasikan lagi kepada senior Anda, apakah tulisan Anda ini sudah oke atau kurang ? Kalau Anda akan membacanya lagi, kemudian Anda edit lagi karena Anda kurang puas, lakukanlah dengan penuh perjuangan, sampai Anda benar-benar nyaman dengan tulisan yang Anda buat sendiri.

Langkah Kelima : Buat surat pengantar
Akan lebih sopan kalau dalam mengirimkan Surat Pembaca kita juga diberikan pengantar yang isinya bahwa surat yang terlampir adalah surat pembaca. Contoh isi surat pengantar secara ringkas adalah sebagai
berikut : Bersama ini kami kirimkan tulisan berjudul : “ (tuliskan judulnya) ” untuk dimuat di Rubrik Surat Pembaca media cetak yang Bapak/Ibu pimpin. Semoga Surat Pembaca kami ini dapat dipublikasikan di
media cetak Bapak/Ibu. Atas bantuan yang diberikan, kami menyampaikan terima kasih. Jangan lupa cantumkan Nama, Alamat, serta Nomor Telp/HP Anda yang gampang dihubungi.

Langkah Keenam : Jangan lupa lampirkan identitas diri.
Kalau kita buka media cetak di halaman opini atau pun di bawah box susunan redaksi media massa, selalu dicantumkan informasi agar setiap pengirim Surat Pembaca melampirkan fotocopy identitas diri. Anda
dituntut ketaatan untuk memenuhi ketentuan ini. Kalau KTP tidak ada, Anda bisa menggunakan Kartu SIM, Kartu Pelajar, atau kartu identitas yang lainnya. Yang penting, jangan melampirkan yang kartu identitas yang asli, cukup fotocopy-nya saja,

Langkah Ketujuh : Kirimkan kepada alamat redaksi media
Setelah semuanya siap, barulah Anda mengirimkan surat kepada redaksi yang mengasuh rubrik Surat Pembaca. Biasanya redaksi Surat Pembaca juga mengelola halaman Opini. Alamat Redaksi media cetak selalu dicantumkan di box susunan redaksi, masing-masing media. Untuk alamat redaksi yang lebih lengkap, Komunitas Penulis Surat Pembaca “JEJak” sudah menyediakannya secara gratis di
http://infojejak.blogspot.com/2006/04/daftar-alamat-redaksi-media-cetak.html atau di http://alamatmedia.blogspot.com. Setelah itu, silahkan kirim tulisan Surat Pembaca Anda ke media cetak yang memiliki visi dan misi yang sama dengan contain atau materi Surat Pembaca yang Anda buat. Kalau
Anda memiliki minat besar untuk menulis, biasanya dengan membaca media cetak (atau membaca Surat Pembaca yang dimuat di situ), Anda akan memiliki feeling bahwa tulisan-tulisan dengan visi dan misi tertentu maka potensi untuk dimuatnya sangat tinggi.

Langkah Kedelapan : Monitoring pemuatan Surat Pembaca
Setelah mengirimkan Surat Pembaca ke redaksi media cetak, Anda tinggal menunggu pemuatan atau penerbitannya di media cetak yang kita kirim. Jangan berharap redaksi akan memberitahu Anda untuk pemuatan, karena mereka pun memiliki waktu yang terbatas dan dikejar dead line. Kalau punya uang, lebih baik Anda membeli media cetak tersebut untuk memonitor apakah Surat Pembaca kita sudah dimuat atau belum. Tetapi, kalau keuangan Anda terbatas, pinjam sebentar di agen media cetak atau tukang koran untuk ngintip rubrik Surat Pembaca, juga bisa Anda lakukan.

Langkah Kesembilan : Coba lagi, dan jangan putus asa
Kalau tulisan Anda tidak dimuat, jangan berputus asa. Kesuksesan penulis-penulis hebat adalah karena tulisan-tulisannya pernah ditolak oleh penerbit. Anda coba lagi, baca lagi, belajar lagi dan kirim lagi.
Pokoknya jangan ada istilah berputus asa, karena dengan demikian maka Anda pasti bisa.

Langkah Kesepuluh : Dokumentasikan Surat Pembaca Anda
Tulisan-tulisan Surat Pembaca yang telah dimuat di media massa, jangan dibuang. Buatlah dokumentasi yang rapi, suatu saat pasti akan berguna bagi karir dan kehidupan Anda. Memang benar, kegiatan menulis Surat pembaca bukan karena alasan uang, tidak ada honor dari penerbit apabila tulisan Anda dimuat di rubrik Surat Pembaca. Tetapi, kalau kita rutin menulis, maka kemampuan interlektualitas kita terasah.
Kalau tulisan Surat Pembaca sudah menumpuk, Anda bisa mendokumentasikannya via blog pribadi,, dan kemudian ditawarkan kepada penerbit buku, siapa tahu ada yang berminat. Kalau jalannya mulus, Anda
pun menjadi ngetop. Kata orang, ngetop adalah rejeki berupa benefit yang bisa mendatangkan profit. Mudah-mudahan, Anda termasuk keluarga besar penulis yang beruntung. Semoga!

Catatan:
Makalah ini pernah disampaikan dalam Workshop Kehumasan PDAM yang diselenggarakan oleh Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi), Jakarta, 26-28 Juli 2006.

Sumber: Komunitas Penulis Surat Pembaca Jakarta
URL:
http://infojejak.wordpress.com/2007/02/13/sepuluh-langkah-menulis-surat-pembaca-yang-menembus-media/

Posted by: Kurnia | May 5, 2009

Empat Juta Orang Menderita GERD

Selasa, 5 Mei 2009 | 04:55 WIB

Jakarta, Kompas – Belum banyak orang Indonesia yang mengetahui tentang GERD atau gastroesophageal reflux disease. Umumnya penyakit yang berkaitan dengan asam lambung selalu dikira sebagai dispepsia atau mag. Padahal, GERD adalah penyakit kronik yang bisa mengakibatkan kanker kerongkongan atau kanker lambung. Di Indonesia diperkirakan ada empat juta orang menderita GERD.

“Asam lambung bisa naik dan mengakibatkan perlukaan di kerongkongan. Lama-lama bisa menjadi kanker kerongkongan,” kata dokter ahli penyakit dalam dan konsultan penyakit lambung dan pencernaan Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia- Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dr H Ari Fahrial Syam SpPD di Jakarta, Senin (4/5).

GERD merupakan kondisi adanya aliran balik dari isi lambung ke kerongkongan yang menyebabkan gejala yang mengganggu hingga terjadinya komplikasi.

Aliran balik asam lambung ke kerongkongan tidak hanya menjadi pemicu sindrom GERD (seperti naiknya aliran isi lambung ke kerongkongan atau regurgitasi ataupun nyeri dada seperti terbakar, heartburn) tetapi juga menyebabkan luka pada kerongkongan atau esofagitis. Alir balik isi lambung ini juga dilaporkan bisa menyebabkan atypical syndrome (seperti asthma reflux) yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan sulit diobati.

Komplikasi lain

GERD yang tidak diterapi dengan baik dapat menyebabkan terjadinya komplikasi, antara lain penyempitan kerongkongan, pendarahan kerongkongan dan kondisi yang disebut Barrett’s esophagus (terjadi pembentukan jaringan pada dinding kerongkongan seperti yang ditemukan dalam usus). Jika hal ini terjadi, perjalanan penyakit ini berhubungan dengan kanker kerongkongan.

“Saat ini di Indonesia belum ada angka yang pasti mengenai jumlah penderita GERD, tetapi dari hospital base yang dapat ditelusuri ada sekitar 20 persen dari total pasien yang datang ke Departemen Ilmu Penyakit Dalam menyampaikan keluhan gejala GERD dari ringan hingga parah,” kata dr Ari.

Faktor risiko penyakit GERD ini antara lain obesitas, tidur telentang seusai makan, merokok, alkohol, kopi, dan stres.

“Kopi meningkatkan asam lambung, begitu juga stres. Jika ada sesuatu yang tidak beres di otak, otak memerintah lambung untuk memproduksi asam lambung,” kata dr Ari.

Dokter Mary Josephine dari PT AstraZeneca Indonesia mengatakan, dibandingkan dengan negara lain di Asia, Filipina 17 persen dan Taiwan 13 persen, maka hanya sekitar 1 persen penduduk Indonesia yang mengenal apa itu GERD walaupun mereka sebenarnya telah menderita GERD selama bertahun-tahun.

Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai GERD, masyarakat bisa mengakses situs web http://www.asamlambung. com di mana ada konsultasi secara online. (LOK)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/05/05/04552487/empat.juta.orang.menderita.gerd

Posted by: Kurnia | May 5, 2009

Ganggu Fisik dan Daya Ingat

Monday, 04 May 2009
DEHIDRASI atau kekurangan cairan dalam tubuh bisa berdampak pada gangguan kesehatan. Sayangnya,sebagian masyarakat belum memahami kesadaran dan faedah air untuk tubuh.

Air minum tak hanya menyegarkan tubuh. Air minum juga memiliki khasiat yang sangat bagus untuk kesehatan tubuh. Kurangnya asupan air minum bisa berdampak pada gangguan kesehatan.Kurangnya air minum bisa menurunkan kemampuan fisik, menurunkan daya ingat atau konsentrasi, sulit buang air besar, pingsan, bahkan kematian. Ironisnya,kesadaran kita akan pentingnya air minum untuk tubuh masih minim.

Menurut penelitian yang digelar Perhimpunan Peminat Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia,kesadaran akan faedah dan pentingnya air minum bagi tubuh manusia masih sangat rendah, khususnya di kalangan remaja Indonesia. Memang penelitian tidak dilakukan di seluruh Indonesia, melainkan hanya di Jakarta Utara dan Bandung Barat. Dr Widyaningrum,dokter yang tergabung dalam penelitian dengan responden warga Jakarta Utara dan Bandung Barat ini, mengatakan, hasil penelitian menunjukkan sekitar 51,1% remaja Indonesia minim pengetahuan tentang kegunaan dan pentingnya air minum.

Survei dilakukan terhadap 209 remaja dan 194 orang dewasa yang berdomisili di Jakarta Utara dan Bandung Barat.”Hanya 35,9% remaja yang tahu bahwa sumber air bagi tubuh juga dapat berasal dari makanan atau buah dan 34% remaja yang mengetahui kapan tubuh membutuhkan air lebih banyak,” ucap dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Dikatakan, dari segi perilaku atau kebiasaan minum, sebanyak 62,1% remaja dan 59,8% orang dewasa lebih menyukai air putih. Alasannya karena rasa aman, dan kemudahan dalam memperolehnya.

Adapun sumber air minum keluarga di daerah penelitian ini pada umumnya berasal dari air kemasan galon, air ledeng, dan air sumur. Masih berdasarkan penelitian, sekitar 45,3% keluarga merasakan ada masalah dalam pemenuhan kebutuhan air minum. Di antaranya warna air yang kurang bening, beraroma, ketersediaan air,serta harga yang semakin meningkat. “Rata-rata biaya yang dikeluarkan remaja untuk membeli air minum di luar rumah per minggu yakni Rp18.311, sementara pengeluaran orang dewasa Rp22.454,”katanya.

Kurangnya pemahaman soal pentingnya air minum secara otomatis memengaruhi gaya hidup mereka. Artinya, mereka tak mengetahui bahaya akan kebiasaan kurang minum. Lebih lanjut ditambahkan Ningrum, kurang minum dapat berdampak pada gangguan kesehatan, menurunkan kemampuan fisik, menurunkan daya ingat atau konsentrasi, sulit buang air besar,pingsan dan kematian, tergantung pada tingkat dehidrasi yang dialami. Sementara gejala dehidrasi ringan yakni haus, bibir kering, tenggorokan kering, dan kulit kering.

Sementara gejala dehidrasi sedang ditandai dengan sakit kepala, pusing, denyut nadi meningkat, tekanan darah menurun, suhu badan meningkat, lemah, urine keruh kuning atau cokelat. Pada tahap berat, dehidrasi dapat ditandai dengan keram otot, lidah bengkak, sirkulasi darah memburuk, sangat lemah, penurunan fungsi ginjal dan pingsan. “Hampir semua penyakit-penyakit hati, jantung, otak, ginjal akan selalu dikaitkan dengan keseimbangan air dan elektrolit yang akan menimbulkan gangguan pada ginjal,”ujarnya.

Bahkan, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian remaja dan orang dewasa yang diteliti menghadapi masalah pemenuhan kebutuhan air minum. Untuk itu, menurut dia, perlu upaya peningkatan kesadaran akan pentingnya air bagi kesehatan dan perilaku minum yang baik dalam konteks gizi seimbang. Tercatat, jika tubuh kekurangan cairan sebesar 2% saja sudah bisa menimbulkan gangguan kesehatan. Gangguan itu berupa tubuh mulai menimbulkan gejala kekurangan cairan. Gejalanya seperti tidak bisa berkonsentrasi dan mengantuk.

Sementara, bila 4%- 6% air tubuh hilang,dapat muncul sakit kepala dan pusing. Jika 12% hilang, mulut akan sulit mengunyah, dan perlu bantuan medik. Jika terjadi kekurangan air tubuh sebanyak 15%-25%, maka hal ini dapat berakibat fatal tidak terkecuali kematian. Kebutuhan air dapat dipenuhi dari asupan air minum, air yang terkandung dalam makanan,serta air yang diperoleh dari hasil proses metabolisme tubuh. Dalam tubuh manusia, jumlah air yang berasal dari minuman sekitar 1.500-2.000 cc, dari makanan sekitar 500-750 cc dan darihasilmetabolismetubuhsejumlah 350 cc.

“Kita sama sekali tidak bisa membedakan anak-anak yang terserang dehidrasi atau tidak. Karenaterkadanggejalayangditunjukkan tidak terlalu kentara,”kata Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Dr Gurbani Azwardi,beberapa waktu lalu. Menurut dia, yang perlu diperhatikan adalah kesadaran untuk tetap menjaga asupan air minum ke dalam tubuh.

Karena tanpa air minum yang cukup,siapa pun itu tidak akan terlepas dari dehidrasi. “Jangan sekali-kali mengabaikan gejala awal dehidrasi karena kalau dibiarkan berlarut-larut,akan mengakibatkan gangguanfisikyanglebihparahpula,” kata dia.(bernadette lilia nova)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/235453/

Posted by: Kurnia | May 5, 2009

MMR & Autism

Dikutip dari : http://www.who.int/vaccine_safety/topics/mmr/mmr_autism/en/
Appears in WER 24 January 2003:

Concerns about a possible link between vaccination with MMR and autism were raised in the late 1990s, following publication of studies claiming an association between natural and vaccine strains of measles virus and inflammatory bowel diseases, and separately, MMR vaccine, bowel disease and autism. WHO, on the recommendation of GACVS, commissioned a literature review by an independent researcher of the risk of autism associated with MMR vaccine; the outcome of the review was presented to GACVS for its consideration.

Autistic spectrum disorder represents a continuum of cognitive and neurobehavioral disorders including autism. The prevalence of autism varies considerably with case ascertainment, ranging from 0.7 – 21.1 per 10 000 children (median 5.2 per 10 000) while the prevalence of autistic spectrum disorder is estimated to be 1 – 6 per 1000. Eleven epidemiological studies (representing the most recent studies, mostly in the last 4 years) were reviewed in detail, taking into consideration study design (including ecologic, case control, case-crossover and cohort studies) and limitations. The review concluded that existing studies do not show evidence of an association between the risk of autism or autistic disorders and MMR vaccine. Three laboratory studies were also reviewed. It was concluded that the alleged persistence of measles vaccine virus in the gastrointestinal tract of children with autism and inflammatory bowel disease requires further investigation through independent studies before the laboratory findings of the published studies, which have serious limitations, can be considered confirmed.

Based on the extensive review presented, GACVS concluded that no evidence exists of a causal association between MMR vaccine and autism or autistic disorders. The committee believes the matter is likely to be clarified by a better understanding of the causes of autism. GACVS also concluded that there is no evidence to support the routine use of monovalent measles, mumps and rubella vaccines over the combined vaccine, a strategy which would put children at increased risk of incomplete immunization. Thus, GACVS recommends that there should be no change in current vaccination practices with MMR.
- Expert opinion on findings of study by Geier M and Geier D on MMR and autism
- MMR and Autism – a review for the Global Advisory Committee on Vaccine Safety [pdf 137kb]

Posted by: Kurnia | May 4, 2009

Obat Penyebab Demam

Jurnal Bogor, Senin 4 Mei 2009, (hal. 20)

Obati Penyebab Demam

Demam merupakan gangguan kesehatan yang paling banyak diderita anak-anak, di samping diare, batuk, dan pilek. Namun tak banyak orangtua yang memahami benar, bila anaknya terserang demam, padahal demam pada anak bisa juga merupakan salah satu proses tumbuh kembang anak. Untuk meningkatkan pemahaman orangtua terhadap kesehatan anak, Yayasan Orangtua Peduli (YOP) didukung oleh WHO (World Health Organization) Indonesia dan Jurnal Bogor mengadakan PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua), salah satu bahasannya mengenai seluk-beluk demam. Berikut ini bahasan tentang demam yang dipaparkan oleh dr. Yulianto Santoso K.

1. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan demam?
Demam adalah kenaikan temperatur tubuh. Di mana ini suatu gejala, bukan penyakit. Anak anda dikatakan demam bila diukur dengan termometer menunjukkan suhu 37,8 hingga 39 derajat celcius atau demam ringan, dan 39 hingga 40 derajat celcius atau demam sedang. Keduanya bermanfaat bagi tubuh. Jika demam lebih dari 40 derajat celcius disebut demam tinggi, namun tidak berbahaya, hanya menimbulkan ketidaknyamanan. Demam akan dikatakan bahaya bila lebih dari 42 derajat celcius.

2. Lalu, berapa suhu tubuh yang normal?
Setiap anggota tubuh tersebut memiliki temperatur yang berbeda-beda. Pengukuran suhu tubuh bisa dilakukan di ketiak, mulut, ataupun anus. Suhu normal pada ketiak 34,7 hingga 37,3 derajat celcius. Pada mulut, suhu normalnya 35,5 sampai 37,5 derajat celcius. Sedangkan di anus berkisar antara 36,6 hingga 37,9 derajat celcius.

3. Apa penyebab terjadinya demam?
Demam disebabkan adanya zat di dalam tubuh yang membuat tubuh meningkatkan set point atau nilai ambang batas suhu tubuh. Zat ini disebut pirogen. Pirogen ini dapat dihasilkan oleh virus, komponen bakteri, kerusakan jaringan, toksin, obat bahkan penyakit otoimun. Karena itu kita harus menentukan penyebab demam. Sebagian besar demam pada anak disebabkan infeksi virus yang self limiting atau sembuh dengan perjalanan waktu.

4. Kemudian seperti apa respon tubuh dalam proses demam?
Dengan kenaikan set point akibat pirogen, maka tubuh akan berusaha mencapai set point yang baru dengan menghasilkan panas dan menjaga agar panas yang dihasilkan tidak keluar dari tubuh. Proses menghasilkan panas dilakukan dengan menggigil, sehingga otot menghasilkan panas. Kemudian panas dijaga agar tidak keluar dengan mengecilkan pembuluh darah (vasokonstriksi), sehingga suplai darah akan berkurang di sekitar tangan dan kaki. Makanya mengapa saat tubuh menggigil untuk menghasilkan panas, tangan dan kaki anak terasa dingin. Hal ini untuk menjaga agar panas yang dihasilkan tidak terbuang ke luar tubuh.

5. Benarkah demam selalu merugikan?
Pernyataan tersebut tak sepenuhnya salah. Memang di satu sisi demam mempunyai dampak yang merugikan karena dapat menyebabkan kejang dan dehidrasi. Namun, di sisi lain dengan suhu tubuh yang meningkat, membuat sel darah putih yang berguna sebagai pertahanan tubuh bekerja lebih aktif untuk membunuh kuman yang masuk dalam tubuh. Sehingga dengan demam, kuman tidak berkembang lebih cepat.

6. Lantas apa tindakan yang tepat saat anak demam dengan kaki dingin disertai kejang? Apakah langsung diobati?
Saya harap dengan adanya pembahasan ini, tidak ada alasan orangtua untuk takut saat anak demam, tangan-kaki anak terasa dingin, atau saat anak kejang saat demam. Sebab, semua itu ada penjelasan secara ilmiah. Jangan obati demam, tetapi cari tahu penyebabnya. Dengan pengetahuan yang tepat serta memadai mengenai demam dan masalah kesehatan lainnya tentunya akan memberikan manfaat terbesar dalam tumbuh kembang anak. Kekhawatiran berlebihan tentang demam akan membawa anak terpapar pada pengobatan yang tidak perlu.

Untuk mengetahui topik demam lebih lanjut, dr. Purnamawati, SpAk, MMPed sebagai pembicara seminar akan mengulasnya pada PESAT 2 Bogor Sesi I, tanggal 16 Mei 2009. Pada acara ini akan dijelaskan mengenai informasi kesehatan seputar kesehatan anak dengan pesan yang jelas dan dapat dimengerti menuju pengobatan rasional. Karena anak-anak kita berhak atas standar pengobatan yang terbaik.

Untuk informasi selengkapnya, Anda bisa mengikuti seminar setengah hari pada 16 dan 17 Mei 2009 di Ruang Rapat I Balaikota Bogor yang kemudian dilanjutkan pada 6 dan 7 Juni 2009 di Aula Dinas Kesehatan Kota Bogor. Bagi yang berminat bisa menghubungi Chaci (08881127818) atau Dina (0251 7123011).

Posted by: Kurnia | May 4, 2009

Tuberculosis

Penyakit TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin atau kaya) dan dimana saja. Setiap tahunnya, Indonesia bertambah dengan seperempat juta kasus baru TBC dan sekitar 140.000 kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh TBC. Bahkan, Indonesia adalah negara ketiga terbesar dengan masalah TBC di dunia.Survei prevalensi TBC yang dilakukan di enam propinsi pada tahun 1983-1993 menunjukkan bahwa prevalensi TBC di Indonesia berkisar antara 0,2 – 0,65%. Sedangkan menurut laporan Penanggulangan TBC Global yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2004, angka insidensi TBC pada tahun 2002 mencapai 555.000 kasus (256 kasus/100.000 penduduk), dan 46% diantaranya diperkirakan merupakan kasus baru.

Penyebab Penyakit TBC

Penyakit TBC adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, sehingga untuk mengenang jasanya bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan, penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP).


Bakteri Mikobakterium tuberkulosa

Cara Penularan Penyakit TBC

Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.

Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.

Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TBC.

Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.

Gejala Penyakit TBC

Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.

Gejala sistemik/umum

  • Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
  • Penurunan nafsu makan dan berat badan.
  • Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
  • Perasaan tidak enak (malaise), lemah.

Gejala khusus

  • Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”, suara nafas melemah yang disertai sesak.
  • Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
  • Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
  • Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.

Penegakan Diagnosis

Apabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah:

  • Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.
  • Pemeriksaan fisik.
  • Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak).
  • Pemeriksaan patologi anatomi (PA).
  • Rontgen dada (thorax photo).
  • Uji tuberkulin.
Posted by: Kurnia | May 4, 2009

Klasifikasi TBC dan Mantoux Test

Dikutip dari : http://keperawatankita.wordpress.com/2009/02/07/tuberculosis/

Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan paling bermanfaat untuk menunjukkan sedang/pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa dan sering digunakan dalam “Screening TBC”. Efektifitas dalam menemukan infeksi TBC dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 90%.

Penderita anak umur kurang dari 1 tahun yang menderita TBC aktif uji tuberkulin positif 100%, umur 1–2 tahun 92%, 2–4 tahun 78%, 4–6 tahun 75%, dan umur 6–12 tahun 51%. Dari persentase tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar usia anak maka hasil uji tuberkulin semakin kurang spesifik.

Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin, namun sampai sekarang caramantoux lebih sering digunakan. Lokasi penyuntikan uji mantoux umumnya pada ½ bagian atas lengan bawah kiri bagian depan, disuntikkan intrakutan (ke dalam kulit). Penilaian uji tuberkulin dilakukan 48–72 jam setelah penyuntikan dan diukur diameter dari pembengkakan (indurasi) yang terjadi.

Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.

1. Pembengkakan (Indurasi) : 0–4mm,uji mantoux negatif.
Arti klinis : tidak ada infeksiMikobakterium tuberkulosa.
2. Pembengkakan (Indurasi) : 3–9mm,uji mantoux meragukan.
Hal ini bisa karena kesalahan teknik, reaksi silang denganMikobakterium atipik atau setelah vaksinasi BCG.
3. Pembengkakan (Indurasi) : ≥ 10mm,uji mantoux positif.
Arti klinis : sedang atau pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa.

Pemeriksaan radiologis dapat memperkuat diagnosis, karena lebih 95% infeksi primer terjadi di paru-paru maka secara rutin foto thorax harus dilakukan. Ditemukannya kuman Mikobakterium tuberkulosa dari kultur merupakandiagnostik TBC yang positif, namun tidak mudah untuk menemukannya.

Klasifikasi TBC (menurut The American Thoracic Society, 1981)

Klasifikasi 0 Tidak pernah terinfeksi, tidak ada kontak, tidak menderita TBC
Klasifikasi I Tidak pernah terinfeksi,ada riwayat kontak,tidak menderita TBC
Klasifikasi II Terinfeksi TBC / test tuberkulin ( + ), tetapi tidak menderita TBC (gejala TBC tidak ada, radiologi tidak mendukung dan bakteriologi negatif).
Klasifikasi III Sedang menderita TBC
Klasifikasi IV Pernah TBC, tapi saat ini tidak ada penyakit aktif
Klasifikasi V Dicurigai TBC
Posted by: Kurnia | May 4, 2009

Pengobatan Tuberculosis

Pengobatan TBC Kriteria I (Tidak pernah terinfeksi, ada riwayat kontak, tidak menderita TBC) dan II (Terinfeksi TBC/test tuberkulin (+), tetapi tidak menderita TBC (gejala TBC tidak ada, radiologi tidak mendukung dan bakteriologi negatif) memerlukan pencegahan dengan pemberian INH 5–10 mg/kgbb/hari.

  1. Pencegahan (profilaksis) primer
    Anak yang kontak erat dengan penderita TBC BTA (+).
    INH minimal 3 bulan walaupun uji tuberkulin (-).
    Terapi profilaksis dihentikan bila hasil uji tuberkulin ulang menjadi (-) atau sumber penularan TB aktif sudah tidak ada.
  2. Pencegahan (profilaksis) sekunder
    Anak dengan infeksi TBC yaitu uji tuberkulin (+) tetapi tidak ada gejala sakit TBC.
    Profilaksis diberikan selama 6-9 bulan.

Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu :

  • Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid.
    Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini.
  • Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin, Kapreomisin dan Kanamisin.

Dosis obat antituberkulosis (OAT)

Obat Dosis harian
(mg/kgbb/hari)
Dosis 2x/minggu
(mg/kgbb/hari)
Dosis 3x/minggu
(mg/kgbb/hari)
INH 5-15 (maks 300 mg) 15-40 (maks. 900 mg) 15-40 (maks. 900 mg)
Rifampisin 10-20 (maks. 600 mg) 10-20 (maks. 600 mg) 15-20 (maks. 600 mg)
Pirazinamid 15-40 (maks. 2 g) 50-70 (maks. 4 g) 15-30 (maks. 3 g)
Etambutol 15-25 (maks. 2,5 g) 50 (maks. 2,5 g) 15-25 (maks. 2,5 g)
Streptomisin 15-40 (maks. 1 g) 25-40 (maks. 1,5 g) 25-40 (maks. 1,5 g)

Sejak 1995, program Pemberantasan Penyakit TBC di Indonesia mengalami perubahan manajemen operasional, disesuaikan dengan strategi global yanng direkomendasikan oleh WHO. Langkah ini dilakukan untuk menindaklanjutiIndonesia – WHO joint Evaluation dan National Tuberkulosis Program in Indonesiapada April 1994. Dalam program ini, prioritas ditujukan pada peningkatan mutu pelayanan dan penggunaan obat yang rasional untuk memutuskan rantai penularan serta mencegah meluasnya resistensi kuman TBC di masyarakat. Program ini dilakukan dengan cara mengawasi pasien dalam menelan obat setiap hari,terutama pada fase awal pengobatan.

Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1996 dan telah diimplementasikan secara meluas dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Sampai dengan tahun 2001, 98% dari populasi penduduk dapat mengakses pelayanan DOTS di puskesmas. Strategi ini diartikan sebagai “pengawasan langsung menelan obat jangka pendek oleh pengawas pengobatan” setiap hari.

Indonesia adalah negara high burden, dan sedang memperluas strategi DOTS dengan cepat, karenanya baseline drug susceptibility data (DST) akan menjadi alat pemantau dan indikator program yang amat penting. Berdasarkan data dari beberapa wilayah, identifikasi dan pengobatan TBC melalui Rumah Sakit mencapai 20-50% dari kasus BTA positif, dan lebih banyak lagi untuk kasus BTA negatif. Jika tidak bekerja sama dengan Puskesmas, maka banyak pasien yang didiagnosis oleh RS memiliki risiko tinggi dalam kegagalan pengobatan, dan mungkin menimbulkan kekebalan obat.

Akibat kurang baiknya penanganan pengobatan penderita TBC dan lemahnya implementasi strategi DOTS. Penderita yang mengidap BTA yang resisten terhadap OAT akan menyebarkan infeksi TBC dengan kuman yang bersifat MDR(Multi-drugs Resistant). Untuk kasus MDR-TB dibutuhkan obat lain selain obat standard pengobatan TBC yaitu obat fluorokuinolon seperti siprofloksasin, ofloxacin, levofloxacin (hanya sangat disayangkan bahwa obat ini tidak dianjurkan pada anak dalam masa pertumbuhan).

Pengobatan TBC pada orang dewasa
  • Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3
    Selama 2 bulan minum obat INH, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol setiap hari (tahap intensif), dan 4 bulan selanjutnya minum obat INH dan rifampisin tiga kali dalam seminggu (tahap lanjutan).
    Diberikan kepada:

    • Penderita baru TBC paru BTA positif.
    • Penderita TBC ekstra paru (TBC di luar paru-paru) berat.
  • Kategori 2 : HRZE/5H3R3E3
    Diberikan kepada:

    • Penderita kambuh.
    • Penderita gagal terapi.
    • Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat.
  • Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3
    Diberikan kepada:

    • Penderita BTA (+) dan rontgen paru mendukung aktif.

Pengobatan TBC pada anak

Adapun dosis untuk pengobatan TBC jangka pendek selama 6 atau 9 bulan, yaitu:

  1. 2HR/7H2R2 : INH+Rifampisin setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH +Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 7 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH).
  2. 2HRZ/4H2R2 : INH+Rifampisin+Pirazinamid: setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH+Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 4 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH).

Pengobatan TBC pada anak-anak jika INH dan rifampisin diberikan bersamaan, dosis maksimal perhari INH 10 mg/kgbb dan rifampisin 15 mg/kgbb.

Dosis anak INH dan rifampisin yang diberikan untuk kasus:

TB tidak berat
INH : 5 mg/kgbb/hari
Rifampisin : 10 mg/kgbb/hari
TB berat (milier dan meningitis TBC)
INH : 10 mg/kgbb/hari
Rifampisin : 15 mg/kgbb/hari
Dosis prednison : 1-2 mg/kgbb/hari (maks. 60 mg)

Tuberkulosis (TBC) dapat menyerang berbagai organ tubuh tetapi yang akan dibahas adalah obat TBC untuk paru-paru. Tujuan pengobatan TBC ialah memusnahkan basil tuberkulosis dengan cepat dan mencegah kambuh. Idealnya pengobatan dengan obat TBC dapat menghasilkan pemeriksaan sputum negatif baik pada uji dahak maupun biakan kuman dan hasil ini tetap negatif selamanya.

Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu :

  • Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid.
    Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini.
  • Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin, Kapreomisin dan Kanamisin.

Meskipun demikian, pengobatan TBC paru-paru hampir selalu menggunakan tiga obat yaitu INH, rifampisin dan pirazinamid pada bulan pertama selama tidak ada resistensi terhadap satu atau lebih obat TBC primer ini.

Isoniazid

Isoniazid atau isonikotinil hidrazid yang disingkat dengan INH. Isoniazid secara in vitro bersifat tuberkulostatik (menahan perkembangan bakteri) dantuberkulosid (membunuh bakteri).

Mekanisme kerja isoniazid memiliki efek pada lemak, biosintesis asam nukleat,dan glikolisis. Efek utamanya ialah menghambat biosintesis asam mikolat (mycolic acid) yang merupakan unsur penting dinding sel mikobakterium. Isoniazid menghilangkan sifat tahan asam dan menurunkan jumlah lemak yang terekstrasi oleh metanol dari mikobakterium.

Isoniazid mudah diabsorpsi pada pemberian oral maupun parenteral. Kadar puncak diperoleh dalam waktu 1–2 jam setelah pemberian oral. Di hati, isoniazid mengalami asetilasi dan pada manusia kecepatan metabolisme ini dipengaruhi oleh faktor genetik yang secara bermakna mempengaruhi kadar obat dalam plasma. Namun, perbedaan ini tidak berpengaruh pada efektivitas dan atau toksisitas isoniazidbila obat ini diberikan setiap hari.

Efek samping

Mual, muntah, anoreksia, letih, malaise, lemah, gangguan saluran pencernaan lain, neuritis perifer, neuritis optikus, reaksi hipersensitivitas, demam, ruam, ikterus, diskrasia darah, psikosis, kejang, sakit kepala, mengantuk, pusing, mulut kering, gangguan BAK, kekurangan vitamin B6, penyakit pellara, hiperglikemia, asidosis metabolik, ginekomastia, gejala reumatik, gejala mirip Systemic Lupus Erythematosus.

Resistensi

Resistensi masih merupakan persoalan dan tantangan. Pengobatan TBC dilakukan dengan beberapa kombinasi obat karena penggunaan obat tunggal akan cepat dan mudah terjadi resistensi. Disamping itu, resistensi terjadi akibat kurangnya kepatuhan pasien dalam meminum obat. Waktu terapi yang cukup lama yaitu antara 6–9 bulan sehingga pasien banyak yang tidak patuh minum obatselama menjalani terapi.

Isoniazid masih merupakan obat yang sangat penting untuk mengobati semua tipe TBC. Efek sampingnya dapat menimbulkan anemia sehingga dianjurkan juga untuk mengkonsumsi vitamin penambah darah seperti piridoksin (vitamin B6).

TB vit B6 sudah mengandung isoniazid dan vitamin B6 dalam satu sediaan, sehingga praktis hanya minum sekali saja. TB vit B6 tersedia dalam beberapa kemasan untuk memudahkan bila diberikan kepada pasien anak-anak sesuai dengan dosis yang diperlukan. TB Vit B6 tersedia dalam bentuk:

  1. Tablet
    Mengandung INH 400 mg dan Vit B6 24 mg per tablet
  2. Sirup
    Mengandung INH 100 mg dan Vit B6 10 mg per 5 ml, yang tersedia dalam 2 kemasan :

    • Sirup 125 ml
    • Sirup 250 ml

Perhatian:

  • Obat TBC di minum berdasarkan resep dokter dan harus sesuai dengan dosisnya.
  • Penghentian penggunaan obat TBC harus dilakukan atas seizin dokter.

Dikutip dari : http://medic-ugm05.com/artikel-kesehatan/53-pengobatan-tbc.html

Posted by: Kurnia | May 4, 2009

Penyakit pada Anak

Orang dewasa memiliki peran penting menghadirkan penyakit pada anak. Dengan menularkan, atau menerapkan pola hidup yang salah.

Anak tidak terlepas dari penyakit yang dapat mengintai kapan saja. Lingkungan termasuk perilaku orang dewasa merupakan faktor yang berperan hingga anak memiliki risiko penyakit tertentu. Ketika sistem imun belum terbangun sempurna atau sedang lemah, maka penyakit menular yang diderita orang dewasa berisiko untuk terkena pada anak. Bahkan untuk penyakit yang tidak menular, orang dewasa dan lingkungan berperan dalam menciptakan kebiasaan tertentu yang berdampak pada kesehatan anak.

Penyakit tuberkulosis (TB) pada anak merupakan salah satu penyakit yang perlu diwaspadai. Pasalnya, anak sejak masih bayi sangat rentan untuk tertular penyakit TB dari lingkungannya. Ketika bayi lahir, oma, opa, paman, bibi, dan anggota keluarga lain akan berebut untuk menggendong sambil menciumi anak. Salah satu dari mereka, mungkin menderita TB aktif, dan mungkin sekali menularkan kuman yang ditemukan Robert Koch 100 tahun lalu. Bukan tidak mungkin, anak tersebut lahir dari ibu atau ayah yang menderita TB. Faktanya setiap penderita TB aktif akan menulari rata-rata 10-15 orang, dan anak berada pada simpul strategis untuk mendapatkan infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis ini.

Padahal, penderita TB di Indonesia setiap tahunnya makin bertambah. Berganti pemerintahan, tidak membuat penyakit jadul ini lenyap dari muka bumi Indonesia. Negara ini bahkan berada di tempat ketiga jumlah penderita TB terbesar di dunia setelah India dan Cina. TB, masih menjadi penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit kardiovaskular dan penyakit saluran pernafasan pada semua golongan usia dan nomor 1 dari golongan infeksi. Berdasarkan kemudahan penularannya, WHO menetapkan TB sebagai masalah kesehatan global darurat pada tahun 1993. Setiap harinya TB membuat 300 orang meregang nyawa di seluruh dunia.

Pengobatan TBC yang cukup lama, 1 tahun terus menerus, membuat angka drop out pengobatan TB sangat besar. Meski setelah ditemukan panduan obat baru yang cukup diberikan dalam jangka waktu enam bulan pada tahun 1987, angka drop out masih tinggi. Hal itu menyebabkan tingkat kesembuhan pun kecil. Jumlah penderita TBC, memiliki potensi untuk membesar dengan penderita TB anak mengambil porsi di dalamnya.

Diagnosa Sulit
Pada anak, penyakit TB ditambah satu masalah, yaitu diagnosis. “Sulit untuk melakukan diagnosa TB pada anak,” kata Dr. Emma Nurhema, Sp.A kepada Farmacia pada sebuah acara yang diadakan di RS Persahatan Rabu (18/4) lalu. “Gejala klinis penyakit TB pada anak tidak khas, demikian juga ketika dilakukan rontgen,” ujarnya

Pemeriksaan sputum masih merupakan gold standard pada diagnosis TB. Namun anak umumnya tidak bisa mengleurkan dahak, jadi sukar untuk mengetahui apakah terdapat basil tahan asam dari pemeriksaan mikroskop.

System scoring digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis pada anak. Paramater pertama yang dijadikan ukuran adalah kontak anak dengan penderita TB di lingkungannya. Demam tanpa sebab jelas juga dijadikan sebagai indicator. “Demam hilang timbul tak terlalu tinggi yang berlangsung lama,” ujar Emma. Gejala lain adalah berwat badan turun, nafsu makan tidak ada, pembesaran kelenjar limfe superfisilis yang tidak sakit, batuk lama lebih dari 3 minggu dengan sebab lain telah disingkirkan, diare lama yang tidak sembuh dengan pengfobatan diare.

Sedangkan dari terapi radiologist, dicari gambaran sugestif TB yaitu pembesaran kgb, hilus/trakea, atelektasis, lobus medius, konsolidasi, lobar/segmental, milier, efusi pleura, kavitas-adult type. “Yang paling sering adalah pembesaran kgb, hilus/trakea lalu atelektasis, lobus medius, dan milier. Sedangkan jika sudah parah terjadi destroyed lung,” ujar Emma. Uji tuberkulin dilakukan untuk mengetahui apakah anak telah terinfeksi kuman tuberculosis.

Masing-masing gejala tersebut memiliki tingkat skor dengan kisaran 0-3 untuk hasil yang timbul dari tiap parameter yang diukur. Anak didiagnosis TB jika jumlah skor lebih besar atau sama dengan 6.

Anak dalam tahun-tahun pertama kehidupannya tentu akan bergantung pada ortang tuanya, terutama ibunya. “Anak yang lahir dari ibu yang terbukti menderita TB aktif, maka setelah anak lahir dilakukan evaluasi klinis dan foto torax,” ujar Emma. “Meski pemeriksaan klinis dan penunjang normal, namun karena ibuya TB aktif, maka dilakukan prifilaksis primer.” Profilaksis TB pada anak adalah dengan INH 5-10 mg/kg/hari. Selanjutnya dilakukan evaluasi dan 1 bulan kemudian dilakukan uji tuberkolin.

Ancaman Penyakit Modern
Sementara TB belum berhasil dijinakkan, ada ancaman penyakit lain yang juga mulai mengintai anak-anak yaitu obesitas. Jika TB merupakan penyakit kuno, maka obesitas merupakan penyakit masa depan akibat gaya hidup yang modern dan tidak sehat. Obesitas merupakan faktor risiko berbagai penyakit seperti jantung koroner, diabetes tipe 2, stroke, dan hipertensi. Diabetes juga meningkatkan risiko mortalitas penderita pada semua usia. Pada tahun 1998, WHO telah menetapkan obesitas sebagai epidemi global.

DR. Dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) dari FKUI/RSCM mengatakan obesitas pada anak dapat berdampak pada masalah psikososial, self-image yang negatif, serta penghargaan yang rendah. “Anak bisa mengalami kesulitan dalam menurunkan berat badan bahkan dalam jangka panjang,” ujarnya. Sebanyak 15 persen bayi yang mengalami obese akan cenderung juga obese ketika dewasa. Demikian juga, akan terjadi kecenderungan terkena obesitas saat dewasa pada 25 persen anak yang menderita obes pada usia preschool (6 bulan hingga 5 tahun), 50 persen anak di atas usia 6 tahun, dan 80 persen anak usia 10 hingga 14 tahun yang salah satu orang tuanya mengalami kegemukan.

Orang Dewasa : Faktor Kunci
Studi yang dipublikasikan di jurnal Pediatrics pada 2004 lalu memaparkan beberapa faktor yang membuat anak kelebihan berat. Genetik merupakan faktor pertama. Orang tua yang overweight, maka anaknya memiliki peluang overweight 48 persen. Faktor lain, orang tua kerap kurang peduli terhadap berat badan anak. Terkadang, jika anak memiliki tantrum terhadap makanan, maka membuat orang tua memberi anak makanan ekstra untuk meredakannya.

Rasa bersalah karena meninggalkan anak terlalu lama untuk bekerja, ditengarai juga menyebabkan orang tua akan memanjakan anak. Salah satunya, dengan memenuhi berbagai permintaan anak termasuk makanan atau kurangnya aktivitas fisik. Psikolog Anne Wareham mengistilahkan hal tersebut seperti membunuh anak secara perlahan dengan memanjakannya.

Di Indonesia, aspek lingkungan yang diciptakan orang dewasa juga cukup memborbardir anak untuk berpeluang overweight. “Aspek tersebut teramsuk maraknya makanan yang berasal dari barat, meningkatnya ketersediaan makanan, dan iklan makanan termnasuk pricing strategy,” tutur Damayanti. Kurangnya ruang untuk pejalan kaki juga membuat sulit untuk melakukan aktivitas fisik.

Untuk mengetahui seberapa besar prevalensi obesitas pada anak di Indonesia, Damayanti bersama koleganya melakukan penelitian di 10 kota-kota besar di Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Semarang, Solo, Jogkakarta, Surabaya, Den Pasar, dan Manado dengan subyek siswa sekolah dasar. Hasilnya, prevalensi obesitas pada anak tercatat sebesar 17,75 persen di Medan, Padang 7,1 persen, Palembang 13,2 persen, Jakarta 25 persen, Semarang 24,3 persen, Solo 2,1 persen, Jogjakarta 4 persen, Surabaya 11,4 persen, Den Pasar 11,7 persen, dan Manado 5,3 persen.

“Berdasarkan data tersebut rata-rata prevalensi obesitas pada siswa SD di 10 kota adalah 12,2 persen. Angka ini hampir sama dengan prevalensi obesitas di Inggris (10-17 persen) dan Amerika (10-12 persenn),” urai Damayanti di sebuah kesempatan kepada Farmacia. Maka, obesitas pada anak merupakan problem yang cukup mengkhawatirkan di daerah urban di Indonesia.

Manajemen terbaik untuk mengatasi obesitas adalah dengan menerapkan pola makan yang sehat dan modifikasi gaya hidup atau tingkah laku dengan melakukan olahraga. “Orang tua diharapkan menjadi role model,” ujar dokter cantik berkulit putih ini.

Ketika laju obesitas berhasil dicegah, maka ancaman penyakit masa depan ini berhasil ditekan lajunya. Jangan sampai penyakit terkait gaya hidup ini makin meningkat prevalensinya. Padahal, Indonesia masih disibukkan oleh penyakit masa lalu yang juga belum selesai, yaitu TB.

(Ika)

Seperti tercetak di Majalah Farmacia Edisi Mei 2007 , Halaman: 12 (1631 hits)

Posted by: Kurnia | May 2, 2009

Dokter : Mengobati atau Berbisnis

Tribun Jabar, 4 Desember 2008
Dokter: Mengobati atau Berbisnis?
Billy N.

Dalam rubrik surat pembaca berbagai media cetak, sering dimuat surat-surat yang mengeluhkan kurang baiknya pelayanan yang diberikan dokter kepada pasien. Sebenarnya, apa yang terjadi pada profesi dokter di Indonesia akhir-akhir ini?
Dokter adalah profesi yang luhur dan mulia, sehingga di masa lalu dokterdianggap “separuh dewa” oleh masyarakat dan memiliki prestise tinggi. Namun, sepertinya keluhuran dan kemuliaan profesi dokter mengalami desakralisasi dengan banyaknya keluhan ketidakpuasan di media massa sampai tuntutan hukum yang menjerat dokter.
Salah satu hal yang paling sering dikeluhkan oleh masyarakat mengenai pelayanan dokter adalah cap materialis. Biasanya dialamatkan pada dokter yang menetapkan biaya pemeriksaan/tindakan medis yang mahal dan berkepanjangan atau harga obat yang mahal. Dokter pun sering dianggap kurang peka, sombong, atau terkesan melecehkan pasien akibat buruknya komunikasi dokter dengan pasiennya.
Dengan banyaknya keluhan tersebut, banyak pasien memilih untuk berobat ke luar negeri dengan harapan mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik. Peluang ini dimanfaatkan oleh beberapa orang dokter dengan menjadi bawahan jasa rumah sakit di luar negeri dengan menjadi agennya di Indonesia.
Banyak pula dari masyarakat yang merasa sudah kehilangan kepercayaan terhadap dokter, sehingga beralih ke berbagai metode pengobatan alternatif dan suplemen makanan, baik yang asli Indonesia maupun dari luar negeri. Namun, banyak dokter juga memanfaatkan peluang ini dengan menjadi praktisi pengobatan alternatif atau aktif menjadi pemasar berbagai produk suplemen makanan.
Memang masih banyak dokter yang berusaha berkarya sesuai tuntunan etika, hukum, dan ilmu pengetahuan, namun berbagai penyimpangan tersebut membuat profesi dokter di Indonesia mendapatkan sorotan dari masyarakat sehingga mengalami penurunan kepercayaan.
Hubungan dokter-pasien adalah hubungan pengobatan berbasis kepercayaan, bukan seperti hubungan bisnis antara penjual-pembeli. Namun, dengan berkembangnya zaman, sepertinya hubungan tersebut mulai bergeser menjadi hubungan bisnis.
Sehingga, timbul kecurigaan dokter yang berkolusi dengan perusahaan farmasi, alat kesehatan, laboratorium, atau rumah sakit dengan imbalan yang telah banyak diungkap oleh berbagai kalangan sejak dahulu. Kolusi yang sebenarnya terlarang menurut etika profesi tersebut menjadi hal yang umum dilakukan oleh dokter.
Lebih jauh lagi, banyak dokter mencoba peruntungannya dengan menjual barang dan jasa pengobatan alternatif maupun suplemen makanan dan multi level marketing (MLM) kesehatan. Meskipun sebenarnya semua itu adalah kembali lagi merupakan pelanggaran etika, disiplin profesi, dan hukum dengan memberikan pengobatan yang tidak sesuai standar pelayanan, tidak memiliki bukti cukup secara ilmiah, serta tidak menggunakan kendali mutu atau biaya.
Profesi dokter yang seharusnya bertujuan mulia untuk memberikan pelayanan kesehatan telah berubah dan kehilangan independensinya menjadi suatu profesi menjual barang dan jasa kesehatan semata demi mendapatkan lebih banyak uang.
Jika semua hal ini dibiarkan, maka selain turunnya kepercayaan masyarakat pada dokter Indonesia, juga akan membuat profesi dokter menjadi profesi bisnis yang sebenarnya tidak boleh terjadi karena sudah bertentangan dengan keluhuran profesi dokter.
Sudah saatnya hal ini dibereskan agar kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap profesi dokter dapat kembali tinggi. Turunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap dokter di Indonesia itu sama sekali bukan karena alat-alat kedokteran di Indonesia kalah canggih dengan yang ada di luar negeri.
Yang menjadi masalah adalah mentalitas dokter yang ingin berbisnis melalui profesinya. Hak dokter secara finansial dalam profesinya hanyalah imbalan jasa medik, bukan komisi dari hasil kolusi dengan perusahaan farmasi, keuntungan dari penjualan alat kesehatan, suplemen makanan, atau praktik pengobatan alternatif.
Untuk itu, pemerintah harus meningkatkan pengawasan dan penegakkan hukum dalam pelayanan kesehatan. Juga menekan biaya pendidikan dokter yang sekarang dirasakan sangat mahal sehingga membuat banyak dokter menjadi cenderung materialistis untuk mengembalikan biaya kuliahnya.
Ikatan profesi dokter harus memberikan pembinaan, pengawasan, dan penegakkan disiplin maupun etika agar para dokter bekerja sesuai kode etik dan standar profesi. Masyarakat pun harus kritis terhadap praktik para dokter.
Sudah saatnya dokter Indonesia kembali ke panggilan yang luhur dan mulia dari profesinya dengan tidak menjadikannya sebagai bisnis semata. Indonesia terus menanti kiprah para dokter yang memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan melindungi masyarakat.

Older Posts »

Categories