Posted by: Kurnia | April 23, 2009

Gizi Anak, Tak Kurang Tak Lebih

Terkait dengan Kebesaran itu Menurun

========================

Rabu, 15 April 2009 | 08:57 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sebut saja namanya Tina, 4 tahun. Ia mempunyai kakak berusia enam tahun, kita sebut saja Linda. Ibunya terkenal karena sering membantu orang melahirkan alias bidan, sedangkan ayahnya seorang pendidik alias dosen. Meski kakak-adik, tak ada kemiripan di antara keduanya. Linda berbadan sintal, berambut hitam lebat, dan terlihat segar, sedangkan Tina, meski wajahnya bulat, tampak tak segar ditambah rambutnya sedikit dan kemerahan.

Titik perbedaan itu dipicu oleh pola makan yang berbeda. Sehari-hari selera makan Tina rendah. Ibu, ayah, dan pembantunya tidak dapat mendongkrak asupan makanan sehari-harinya. Mungkin karena kesibukan sehari-hari, pasangan ini akhirnya tak lagi memikirkan cara baru selama anaknya tak sakit. Namun, kejutan pun datang ketika Tina mengalami demam. Bukan demamnya yang bermasalah, namun dokter menemukan bahwa bocah balita ini tergolong kurang gizi. Sebuah tamparan bagi orang tua, terutama sang mama.

Pakar gizi dan pangan dari Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Ali Khomsan, MS, memang mengemukakan, diabaikannya pola makan si anak dapat mengganggu pemenuhan gizinya. “Contoh kasus tadi berkorelasi terhadap malnutrisi yang menimpa anak-anak balita di kota besar,” ujarnya kepada Tempo saat dihubungi melalui telepon selulernya, Minggu malam lalu. Artinya, walaupun landasan gizi buruk adalah kemiskinan, tidak tertutup risiko bagi anak orang kaya terserang malnutrisi.

Ada banyak contoh kasus, di antaranya, Ali menyebutkan, ada pengasuh yang memberikan biskuit dengan kandungan monosodium glutamat kepada anak. Alasannya, untuk memancing si anak agar mau makan. Padahal sebaliknya, rasa gurih yang ada dalam makanan itu akan memberi stimulasi pola makan yang tidak sehat. Sebab, rasa gurih yang ada dalam biskuit tidak ditemukan di makanan sayur, nasi, ataupun buah. “Ini yang membuat anak menjadi malas makan.”

Dalam Media Workshop Nestle Indonesia di Jakarta beberapa waktu yang lalu, Ali juga menyebutkan, anak di bawah lima tahun merupakan kelompok yang berisiko terbesar mengalami kekurangan gizi. Sebab, pada usia ini, anak-anak membutuhkan sejumlah besar kalori dan zat gizi lain untuk pertumbuhannya. Di samping itu, kemampuan saluran pencernaannya masih terbatas dan kebutuhan gizi per berat badan juga begitu tinggi.

Menurut dia, paling tidak anak balita harus memenuhi angka kecukupan gizi. Asupan protein ideal per hari adalah 1,1 gram per kilogram berat badan. Sedangkan asupan kalori harus mencapai 1.000 kalori per hari. Kekurangan asupan protein dan kalori bisa menyebabkan terjadinya kekurangan energi protein (KEP). “Ini adalah bentuk malnutrisi kategori berat,” ujar profesor beranak dua ini.

Secara fisik, ia menyebutkan, anak yang kekurangan energi protein bisa terlihat. Ada dua kondisi terkena KEP. Pertama marasmus (kurang energi), yang ditandai dengan oedema kaki dan moon face–muka agak bengkak dan rambut pirang. Sedangkan yang lebih parah disebut kwashiorkor (kurang protein plus energi), dengan ciri otot mengecil, tua, serta monkey face–keriput dan kurus.

Yang terjadi pada kelas ekonomi menengah kemungkinan tidak tergolong pada kategori berat seperti di atas. Apalagi Ali menyebutkan, sebetulnya malnutrisi itu dapat terjadi bukan karena kekurangan gizi saja. Penyimpangan makan yang mengakibatkan kelebihan gizi juga masuk dalam kategori malnutrisi. Sejumlah anak di kota besar diberi asupan berlebihan karena orang tua ingin membuat anaknya supersehat.

Prinsipnya, malnutrisi disebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan tubuh dan asupan zat gizi esensial. Hal ini sering terjadi di kota-kota besar karena orang tua sibuk dengan pekerjaan dan menyerahkan anak kepada orang lain. Di sisi lain, banyak juga dari mereka yang tidak telaten dalam mengatur pola makan sang buah hati. “Mereka cenderung tidak sabar dan tidak memahami sifat tumbuh kembang anak.”

Adapun ciri anak pengidap malnutrisi, dijelaskan Ali, umumnya rambutnya kemerahan dan jarang-jarang. Lalu perutnya buncit, otot-ototnya mengerut, cengeng (mudah menangis), tidak nafsu makan, lesu, tekstur mukanya bulat, dan sensitif terhadap penyakit. Selain itu, bisa dilihat dari berat dan tinggi badannya yang tidak sesuai dengan usianya. Perbandingan berat dan tinggi anak menurut usia adalah representasi ukuran malnutrisi energi protein.

Pada tahapan tertentu, malnutrisi dapat menyebabkan jumlah sel, berat otak, dan zat biokimia lain pada anak mengalami gangguan. Dalam versi Ali, hal ini terjadi jika pada rentang waktu satu tahun hingga dua tahun si anak dibiarkan dalam kondisi kekurangan gizi. “Jangka panjangnya adalah bisa mempengaruhi prestasi si anak di bangku sekolah dasar,” ujar profesor ramah ini. Malah ada sejumlah penelitian yang mengungkapkan bahwa tingkat kecerdasan anak yang pernah mengalami gizi buruk lebih rendah ketimbang anak normal.

Umumnya, pada tataran puskesmas, tata laksana bagi anak dengan gizi buruk akan dirawat selama tiga bulan. Di sana mereka diberi makan spesial berupa bubur susu atau makanan yang mudah dicerna si anak. Selain itu, kata Ali, tindakan medis lain dibutuhkan dalam penanganannya. “Yang terpenting adalah bagaimana memulihkan kembali mereka ke kondisi normal.”

Hanya selama ini, menurut Ali, pemerintah lebih fokus pada penanganan anak gizi buruk. Data 2007 menyebutkan, gizi buruk mencakup 700 ribu anak, sedangkan penderita gizi kurang sekitar 4 juta. “Nah, yang 4 juta ini, bila tidak atau kurang ditangani, akan menjadi gizi buruk juga.”

Sedangkan menurut data nasional yang dirilis organisasi independen, Save The Children, terdapat 18,4 persen anak di bawah lima tahun mengalami kekurangan berat badan. Dan angka pertumbuhan di bawah normal sebesar 36,8 persen–yang merupakan indikator adanya kekurangan nutrisi kronis.

RITA | HERU TRIYONO

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: