Posted by: Kurnia | March 31, 2011

Tips Melancarkan ASI

Asi eksklusif tanpa pendamping ASI disarankan untuk diberikan kepada bayi hingga berusia enam bulan. Tetapi tidak sedikit Bunda yang kecewa karena ternyata ASI tidak selancar seperti yang diharapkan.

 

Menjelang kehamilan, tubuh Bunda secara alami akan mempersiapkan diri untuk menyusui. Anda pun tidak perlu memberi perawatan ekstra. Namun jika kulit Bunda tergolong sensitif atau puting tidak bisa keluar dan tersembunyi dalam payudara, maka Bunda mau tak mau harus melakukan sesuatu agar si calon bayi tidak kesulitan meminum ASI dari payudara.

 

Berikut adalah tips yang dapat dilakukan Bunda agar ASI tetap lancar, sehingga kebutuhan bagi bayi dapat terus terpenuhi:

Perbanyak konsumsi sayur-sayuran hijau, seperti daun pepaya, bayam, dan kacang-kacangan. Daun katuk juga dipercaya dapat memperlancar ASI, bahkan saat ini sudah banyak tersedia tablet ekstrak daun katuk untuk mempermudah dalam mengkonsumsinya.

Minum susu untuk Ibu menyusui, karena Ibu menyusui memerlukan kalsium yang terkadung dalam susu untuk memproduksi ASI.

Jika Ibu sering menyusi bayi, maka akan merangsang keluarnya ASI. Untuk itu sampai bayi berusia 6 bulan sebaiknya terus berikan ASI.

Perbanyaklah minum air putih selama menyusui. Banyak minum air putih cukup membantu untuk memperbanyak ASI.

Beri pijatan lembut dan beberapa tetes kolustrum pada bagian puting setiap harinya. Mulailah beberapa minggu sebelum Anda melahirkan.

Berikan krim lanolin pada daerah di sekitar puting, lakukan beberapa kali setiap harinya untuk menenangkan daerah payudara yang terasa sakit dan melembutkan kulit setelah mulai menyusui.

Usahakan agar penutup bra yang Anda gunakan khusus menyusui (nursing bra) tetap terbuka agar payudara Anda mendapat udara dan oksigen yang cukup.

Jika Anda mempunyai masalah dengan puting yang masuk ke dalam payudara atau puting Anda tidak keluar menjelang melahirkan, konsultasikanlah dengan ahli laktasi.

Ikuti grup-grup menyusui menjelang kehamilan Anda untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang masa-masa menyusui atau pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan sebelum melahirkan.

Dapatkan buku yang bagus tentang menyusui dan bacalah menjelang kelahiran sehingga Anda akan mendapatkan informasi yang dibutuhkan ketika anak Anda lahir.

Dari berbagai sumber

Copy paste from http://www.sayyestoasi.com

Posted by: Kurnia | March 25, 2011

Menyapih dengan Cinta

MENYAPIH DENGAN CINTA
(WEANING WITH LOVE)
 
Ditulis bebas & dirangkum dari berbagai sumber (Lalecheleague, WHO, breastfeeding.com) oleh Luluk Lely Soraya Ichwan
 
Menyapih
Sering jadi pertanyaan banyak orang tua “Kapan sih usia yang tepat untuk menyapih anak dari masa menyusu pada ibunya ?” Kemudian bagaimana cara menyapih yg terbaik ? Sebetulnya apa sih yang dimaksud dg kata “menyapih” itu sendiri ?
 
Menyapih adalah suatu proses berhentinya masa menyusui secara berangsur-angsur atau sekaligus. Proses tsb dapat disebabkan oleh berhentinya sang anak dari menyusu pada ibunya. Atau bisa juga berhentinya sang ibu untuk menyusui anaknya.
 
Atau bisa juga keduanya. Jadi bisa dg berbagai alasan. Masa menyapih ini merupakan pengalaman emosional bagi sang ibu, anak juga sang ayah. Karena 3 pihak tadi (Ibu-Ayah-Anak) merupakan ikatan kesatuan yg gak boleh dilupakan. Kenapa ayah juga terlibat ? Karena ayah juga berperan dan memberikan pengaruh tersendiri dalam proses menyusui. 
 
Kapan anak harus disapih
 
Banyak yg bertanya juga kapan sebaiknya anak disapih dari ibunya, atau kapan waktu yang tepat untuk menyapih.
Sebetulnya tidak ada ketentuan khusus atau batasan khusus kapan anak harus disapih.
 
Jadi tidak ada aturan bahwa pada umur sekian anak harus disapih dari ibunya.
Menurut WHO, masa pemberian ASI diberikan secara eksklusif 6 bulan pertama, kemudian dianjurkan tetap diberikan setelah 6 bulan berdampingan dg makanan tambahan hingga umur 2 th atau LEBIH. Jadi tidak ada batasan di umur berapa. Ini artinya tidak ada aturan bahwa pas pada umur 2 th anak harus disapih dari ibunya.
 
Banyak orang tua menyapih anaknya pada umur 1 th-2th, ada juga yg umur 3 tahun anaknya baru disapih bahkan ada juga yg umur 4 th.
 
ASI > 1th tidak bergizi ?
Sampai kapan proses / masa menyusui dapat dilanjutkan ?
Jawabannya : Selama ketiga pihak (ibu-anak-ayah) masih menginginkan.
Itu artinya jika sang ibu / sang anak / sang ayah sudah tidak menginginkan, maka proses menyapih dapat dilakukan.
Misalnya, sang ibu punya deadine (batas waktu) tersendiri bahwa pada umur sekian si anak harus disapih tetapi sang ibu masih enjoy & sang anak juga masih menginginkan, maka tidak perlu disapih. Intinya, pilih timing yg paling nyaman untuk semua pihak.
 
Sering ada anggapan bahwa ASI itu sudah jelek kalo anak sudah berusia 1 th ke atas ? Nah apalagi jika anak berusia 2 th, betulkah ini?
Opini bahwa ASI itu jelek > 1 th ternyata sama sekali tidak benar.
 
ASI tetap kaya akan nutrisi. Menurut penelitian Dewey KG dalam artikel “Nutrition, Growth, and Complementary Feeding of the Breastfed Infant”. Pediatric Clinics of North American. February 2001;48(1)), bahwa ASI > 1 th kaya akan nutrisi :
“In the second year (12-23 months), ASI mengandung :43% of protein requirements; 36% of calcium requirements; 75% of vitamin A requirements; 60% of vitamin C requirements”.
Ini belum termasuk zat anti infeksi/anti kuman yg tetap dan selalu ada dalam ASI yg manfaatnya sangat luarbiasa untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit.
Jadi tidak pernah ada istilah ASI jelek.
Kandungan gizi ASI itu sangat fleksibel sesuai kebutuhan sang anak.
Komposisinya tidak pernah sama dan selalu berubah bahkan tiap menit.
Ini berbeda sama sekali dg kandungan susu formula yg itu-itu saja.
 
Sampai saat ini banyak anggapan bahwa jika anak disusui terus nantinya anak susah disapihnya. Atau banyak juga yg menganggap anak akan jadi tidak mandiri.
Benarkah hal ini ? Hingga saat ini tidak ada / belum ada penelitian khusus yg membuktikan bahwa ada hubungan antara usia anak disapih dg kemandirian anak. Kenyataan yang ada sering sekali orang merancukan / mencampuradukkan kedekatan orang tua dg si anak,dengan manja atau kurang mandiri. Apakah kedekatan dengan orang tua sama dengan manja? Belum tentu kan ? Bukankah secara psikologis pada usia tsb anak justru memang membutuhkan kedekatan yg bagus dg orangtuanya. Sementara itu banyak sekali anak yang disapih di usia >1 atau 2 th tetap menjadi anak yang mandiri. Jadi kembalikan lagi ke definisi mandiri itu bagaimana.
 
Cara terbaik menyapih anak
 Cara menyapih yg baik & tepat.
Tidak ada cara khusus dalam menyapih.
Beberapa ahli laktasi memberikan tips-tips agar proses menyapih berjalan dg baik :
 Lakukan proses menyapih secara perlahan.
 Mis. Mengurangi secara bertahap frekuensi menyusu. Biasanya 4 x sehari maka secara perlahan diubah 3 x sehari terus hingga akhirnya berhenti.
 
2.  Alihkan perhatian anak / sibukkan anak dg hal lain.
Bisa dg membacakan buku ke anak, bermain, bernyanyi, dsb. Hingga anak  melupakan saat menyusu.
 
3. Kunci utama : Bina komunikasi yang baik dg anak.
 Ingat, seberapa kecil usia anak, anak tetap mengerti dan memiliki kemampuan utk mengerti kata2 dari orang di lingkungannya.
 
4. Hindari menyapih saat anak sedang tidak sehat atau sedang sedih, kesal, marah.
 
5. Hindari menyapih anak dari menyusu ke benda lain spt empeng, botol susu, bantal, dsb.
 Biasanya disini peran ayah sangat dibutuhkan sbg figur yang melengkapi sang ibu. Sekali lagi bina komunikasi yg baik dg anak. 
 
6. Hindari menyapih secara mendadak/langsung. 
 
7. Terakhir, KOMUNIKASI, komunikasi dan komunikasi.
 
Ajaklah anak berkomunikasi dan berdiskusi. Jelaskan dg baik alasan dan langkah menyapih yg akan dilakukan.
Apalagi tanpa komunikasi apapun dg si anak. Ini dapat menyakitkan hati sang anak.
Jangan sampai anak merasa bahwa dg manyapih sang ibu membencinya, dsb.
Pemberian jamu pahit, memaksa anak utk tidak menyusu pada ibunya, dsbnya dapat merusak bonding atau ikatan batin yg terbentuk sejauh ini dalam proses menyusui. Amat sangat disayangkan jika hal ini terjadi. Karena ikatan indah tsb ternodai akibat proses menyapih secara mendadak tadi.
 
Jika proses penyapihan dilakukan dg baik, maka anak2 kita akan tumbuh menjadi anak yg cerdas, sehat dan berakhlak baik.  Karena sang ibu mendidiknya melalui masa menyusui dan masa menyapih dg cinta.
 
(Luluk Lely Soraya I adalah seorang ibu dari seorang putri, pemerhati masalah ASI & kesehatan keluarga, Lactivist, dan narasumber rubrik OASE di RAS FM 95.5 tiap sabtu pkl 9-10 pagi).
 
Sumber artikel : WHO. 2004. ”Infant Feeding in emergencies : A guide for mothers” (www.who.int)  Kelly Bonyata, BS, IBCLC ”Extended Breastfeeding Fact Sheet” (http://www.kellymom.com/bf/bfextended/ebf-benefits.html)Jack Newman, MD, FRCPC. ”Breastfeed a Toddler—Why on Earth? ” (http://www.kellymom.com/newman/bf_toddler_01-03.html) Lalecheleague International, ”What are the benefits of breastfeeding my toddler?” (http://www.lalecheleague.org/FAQ/advantagetoddler.html)

Posted by: Kurnia | March 25, 2011

ASI di Tahun Kedua Tetap yang Terbaik

Oleh : Irma Handayani
sumber: http://edumuslim.org/index.php?option=article&article_rf=141
 
Ternyata masih banyak ibu yang meragukan kehebatan ASInya setelah usia sang bayi > 1 tahun. Sekalipun di kalangan ibu-ibu well-educated banyak loh yang percaya dengan mitos bahwa ASI setelah 1 tahun sudah jelek. Belum lagi gempuran dari iklan susu formula yang begitu gencar. Ada susu A 1+, ada susu B 1,2,3 dan sebagainya yang diperuntukkan untuk anak-anak di atas usia 1 tahun.
 
Lihat saja betapa pintar dan lucunya si 1 tahun yang ditampilkan dalam iklan produk-produk susu tersebut, membuat para ibu tidak percaya diri dengan ASI-nya dan memilih beralih atau menambah-nya dengan susu formula.
 
Di tahun kedua walaupun sudah tidak menjadi makanan utama bagi bayi, ASI tetaplah yang terbaik di antara seribu satu macam susu formula. Tidak percaya?? , coba simak artikel keren di bawah ini dari hanyawanita.com :
 
Manfaat Besar ASI di Tahun Kedua
 
Anda sukses menyusui eksklusif untuk buah hati selama enam bulan dan meneruskannya hingga si kecil berusia satu tahun. Setelah itu Anda merasa cukup dan akan menyapihnya alias menggantikan ASI dengan susu formula. Sebaiknya tunda dulu keinginan ini karena pemberian ASI di tahun kedua kehidupan bayi memberi manfaat ekstra.
 
Saat menginjak tahun kedua, kemampuan bayi berkembang, seperti merangkak atau belajar berjalan dan memasukkan segala sesuatu ke mulutnya. Akibatnya, bayi akan mudah mengalami infeksi penyakit. Makanya, disarankan ibu tetap menyusui bayi setelah ulang tahunnya yang pertama untuk mempertahankan kekebalan tubuhnya terhadap serangan virus dan bakteri penyebab penyakit.
 
UNICEF merekomendasikan selain pemberian makanan bergizi seimbang dan imunisasi, bayi usia 12-24 bulan disusui sesering mungkin. Tentu ada alasan kuat kenapa para ibu diimbau untuk menyusui bayinya memasuki tahun kedua. Berikut manfaatnya:
 
1. ASI di tahun kedua kandungan faktor imunitasnya meningkat
 
Penelitian menyebutkan zat antibodi tersedia dalam jumlah besar pada ASI selama masa menyusui. Tapi ternyata sebagian faktor kekebalan dalam ASI konsentrasinya meningkat selama tahun kedua dan selama proses penyapihan (weaning).
 
2. Pemberian ASI setelah bayi 6 bulan cegah risiko alergi dan asma
 
Salah satu cara terbaik mencegah alergi dan asma adalah menyusui eksklusif selama enam bulan dan meneruskannya hingga si kecil berusia 2 tahun. Memperpanjang pemberian ASI berarti menunda selama mungkin bayi bersinggungan dengan zat penyebab alergi. ASI sendiri membantu mempercepat pematangan lapisan pelindung dalam usus bayi, melapisi usus bayi dan menghalangi masuknya molekul penyebab alergi ke dalam darah bayi serta memberi perlindungan antiradang sehingga menekan risiko infeksi pemicu alergi
 
3. ASI perkecil risiko sakit anak usia 16-30 bulan
 
American Academy of Family Physicians melihat anak-anak yang disapih sebelum usia dua tahun meningkat risikonya (AAFP 2001). Penelitian lain menyebutkan anak usia 16-30 bulan yang disusui lebih jarang sakit, kalaupun sakit maka sakitnya lebih singkat dibanding anak sebaya yang tidak disusui
 
4. ASI dibutuhkan anak yang sakit
 
UNICEF merekomendasikan anak di bawah tiga tahun yang sakit agar diberi ASI, karena ASI merupakan makanan bergizi yang paling mudah dicerna saat si kecil kehilangan nafsu makan
 
5. ASI di tahun kedua lebih kaya nutrisi
 
Penelitian dr. Dror Mandel, dkk, menyatakan ASI dari ibu yang menyusui lebih dari satu tahun kandungan lemak dan energinya meningkat dibanding ASI dari ibu yang menyusui lebih singkat
 
6. ASI di tahun kedua sumber lemak dan vitamin A tak tergantikan
 
Berdasar penelitian Adelheid W. Onyango dkk menyimpulkan ASI merupakan sumber lemak dan vitamin A yang tak tergantikan oleh makanan sapihan apapun
 
Nah, makin mantap kan memberi ASI hingga buah hati berusia 2 tahun?
 
Dan biar lebih mantap lagi, ini kusertakan kandungan ASI ditahun kedua yang dikutip dari tulisan Mbak Luluk di blog pribadinya. Pada tahun kedua (12-23 bulan) setiap 448 ml ASI memenuhi kebutuhan anak :
 
* 29% dari kebutuhan energinya
* 43% dari kebutuhan proteinnya
* 36% dari kebutuhan kalsiumnya
* 75% dari kebutuhan vitamin A
* 76% dari kebutuhan folatnya
* 94% dari kebutuhan vitamin B-12
* 60% dari kebutuhan vitamin C
 
So…,
 
Keep Breastfeeding
 
Keep Pumping
 
Keep Expressing

Posted by: Kurnia | March 25, 2011

Bunga Rampai Kesehatan – Jadilah Pasien yang Smart

Ada beberapa isu yang saya anggap perlu bolak-balik kita renungkan
 
1. KAPAN HARUS KE DOKTER
Suatu hari, seorang DSA senior ngobrol sama suster di sebuah klinik “gimana pasien? kayaknya berkurang ya”
Suster: “iya nih dok”
Dokter: “tapi gak cuma disini aja kok. di RS… H (D…) juga. Pasien sekarang kayaknya dah pada pinter, gak gampangan ke dokter”
Susternya cerita sama saya, mesem aja saya. Semoga, Amiin…
 
Tahukah kalian, kelihatannya sepele mungkin di mata kalian, wong uang gak masalah, wong diganti kantor/asuransi, wong panik, dst dst sejuta alasan lain. Tetapi, tahukah kalian, apabila semakin banyak SP yang bijak dan erdas, at least pasien akan berkurang 50% (apalagi kalau ditambah dengan pasien yang imunisasinya di dokter umum atau bidan), bisa2 DSA bener hanya menangani 30% dari jumlah pasien sekarang sehingga kalau pasien gak mbludak, kan kualitas layanan bisa lebih baik, komunikasi bisa lebih mantap. Buat apa sih kedokter tapi gak bisa komunikasi seperti yg belakangan banyak di share di milis
 
2. KEJELASAN DIAGNOSIS
banyak sekali email menceritakan: “akhirnya” ke dokter,  dikasih obat (nah ada yang obatnya jelas ada yg sepotong-sepotong dengan alas an gak bisa baca tulisan dokter), obatnya belum ditebus.  Perlu gak?”
Ada dua hal yang perlu kita kritisi:
 
 a. Jumping!
Maksudnya? mind set kita (sadar atau tak sadar), sakit means butuh obat. Padahal kan tergantung sakitnya. Bukan anti obat, bukan antibiotik, tapi mari kita tangani sesuai guideline nya, sesuai EBMnya
Kalau guideline nya gak nyebut obat, ya berarti solusinya bukan di obat. Di lain sisi, bagaimana kita bisa menangani gangguan kesehatan secara rasional kalau kita gak tahu diagnosisnya, gak pernah dibaca guidelinenya.
 
b. Diagnosis
 Tidak sedikit email yang langsung jumping ke obat tanpa menyebutkan diagnosisnya. Nah, seharusnya kita lebih bijak dan cerdas ya di masa mendatang. Tanya dulu dong diagnosisnya apa, tanya dulu dong tujuan terapi nya apa (objective of the treatment), tanya dulu dong apa pilihan terapinya (terapi ada 5 bentuk, pemberian obat hanya salah satu bentuk terapi).
Tak sedikit juga email yang mencantumkan diagnosis tetapi dengan bahasa tak jelas.  Misalnya: ususnya luka, ini kan misleading banget. Coba kalau kita mau browsing, apa key wordsnya untuk usus luka. Atau  gangguan pencernaan (padahal anaknya gak diare kronis), atau gejala maag, dst dst.
Nah, ketika ke dokter dinyatakan sakit A atau B atau C, tanyakan istilah medisnya (kalau susah di telinga kita, minta ditulis). Jadi, kita bisa cari informasi menyeluruh dan obyektif
 
3. TERAPI
Mari kita bolak balik mengingatkan diri sendiri bahwa ada 5 bentuk terapi sesuai panduan WHO
a. Advice and information
b. Non drug therapy
c. Drug therapy
d. Referral (dirujuk)
e. Kombinasi
 
Jadi, jangan memvonis bahwa sakit = obat. Kedua, kalau diberi resep obat, masih banyak yang ditebus tapi belum diberikan.  Kelihatannya sepele (wong uangnya dari asuransi/kantor). Tapi tahukah kalian bahwa dengan penebusan resep itu, kalian tak membantu iklim layanan kesehatan untuk menjadi lebih rasional wong pemasukan jalan terus. Ketika kalian tak membeli obatnya, maka pemasukan bisa berkurang (siapa tahu berkurangnya 50%). Ini kan membuat banyak pihak merenung: “Oh ternyata masarakat Indonesia sudah semakin bijak. Berarti, pola layanan kesehatan juga mesti di tata ulang”
 
4. RESEP
 Ada dua hal yang mengganjel buat saya:
a. Saya belum melihat kalian menanyakan baris per baris obat yang diberikan oleh dokter.  Kalau kalian lakukan itu, hitung2an bodo, 10% saja parents menanyakan itu, dokter pun lantas berpikir: “buat apa ya kasih resep panjang2, malah buang waktu ditanya macem2”
b. Masih sedikit dari kalian yang mnta apotek menulis ulang resep dengan huruf cetak. Coba deh, jadi kan jelas buat kalian obatnya apa, bisa browsing. Selain itu, ini maknanya dalem lho. TRANSPARANSI kan salah satu ciri layanan kesehatan yang rasional, bukan hanya etis dan kompeten tetapi juga transparan, accountable, dapat diukur
 
5. BE SMARTER BE HEALTHIER
Suatu hari di seminar vaksin, saat makan siang, pembicara utama ngobrol dengan seorang DSA: “Pasien sekarang pinter-pinter lho, dateng tuh bawa artikel, apalagi soal antibiotik”.
Minggu lalu ada seminar peningkatan pengetahuan berkala buat para dokter. Salah satu topic, EBM, pembicaranya bilang: “salah satu alasan mengapa kita (dokter) harus belajar EBM adalah karena pasien2 kita sekarang semakin cerdas, datang bawa artikel, kan kita mesti bisa nerangin dan mesti bisa jawab”.
Salah satu meeting dokter anak , salah satu peserta bilang: “kita harus menulis tetang pentingnya komunikasi pasien dengan dokter serta menulis pentingnya informed consent”.
Salah satu komentar di rapat imunisasi para dokter: “jadi kita nih mesti gimana? Kan gak enak kalau pasiennya lebih pinter dari kita. Dah baca artikel dah bisa diskusi sama kita?! Kasih panduan dong”.
 
Salah satu inti dari konsep EBM adalah melibatkan pasien secara aktif  dalam pengambilan keputusan. Kedua, menghargai keinginan/aspirasi pasien. Nah, hayooo baca dan belajar. Hayo buka arsip milis. Biasakan print artikelnya dan bawa ke dokter, diskusikan bagian-bagian yang tak kalian pahami.
 
 
Ok sementara segini dulu yaaa, jangan lupa di arsip ya resep2nya, di fotokopi dong please (selain yang ditulis ulang apotekernya, aslinya juga difotokopi ya)
Have a nice week end.
dr. Purnamawati SpAK, MMPed
 
sumber: milis sehat

WHO
Antimicrobial resistance is not a new problem but one that is becoming more dangerous; urgent and consolidated efforts are needed to avoid regressing to the pre-antibiotic era.
On World Health Day 2011, WHO will introduce a six-point policy package to combat the spread of antimicrobial resistance.
Antimicrobial resistance and its global spread
We live in an era in which we depend on antibiotics, and other antimicrobial medicines to treat conditions that decades ago, or even a few years ago in the case of HIV/AIDS, would have proved fatal. When antimicrobial resistance – also known as drug resistance – occurs, it renders these medicines ineffective. For World Health Day 2011, WHO will be calling for intensified global commitment to safeguard these medicines for future generations. Antimicrobial resistance – the theme of World Health Day 2011 – and its global spread, threatens the continued effectiveness of many medicines used today to treat infectious diseases.
For World Health Day 2011, WHO will call on governments and stakeholders to implement the policies and practices needed to prevent and counter the emergence of highly resistant microorganisms

Posted by: Kurnia | March 25, 2011

Kenali Muntah pada Anak

Selain batuk, pilek dan demam, gejala penyakit lain yang sering mampir pada anak-anak adalah muntah dan diare. Semua ini gejala ya moms, belum penyakit. Tapi bisa jadi itu adalah pertanda dari suatu penyakit yang lebih kompleks.
 
 
Demam adalah gejala yang paling umum karena demam timbul sebagai mekanisme pertahanan melawan penyakit dan pertanda bahwa ada bibit penyakit yang sedang dilawan tubuh. Jadi kalau demam solusinya bukan seberapa cepat demam turun = sembuh, tapi harus dicari lagi apa yang menyebabkan timbulnya demam. Demikian pula batuk pilek yang menjadi gejala penyakit ISPA (infeksi saluran pernafasan atas) dan muntah/diare yang menjadi gejala penyakit yang berhubungan dengan pencernaan.
 
 
Pada muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi, muntah/diare bekerja sebagai mekanisme tubuh untuk mengeluarkan racun/penyakit. Karena itu memberhentikannya sebelum racun sepenuhnya bersih malah membahayakan. Racun jadi tidak punya jalan keluar dari tubuh secara cepat.
 
 
Yang perlu diperhatikan hanya menjaga supaya bayi/anak tidak mengalami dehidrasi karena terlalu banyak cairan yang kelur dibanding yang masuk. Perlu diketahui juga, bayi dan anak kecil lebih cepat mengalami dehidrasi karena kandungan air dalam tubuhnya lebih sedikit. Waspadai juga anak yang sehari-harinya lebih banyak minum susu ketimbang makanan padat. Mereka lebih cepat dehidrasi ketimbang anak yang pola makannya bagus, dan dehidrasinya cenderung lebih fatal.
 
 
 Walaupun umumnya demikian, belum tentu lho muntah atau diare itu penyebabnya kuman penyakit. Bisa juga dari makanan (makanan basi, terlalu pedas, terlalu asam, dll), atau kondisi fisiologis.Pada bayi di bawah 6 bulan, muntah (dan gumoh) kebanyakan disebabkan karena belum berkembangnya organ pencernaan. Ini akan mulai berkurang saat bayi mulai menginjak 4 bulan, dan tinggal 5% bayi 12 bulan yang masih mengalaminya. 
 
 
Beberapa anak lebih mudah muntah ketimbang anak lain. Darris, anak pertama saya contohnya. Di masa bayinya, saat bayi lain gumoh satu dua sendok makan, dia muntah sekitar setengah cangkir atau lebih. Memang nggak setiap habis menyusu dia muntah sih, tapi cukup sering. Dalam dua hari pasti minimal ada sekali muntahnya. Apalagi setelah saya lihat dua adiknya yang muntahnya bisa dibilang hanya ketika perutnya lagi nggak enak. Kondisi ini membaik seiring waktu, terutama sejak menginjak usia 3 tahun. Tapi dibanding yang nggak ‘bakat’, dia masih lebih gampang muntah. Misalnya pas menyuap makan terlalu banyak, dia bisa langsung muntah sementara Dellynn atau Devan cuman ‘huek’ tapi ngga sampai muntah.
 
 
Saat mulai belajar makan dan berkenalan dengan tekstur dan rasa, kadang bayi juga jadi lebih sering muntah. Ini biasanya berhubungan dengan kemampuan menelan, atau rasa dan tekstur yang kurang cocok. Pastikan MPASI dimulai dari satu macam rasa dahulu. Tekstur juga usahakan dari yang sangat cair dahulu, baru kemudian dikentalkan secara bertahap. Saat bayi mulai menguasai cara menelan, bisa mulai dikenalkan jenis makanan yang lebih padat.
 
 
Muntah juga bisa berhubungan dengan pilek dan batuk. Saat anak batuk pilek, paru-paru akan memproduksi lendir berlebih untuk membersihkan paru dan saluran nafas dari gangguan. Lendir ini kemudian naik dan terbuang melalui saluran pencernaan, baik langsung keluar jadi muntah, atau tertelan dan terbuang bersama BAB. Bedakan BAB berlendir dengan diare ya. Kalau diare teksturnya akan sangat cair sampai tidak berampas, sementara BAB yang berlendir karena ekskresi lendir ketika batuk pilek biasanya ampasnya banyak tapi agak lembek karena tercampur lendir.
 
 
Apa yang harus dilakukan
 
bila muntah belum bisa berhenti dan tidak ada asupan yang (sepertinya) bisa masuk?Jaga dari dehidrasi dengan memberikan banyak cairan. Bisa dalam bentuk minuman, makanan (es loli, es krim, buah yang kandungan airnya tinggi, agar-agar atau jeli, dll), maupun makanan yang berkuah. Bila dehidrasi mulai parah, anak lesu dan ‘kering’, mungkin perlu diberikan CRO (cairan rehidrasi oral) seperti oralit atau pedialit. Jangan paksa anak untuk makan dalam porsi biasa, apalagi bila hal itu memicu muntah. Tawarkan biskuit atau camilan kecil. Hindari dulu susu, makanan bersantan, pedas, dan minuman asam bila memicu mual dan muntah. Pemberian BRATTY (banana, rice, apple sauce, tea, toast, & yogurt) bisa dicoba, tapi bukan untuk diberikan terus menerus. Penelitian terakhir lebih merujuk kepada pemberian asupan lengkap gizi. Dengah hanya memberikan BRATTY saja malah dikhawatirkan anak kekurangan gizi yang mendukung penyembuhan.
 
Tentang tanda-tanda dehidrasi dan tata cara pemberian CRO, nanti akan dibahas tersendiri ya.
 
Kapan muntah harus diwaspadai?
 
Gejala berikut mungkin menunjukkan suatu kondisi yang lebih serius dari gastroenteritis; hubungi dokter segera bila bayi atau anak memiliki salah satu dari ini:Muntah menyembur atau kuat pada bayi, terutama bayi yang kurang dari 3 bulan Muntah pada bayi setelah bayi telah mendapat CRO selama hampir 24 jam Muntah mulai kembali segera setelah mencoba untuk melanjutkan kembali pola makan normal pada anak Muntah muncul setelah cedera kepala Muntah-muntah disertai demam (100.4°F/38°C suhu anus pada bayi di bawah usia 6 bulan atau lebih dari 101-102°F/38.3-38.9°C pada anak yang lebih tua) Muntah hijau  atau kuning kehijauan Perut anak terasa keras, kembung, dan sakit di antara episode muntah Muntah-muntah disertai dengan sakit perut yang berat Muntah menyerupai bubuk kopi (darah yang bercampur dengan asam lambung akan berwarna kecoklatan dan terlihat seperti bubuk kopi) Muntah darah
 
Semoga sekarang jadi lebih tenang ya kalau anak muntah. Karena sudah ada pegangan apa yang harus dilakukan.
Buat yang sedang sakit, cepet sembuh yaa.
 
 
source:http://milissehat.web.id/?p=208http%3A%2F%2Fen.wikipedia.org%2Fwiki%2FBRAT_diet 
 
 
copas dari :
 
 http://mommiesdaily.com/2011/03/22/kenali-muntah-pada-anak/

Posted by: Kurnia | March 25, 2011

(Book) Smart Patient

Sharing, semoga berguna buat yang membaca…
 
(dikutip dari buku “Smart Patient” karya dr. Agnes Tri Harjaningrum)
 
** Dimana Salahnya?**
 
Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.
 
Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.
 
“Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection.”  kata dokter tua itu.
 
“Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?” batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.
 
“Obat penurun panas Dok?” tanyaku lagi.
 
“Actually that is not necessary if the fever below 40 C.”
 
Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.
 
Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
 
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.
 
“Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok,” kataku.
 
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. “Apakah dia sudah minum suatu obat?” 
 
Aku mengangguk. “Ibuprofen syrup Dok,” jawabku.
 
Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,”Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja.”
 
Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.
 
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.”Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!” Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.
 
“Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!”
 
Suamiku menimpali, “Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?”
 
Aku menarik napas panjang. “Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?”
 
Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!
 
Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.
 
“Just drink a lot,” katanya ringan.
 
Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.
 
“Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?” tanyaku tak puas.
 
“This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik,” jawabnya lagi.
 
Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.
 
“Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan,” kataku ngeyel.
 
Dengan santai si dokter pun menjawab,”Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq.”
 
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.
 
“Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini.” Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.
 
Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.
 
“Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.”
 
Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,”Nothing to worry. Just a viral infection.”
 
Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh!  Lagilagi aku sebal.
 
“Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,” aku ngeyel seperti biasa.
 
Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. “Do you know how many times normally children get sick every year?”
 
Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. “enam kali,” jawabku asal.
 
“Twelve time in a year, researcher said,” katanya sambil tersenyum lebar. “Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat,” sambungnya.
 
Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.
 
Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini: “Batuk – pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 – 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 – 3 minggu selama bertahun-tahun.” Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.
 
“Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya,” Lanjut artikel itu. “Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 – 3 minggu dan perlu berobat lagi.
 
Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun.”
 
Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter
spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda ‘dipaksa’ tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.
 
Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata ‘pengobatan rasional’. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm… kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.
 
Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. “Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe,” kataku pada suamiku.
 
Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif ‘terlindungi’ dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, ‘memaksa’ agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter ‘menjual’ obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.
 
Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan
terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?
 
Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!
 
Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya ‘hanya’ untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja. Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.
 
Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien ‘bergerak’, masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.
 
http://agnes.ismailfahmi.org/books/smart-patient.php#book

Posted by: Kurnia | March 25, 2011

Imunisasi Gak Ya

Copas yang sangat menarik

Bism Allah ar Rahmaan ar Rahiim,

Beberapa minggu terakhir berseliweran beberapa catatan tentang imunisasi. Ada yang judulnya cukup seram, sampai menyebut-nyebut konspirasi. Dinyatakan dalam catatan tersebut bahwa imunisasi adalah salah satu program jangka panjang salah satu kaum (non-muslim yang jelas) untuk memusnahkan umat muslim, membuat mereka bodoh, sakit-sakitan, menjadi budak iblis dan yang terakhir, mengakali umat muslim agar do’anya tertolak (untuk tuduhan terakhir ini, saya jadi geli sendiri. Kalaupun seorang muslim terpedaya katakanlah untuk mengimunisasi anak atau dirinya dengan vaksin haram, apa iya Allah sebodoh itu ikut-ikutan menolak do’anya? Yang benar saja…:) Astaghfirullah…benar-benar perendahan terhadap keagungan Allah)

Imunisasi sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun. Suka atau tidak, sejarah membuktikan bahwa penyakit-penyakit yang pernah mewabah di seluruh dunia dan memakan korban baik cacat permanen maupun meninggal setelah melalui perjuangan panjang saat ini berhasil ditaklukkan atau setidaknya dijinakkan penyebarannya. Bahwa ada kegagalan imunisasi di sana sini, itu tidak menjadikan kita lantas boleh menutup mata terhadap keberhasilan upaya menekan angka kecacatan dan kematian akibat penyakit-penyakit yang disediakan vaksinnya.

Faktanya, angka perbandingan antara yang gagal dan yang berhasil masih sangat jauh. Kasus jama’ah haji yang sakit setelah diimunisasi misalnya, sangat kecil dibanding jutaan lain yang berangkat dan pulang dalam keadaan sehat. Pun pada kasus-kasus kegagalan imunisasi atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) bisa ditelusuri sebab kegagalannya dan sebab kegagalan tersebut bukanlah si vaksin itu sendiri, melainan ada faktor-faktor seperti kekeliruan cara penyimpanan vaksin, kekeliruan prosedur pemberian vaksin dan reaksi alergik langka yang hanya terjadi pada sebagian kecil orang dan tidak mudah dideteksi dengan cara-cara pemeriksaan sederhana. Itu sebabnya pemerintah Amerika Serikat memberi semacam perlindungan kekebalan hukum bagi tenaga kesehatan bilamana terjadi kasus kesakitan, kecacatan atau meninggal akibat reaksi alergi langka seperti ini.

Lalu apa betul imunisasi menyebabkan kebodohan?

Para pakar genetika telah membuktikan bahwa tingkat kecerdasan lebih terkait dengan pola pewarisan gen dan ketepatan cara mendidik ketimbang kerusakan akibat terpapar racun yang diduga ada dalam vaksin. Fakta menunjukkan kualitas kecerdasan generasi yang saat ini berumur 40-an tahun sama sekali tidak menurun. Kapasitas belajar anak-anak justru bertambah. Dengan kurikulum pendidikan yang begitu berat, semakin banyak anak-anak menguasai berbagai bidang ilmu di usia lebih dini dibanding generasi sebelumnya.

Imunisasi ditujukan untuk menyebabkan kemerosotan moral umat muslim?

Kita lihat saja, kemerosotan moral di negara-negara dari mana vaksin berinduk lebih cepat menukik jatuh ketimbang negara-negara dimana vaksin disebarkan. Kalau memang sasarannya adalah umat muslim, tentu fenomena kemerosotan moral akan terjadi sebaliknya.

Imunisasi menyebabkan penerimanya sakit-sakitan?

Asumsi bahwa imunisasi menyebabkan penerimanya sakit-sakitan biasanya ditujukan pada anak-anak. Asumsi ini pun bisa dibantah dengan argumentasi sederhana. Pada usia dini anak-anak memang belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang matang dan variatif, itu sebabnya anak-anak di usia balita lebih sering sakit dibanding orang dewasa. Tubuh mereka masih berada dalam tahap pengenalan benda asing dan membentuk zat anti. Para ahli kesehatan anak menyebutkan bahwa di usia balita, kebanyakan anak akan menderita sakit ringan (common cold dan diare) 6 kali dalam setahun.

Anak yang tidak diimunisasi lebih sehat daripada yang diimunisasi.

Untuk pernyataan ini ada baiknya si penanya sesekali menyempatkan singgah di rumah sakit terdekat. Tanyakan, berapa kasus kecacatan dan kematian akibat meningitis TBC yang terkait dengan tidak diimunisasinya korban dengan vaksin BCG. Status kesehatan umum seseorang lebih terkait dengan gaya hidup seperti kebersihan, pola makan dan pola istirahat. Jika ketiga faktor tersebut terjaga, maka kesehatan seseorang akan lebih baik dibanding yang tidak terjaga.

Imunisasi MMR menyebabkan autisme lho….

Al hamdu lillah, penelitian membuktikan bahwa autisme sudah bisa dideteksi sejak bayi masih dalam bentuk embrio. Kalau kelainan sudah ada sejak bayi masih berbentuk embrio, maka diimunisasi atau tidak, kemungkinan besar ia akan menderita autisme. Jadi asumsi bahwa MMR menyebabkan autisme pun tidak benar.

Hampir di setiap forum diskusi tentang imunisasi yang saya ikuti, selalu saja ada argumentasi bahwa anak si A atau si B tidak diimunisasi, toh sehat sehat saja. Mungkin mereka lupa, bahwa ini PUN adalah salah satu bagian dari nikmat keberhasilan imunisasi yang telah berpuluh tahun dilaksanakan di seluruh dunia : sumber penularan beberapa penyakit yang dulu mewabah global saat ini sudah sangat minim. Itu sebabnya banyak anak yang tidak diimunisasi, tetap tidak tertular. Bagaimana mau tertular? Wong sumber penularannya sudah tidak ada atau minim dan tidak adanya sumber penularan itu adalah KEBERHASILAN DARI PROGRAM IMUNISASI yang kita nikmati sekarang. Toh tidak tertutup kemungkinan ada orang-orang carrier di tengah-tengah kita yang masih mungkin menjadi sumber penularan.

Imunisasi ditujukan untuk menekan menekan populasi umat muslim dengan menyebabkan infertilitas….

Please deh…alih-alih menyusut, populasi penduduk dunia membludag nyaris tak terkendali. Kalau pun di negara-negara dari mana vaksin berasal saat ini peningkatan jumlah penduduk bisa diperlambat itu karena mereka ogah punya anak dengan pemikiran punya anak berarti tambah pengeluaran sementara biaya hidup sangat tinggi. Sedangkan di negara-negara Islam peningkatan jumlah penduduk tetap melaju karena penduduknya dengan suka cita beranak pinak.

Kalau kita mau berfikir sejenak, betapa beruntungnya pemeluk Islam. Islam tidak melarang kita memanfaatkan teknologi yang dihasilkan oleh tangan-tangan non muslim. Islam hanya memerintahkan kita untuk bertanya kepada orang-orang yang memahami syari’ah ini sebelum mengambil keputusan dan segala puji hanya untuk Allah, betapa orang-orang seperti ini masih sangat banyak kita temui. Maka jika mereka mengeluarkan fatwanya, kita tinggal mematuhi sedangkan tanggung jawab tetap berada pada mereka. Mudah bukan? Mau melindungi diri dengan thibbun nabawi saja, silahkan, mau melengkapinya dengan teknologi yang dihasilkan oleh non muslim, setelah diketahui kebolehannya melalui fatwa para ulama, Islam pun tidak melarang. Sungguh nikmat menjadi seorang muslim. Nikmat dan mudah.

Sebagai penutup, saya ingin sampaikan bahwa saya tidak sedang menyuruh-nyuruh orang mengimunisasi anaknya atau tidak meyakini kehebatan thibbun nabawi. Imunisasi atau tidak adalah pilihan. Akan tetapi buatlah pilihan secara bijak, rasional dan faktual. Bagi yang memilih untuk tidak mengimunisasi anaknya dan anaknya tetap sehat, sudah itulah kehendak Allah yang patut disyukuri tanpa melecehkan mereka-mereka yang memilih untuk mengimunisasi sebagai bagian dari ikhtiar yang hasilnya pun sepenuhnya kembali pada kuasa Allah. Hilangkan kebiasaan menyebarkan sesuatu yang tidak jelas kebenarannya, menutup mata bahwa apa yang kita nikmati sekarang adalah juga merupakan bagian dari keberhasilan imunisasi ~ yg lagi lagi di atas segalanya adalah juga atas kehendak Allah ~ apalagi sampai menyebarkan tuduhan-tuduhan tanpa bukti yang valid.

Catatan terkait :

– Hidrosefalus akibat Imunisasi : http://www.facebook.com/note.php?note_id=493726037709

– Bahan Vaksin : http://www.facebook.com/note.php?note_id=493993642709

– Kaitan Janin Manusia dengan Vaksin : http://www.facebook.com/note.php?note_id=496772767709

– Eana al Jemberi : Imunisasi dari Segi Medis dan Syari’ah : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150093768572247

– Abu Muhammad Herman : Imunisasi dengan Enzim Babi : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150370318990175&id=1084713685

– Dr. Arifianto : A Doctor’s Journal : http://arifianto.blogspot.com/2008/01/mengapa-tidak-mau-memberikan-imunisasi.html

– Salinan Surat Pertanyaan WHO Kepada Pemuka Agama Islam di Kawasan Timur Tengah Perihal Hukum Pemakaian Bahan Haram dalam Proses Pembuatan Vaksin dan Jawaban : http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.immunize.org%2Fconcerns%2Fporcine.pdf&h=a4e65

Semoga bermanfaat.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=492834417709

Posted by: Kurnia | January 17, 2011

Gula dan Garam pada Makanan Anak

Mau share sedikit ni dr milis Gizi_BayiBalita asuhannya Pak Wied Harry… Pernyataannya ga berbeda jauh dari beberapa milis yg saya ikuti yaitu milis Sehat dan mpasirumahan…

 

Semoga bisa bermanfaat khususnya mah buat saya.. ehuehuheu…

 

Pertanyaan:

Malam Pak Wied, Menyenangkan sekali membaca email² jawaban dari Pak Wied, begitu terasa spiritnya🙂 dan byk ilmu bisa didapat Pak Wied, ada hal yg mau saya tanyakan, saya masih agak rancu dengan pemakaian garam-gula pada batita. Ada yg bilang hny sampai 1th lalu boleh pemakaian asal sedikit. Ada yg 2th, ada jg yg ekstrim sampai 5th no sugar and salt. Sebetulnya bagaimana ya Pak? Karena terus terang saya ini agak bingung dengan GTM-nya anak saya (1th). Kalau dikasi garam/kecap sedikit baru mau. Kl manis, sementara saya msh pakai dari buah.. Apa pencernaannya sudah kuat untuk toleransi garam? Saya tunggu pendapat Bapak. Tq

sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT

 

Jawaban:

Terima kasih. Syukurlah jika diskusi kita di milis ini inspiratif dan memancing ide dalam pemberian makan sehat alami bayi-balita.Bukan soal boleh atau tidak boleh diberi gula pasir dan garam.

 

Yang patut kita sadari dari segi nutritif adalah (1) gula yang sehat dan alami bisa diperoleh dari buah-buahan segar (karbohidrat kompleks seperti nasi sebenarnya juga merupakan sumber gula, tetapi baru terasa manis setelah tercerna/dikunyah lama), (2) garam -yakni natrium- bisa didapat dari makanan terutama makanan hewani dan susu serta hasil olahan susu seperti yogurt, keju. Bagi bayi, makanan alami yang beragam sudah cukup memberikan asupan gula dan natrium, tidak perlu tambahan dari gula pasir dan garam.

 

Kedua, yang patut kita pertimbangkan dari segi rasa adalah bayi belum memerlukan tambahan gula pasir dan garam, sebagaimana makanan orang dewasa. Sebab indera perasanya masih sangat sensitif. Bayi bisa mendeteksi rasa dasar dengan sangat baik. Coba selalu berempati setiap kali menyiapkan makanan bayi, jangan mengukur rasa manis dan asinnya menurut kadar manis-asin indera perasa kita sebagai ortu (yang daya cecapnya memang sudah -maaf- ‘bebal’). Dengan membiasakan bayi menikmati rasa dasar makanan, ia akan memiliki perbendaharaan citarasa lebih kaya, sehingga kelak lebih mudah menyesuaikan diri terhadap beragam jenis makanan (baru). Manfaat lain, ketika ia lebih besar tidak akan menjadi keranjingan (craving) terhadap makanan yang manis berlebihan (a.l. permen, donat lapis gula bubuk) maupun makanan asin-gurih berlebihan (a.l. snack kemasan, fast food). Dan ia hanya akan makan makanan tsb seperlunya saja.

 

Sampai umur berapa makanannya sebaiknya dibubuhi garam dan gula? Jawabnya, bersamaan dengan masa lepas ASI/susu formula, yakni 2 tahun, makanan balita bisa mulai dibubuhi garam dan gula pasir jika memang diperlukan. Artinya, kalau makanannya sudah manis/gurih, ya ga usah. Misalnya jika sudah dapat manis buah segar/kering (kurma/kismis/sultana/prune) atau asin gurih keju. Nah, kalau makanannya memang perlu dibubuhi gula pasir dan garam, pakai ukuran citarasa anak kita, bukan citarasa kita.

 

Manfaat mengendalikan pemberian gula pasir dan garam dalam makanan bayi-balita sudah kami rasakan. Anak-anak kami bukanlah anak-anak pemakan permen dan makanan manis. Kalau temannya makan, ia hanya akan ikutan makan, tapi segera berhenti makan sebelum makanan manisnya habis. Hal ini juga dialami oleh kawan/sahabat saya yang menerapkan hal serupa, seperti Lia (Cornelia Agatha) dan Deasy (Deasy Noviyanti) yang testimoninya terpajang di cover milis kita. Manfaatnya, organ cerna anak kita kelak akan lebih terjaga, terutama pankreas dan ginjalnya, sehingga memperkecil risiko diabetes dan hipertensi.

 

WH

Posted by: Kurnia | January 17, 2011

Sehat Tanpa Suplemen

Suplemen hanya bermanfaat untuk usia 65 tahun ke atas atau dalam kondisi tertentu.

sumber: http://purnamawati.wordpress.com/2009/02/03/sehat-tanpa-suplemen/

 

Tak ada secuil kekurangan yang kentara dari fisik Bulan, 13 bulan. Namun, kecemasan sang Bunda membuat bocah yang sering melontarkan senyum manis itu mendapat asupan multivitamin setiap hari. Apalagi di musim hujan seperti ini, Tanti, 28 tahun, begitu khawatir buah hatinya jatuh sakit. Ibu rumah tangga yang tinggal di Bekasi ini membayangkan kepanikan yang harus dialaminya jika kondisi itu terjadi. Maka, ia pun mengambil langkah sedia payung sebelum hujan. Agar tak sakit, bocah itu dicekoki suplemen multivitamin. Apalagi, ia terpesona berbagai iklan produk suplemen multivitamin di layar kaca.

 

Karena itulah, dr Purnamawati S. Pujiarto, SpAK, MMPed pun meminta para ibu untuk hati-hati. Spesialis anak ini menyebutkan, suplemen itu bermanfaat hanya untuk orang berusia 65 tahun ke atas. Atau orang-orang yang dalam kondisi tertentu, seperti menopause, mengalami gangguan makan, menjalani diet rendah kalori. Juga mereka yang perokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, melakukan diet khusus, tengah merancang kehamilan, mempunyai kelainan metabolisme, atau penyerapan makanan dalam tubuh.

 

Ia mengungkapkan, anak dan perempuan sering kali menjadi korban dari berbagai produk suplemen. Dengan membidik pasar kaum Hawa, di pasar saat ini telah beredar berbagai produk yang bisa mencegah banyak hal, misal penuaan, osteoporosis. Padahal, penggunaan antioksidan–dengan kandungan vitamin A, E, dan lain-lain–secara berlebihan bisa berujung pada kematian.

 

Dokter yang bertugas di Kemang Medical Care, Jakarta Selatan, ini menyatakan, tak hanya anak-anak yang harus dicermati dari penggunaan suplemen, orang dalam kondisi tertentu pun harus lebih hati-hati. Misalnya, ibu menyusui, ibu hamil, atau menderita penyakit tertentu, seperti hipertensi, penyakit jantung, tiroid, diabetes, memiliki riwayat stroke, glaukoma, pembekuan darah, depresi, penyakit jiwa, epilepsi, parkison, pembesaran prostat, dan transplantasi organ.

 

Ia pun menyindir sebuah produk yang mengandung kolustrum. “Bayangkan, berapa sapi yang dibutuhkan untuk membuat produk tersebut,” ujarnya. Menurut dokter yang biasa disapa Wati ini, vitamin dan mineral memang berperan penting dalam kelangsungan proses kegiatan sel-sel dalam tubuh. “Tapi, hanya dibutuhkan dalam jumlah kecil,” ujarnya. Hanya ada beberapa gangguan yang muncul akibat kekurangan vitamin, tapi berlebihan juga bisa berbahaya.

Wati menjelaskan, kelebihan vitamin yang larut dalam air–vitamin B dan C–dapat membuat beban kerja ginjal berlebihan sehingga fungsinya terganggu atau menyebabkan penumpukan dan muncullah batu ginjal. Sedangkan kelebihan vitamin larut lemak–vitamin A, D, E, dan K–bisa membebani hati yang bisa memicu gangguan fungsi hati, problem pembekuan darah, serta keracunan vitamin.

 

Bayangkan bila kondisi tersebut harus dihadapi anak-anak akibat ia dijejali suplemen terus-menerus. Padahal, saat ini banyak ibu yang ingin anaknya doyan makan sehingga ia membeli suplemen khusus pendongkrak nafsu makan. Padahal, kata Wati, suplemen sejenis itu belum terbukti efektif meningkatkan nafsu makan. “Dalam dunia kedokteran, belum ada yang namanya perangsang nafsu makan,” ia menegaskan. Lagi pula, suplemen bukan obat yang harus menjalani uji klinis sehingga kita tidak tahu persis efektivitas dan keamanannya.

 

Mayoritas ibu pun ingin anaknya memiliki daya tahan super sehingga membeli suplemen khusus yang diiklankan mempunyai kemampuan menaikkan kekebalan tubuh. Wati dengan tegas menyebutkan, tidak ada obat untuk sistem imun. “Kalau tidak, kan sudah digunakan buat (penanganan) HIV,” ujarnya. Hal senada juga diungkapkan spesial anak dr Zakiudin Munasir dalam kesempatan berbeda.

 

Zaki menyebutkan, sistem kekebalan tidak bisa diatur dengan satu hal. Walhasil, anak itu tidak perlu diberi asupan untuk meningkatkan daya tahan tubuh karena yang penting ialah asupan bergizi dan seimbang. Kekebalan, seperti halnya organ tubuh lain, memerlukan modal untuk bekerja. Nah, sajian bernutrisi lengkap dan seimbanglah yang bisa mendongkrak sistem kerjanya. Wati pun menyarankan para ibu untuk menyediakan bahan-bahan makanan yang kaya vitamin dan berbagai zat yang berguna seperti tubuh, seperti serat, protein dan fitokimia. Ingat pula hasil penelitian American Academy Pediatrics (AAP) yang menyebutkan pemberian suplemen vitamin terlalu dini, justru dapat meningkatkan risiko timbulnya alergi dan asma pada anak. Walhasil, maunya anak selamat, malahan jadi menderita. Bukankah orang tua juga yang merana? RITA

Sumber : Tempo

Older Posts »

Categories