Posted by: Kurnia | April 6, 2009

Ancaman Toxoplasma pada Kehamilan

Sebagai sebuah siklus hidup kehamilan merupakan gerbang awal sebuah kehidupan. Tentu saja tidak gampang, sebab ada banyak penghalang yang melintang. Sejak masih berupa sperma dan ovum pun penghalang pertemuan keduanya sudah terjadi. Demikian pula dengan penyakit. Beragam penyakit ada di sekitar kehamilan, baik yang menyerang sang ibu ataupun janin. Di antara penyakit yang wajib diwaspadai selama masa kehamilan adalah toksoplasma, rubella, cytomegalovirus dan herpes simplek. Beberapa penyakit lainnya a.l. sipilis, infeksi streptococcus grup B, listeriosis dll. Tetapi di antara penyakit ganas itu, dunia kedokteran mengakui toksoplasma adalah yang paling ganas. Tokso, begitu penyakit ini biasa disingkat, juga cukup cerdik, sebab sulit terdeteksi dan mampu menyusup dengan beragam cara. Penelitian menunjukkan sekitar 40% wanita hamil pengidap toksoplasma pada awal kehamilan, janin yang dilahirkan akan terinfeksi, dan 15% mengalami abortus atau kelahiran dini. Sedangkan bagi janin tercatat 17% janin terinfeksi pada tiga bulan pertama, 24% pada tiga bulan kedua, dan 62% pada tiga bulan ketiga. Memang, 90% bayi yang terinfeksi dapat lahir dengan normal namun 80%-90 % bayi tersebut dapat menderita gangguan penglihatan sampai buta setelah beberapa bulan atau beberapa tahun setelah lahir, dan 10% di antaranya dapat mengalami gangguan pendengaran. Menurut dosen FK Undip bagian Patologi Klinik Purwanto A.P., indikasi infeksi pada bayi dapat diketahui melalui pemeriksaan ultrasonografi yang memperlihatkan adanya cairan berlebihan pada perut, pengapuran pada otak, serta pelebaran saluran cairan otak. “Selain itu sangat disarankan untuk melakukan uji Torch sebelum memutuskan hamil. Sebab kuman penyakit ini tidak bisa dibunuh tapi hanya diturunkan keaktifannya dan daya tahan tubuh ibu dinaikkan,” ujarnya pada simposium ilmiah Ikatan Laboratorium Kesehatan Indonesia, akhir pekan lalu. Toksoplasma memang biang kerok berbagai kondisi abnormal bayi a.l kelainan pada saraf, mata, serta kelainan sistemik seperti pucat, kuning, demam, pembesaran hati dan limpa atau pendarahan. Gangguan fungsi saraf dapat mengakibatkan keterlambatan perkembangan psikomotorik dalam bentuk gangguan kecerdasan maupun keterlambatan perkembangan bicara, serta kejang dan kekakuan yang akhirnya menimbulkan keterlambatan perkembangan motorik. Infeksi pada bayi juga berpotensi menyebabkan cacat bawaan, terutama bila terjadi pada usia kehamilan awal sampai tiga bulan. Toksoplasma juga dapat menyebabkan encephalus (tidak memiliki tulang tengkorak), hydrocephalus (pembesaran kepala), dan bahkan kematian. Sampai saat ini masyarakat seringkali salah kaprah menganggap kucing sebagai penyebab penyakit ini. Padahal dalangnya adalah parasit toksoplasma gondii, yang dapat ditularkan oleh kucing. Namun, salah besar apabila beranggapan hanya kucing yang dapat menjadi dalang penyebaran penyakit toksoplasma. Sebab parasit ini dapat menyerang semua jenis satwa, termasuk burung, ikan, kelinci, anjing, babi, kambing dan mamalia bahkan manusia. Parasit ini juga bisa terdapat pada daging setengah matang, telur setengah matang, buah-buahan atau sayuran yang tercemar tinja hewan peliharaan yang mengandung oosit toksoplasma, salah satu bentuk toksoplasma yang dapat menimbulkan infeksi. Toksoplasma dalam bentuk tachizoit terdapat dalam cairan tubuh seperti darah, air liur, dan cairan sperma, yang mampu ditularkan oleh serangga lewat gigitan. Tachizoit pun bisa bersarang di calon telur atau kelenjar susu sehingga tidak menutup kemungkinan telur dan air susu pun bisa tertular toksoplasma. Penularan juga bisa terjadi lewat transfusi darah atau transplantasi organ yang membawa kista toksoplasma. Cangkok jantung, ginjal, dan hati bisa menjadi ajang penularan toksoplasma. Dalam sel darah Parasit toksoplasma kebanyakan berkembang biak dalam sel darah putih, jaringan parenkim, dan sel endotel dengan cara membelah diri. Setelah berkembang biak, parasit ini kemudian membentuk kista. Dalam bentuk inilah parasit akan berdiam diri di dalam jaringan saraf mata, otot jantung, alat pencernaan, dan lain sebagainya. Pada saluran pencernaan hewan sebangsa kucing, toksoplasma bahkan mampu berkembang biak secara lengkap. Sebab itu bangsa kucing disebut induk semang difinitif. Pada kotoran kucing, toksoplasma ditemukan dalam bentuk telur. Dalam waktu 48 jam telur itu akan membelah menjadi bentuk infektif yang berbahaya bagi manusia atau hewan lain jika tertelan melalui makanan atau minuman yang tercemar. Dalam organ tubuh manusia, kista toksoplasma umumnya tidak bermasalah. Pengidap kista toksoplasma nyaris tidak mempunyai keluhan karena parasit toksoplasma tergolong oportunis. Jika tubuh kuat maka parasit yang diidap hanya diam tenang tidak menimbulkan gejala penyakit. Kista baru menimbulkan gejala sakit jika kondisi tubuh lemah, kekebalan tubuh menurun, kekurangan gizi atau stres. Kista pada jaringan tubuh dapat merusak organ. Itu pun tergantung pada umur berapa orang tersebut terinfeksi, seberapa ganas parasitnya, berapa besar jumlah parasit yang masuk ke tubuh, dan organ mana yang diserang. “Tindakan pengobatan hanya bisa membasmi telur parasitnya sehingga kista yang berada dalam jaringan tubuh akan menetap seumur hidup. Tidak benar bahwa toksoplasma hanya menyerang wanita hamil,” tutur Budi Palarto dari RS Panti Wilasa. Tak hanya ibu hamil Toksoplasma dapat menyerang siapa saja tanpa memandang jenis kelamin dan umur. Sebagian besar orang yang terinfeksi telah membentuk kekebalan tubuh sehingga parasit toksoplasma tidak berkembang dan terbungkus dalam kista yang terbentuk dari kerak perkapuran (kalsifikasi). Pada orang dewasa toksoplasma biasanya menimbulkan gejala berupa rasa lelah, nyeri kepala, sakit tenggorokan, demam, pembesaran kelenjar getah bening termasuk hati serta limpa, maupun gangguan pada kulit. Pada penderita imunocompromise misalnya penderita AIDS, kanker maupun transplantasi organ, akan cepat terlihat adanya gangguan sistem syaraf, encepalitis, pembesaran kelenjar limfa, gangguan mata, pendengaran, gangguan pernafasan serta gangguan jantung. Itu semua bukan gejala yang khas sehingga sulit untuk mengetahui adanya toksoplasma dalam tubuh seseorang hanya dari gejala yang ditimbulkannya sehingga banyak penderita maupun dokter mengabaikannya. Kondisi ini terjadi akibat adanya sistem kekebalan yang menekan tachizoit tetap berada dalam bentuk kista inaktif. Infeksi toksoplasma baru bisa dideteksi jika dilakukan pemeriksaan darah di laboratorium melalui uji serologis (serum darah). Metodenya dengan mendeteksi adanya antibodi khas antitoksoplasma. Seseorang dinyatakan terinfeksi toksoplasmosis jika dalam darahnya terdeteksi IgM dan IgA antitoksoplasma positif. Bila indikasi infeksi positif, orang tersebut harus segera diberi penanganan sedini mungkin. Terapi harus dilakukan terus sampai persalinan. Bahkan, setelah persalinan perlu pemeriksaan pada bayi.


Responses

  1. Saya punya teman, tinggal di samping rumah saya. 15 tahun berumah tangga, belum punya anak. Sampai dia melakukan anjuran saya. Akhirnya beberapa minggu dia hamil juga. Tidak mahal biayanya dan juga mudah dilakukan siapa saja. Dalam waktu seminggu saja sudah terasa perubahannya. Saya di nomor: 021 – 544 6246 Cengkareng Jakarta Barat.

  2. bagus sekali artikelnya..
    Teruslah berkarya Bu, dan salam kenal dari kami…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: