Posted by: Kurnia | April 6, 2009

Mengenali Dehidrasi pada Bayi ASI

Dari : NEW BEGINNINGS, Vol. 11 No. 6, November-Desember 1994, pp. 184-5

Dehidrasi paling sering terjadi pada bayi-bayi yang lahir dari ibu-ibu yang pertama kali melahirkan dan masih baru dalam memberikan ASI serta mengasuh anak. Tanda-tanda dehidrasi seringkali timbul saat pulang dari rumah sakit. Sebelumnya mungkin terdapat persalinan sulit atau pemberian obat-obatan untuk nyeri sebelum atau sesudah bayi dilahirkan. Hal ini dapat menyebabkan bayi menjadi kurang aktif atau mengantuk sehingga pemberian ASI menjadi tidak cukup. Seringkali, pemberian botol tambahan berisi air atau produk susu formula diberikan di rumah sakit alih-alih mengusahakan meningkatkan ketrampilan menyusui.

Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan oleh ibu baru yang menyusui adalah bagaimana saya tahu bahwa bayi saya mendapatkan cukup ASI?”. Pertanyaan ini sebaiknya ditujukan pada staf rumah sakit yang memiliki informasi dan pengetahuan, memiliki kualifikasi untuk memberikan informasi terbaru dan akurat. Selain itu, staf tersebut harus memiliki kemauan untuk memberikan dukungan yang baik dalam menyusui dan informasi dalam jumlah yang sama dengan pamflet gratis yang diberikan oleh produsen susu formula saat pulang dari rumah sakit.

Ibu harus menyadari jumlah popok bayinya yang basah dan kotor: setelah hari pertama atau kedua, 6-8 popok basah (5-6 popok sekali pakai, meskipun bisa jadi sulit menentukan basahnya pada popok ini) dan 2-5 kali buang air besar setiap 24 jam berarti bayi cukup disusui. Apabila bayi usia 3 atau 4 hari tidak buang air, ibu harus segera mencari pertolongan pada seseorang yang memiliki pengetahuan tentang menyusui.

Ibu harus memperhatikan tingkat aktivitas bayi dan gejala-gejala yang mungkin: apakah ia mengisap dengan aktif? Apakah ia antusias ketika disusui? Apakah ia disusui 8-10 kali dalam 24 jam? Apakah ia menelan? Apakah ia tidur selama beberapa kali disusui? Apakah tingkat aktivitasnya menurun seiring waktu? Pemberian cairam dapat dinilai dengan melihat respons bayi secara umum dan warna kulit. Bayi yang dehidrasi akan tampak lemas dan sakit.

Penambahan berat badan bayi juga merupakan indikasi cukupnya pemberian ASI, meskipun tiap bayi bertambah beratnya sesuai dengan tingkatnya masing-masing dan dapat mencapai waktu sampai 3 minggu untuk bertambahnya kembali berat badan. Banyak profesi kesehatan yang menganjurkan bayi yang disusui dibawa ke dokter pada minggu pertama untuk meyakinkan segala sesuatu berjalan dengan baik. Pada pemeriksaan oleh dokter anak, letargi (lemas), kekeringan selaput lendir, dan kemungkinan malnutrisi terkait dengan dehdrasi akan segera dikenali. Derajat hidrasi (pemberian cairan) paling baik ditentukan dari banyaknya kehilangan berat badan.

Pada situasi tertentu, kegagalan bayi untuk tumbuh atau dehidrasi dapat disebabkan oleh ketidakmampuan ibu untuk menghasilkan ASI yang cukup. Bagian plasenta yang masih tertinggal dapat menunda diproduksinya ASI yang cukup. Operasi payudara sebelumnya, khususnya reduksi payudara mungkin menyebabkan kerusakan saraf yang penting atau jaringan kelenjar diangkat terlalu banyak. Mungkin adanya cacat lahir atau cedera payudara yang sedang berkembang tidak memungkinkan laktasi sepenuhnya.

Pada beberapa laporan kasus, berkurangnya laktasi menyebabkan peningkatan kadar natrium dalam ASI yang dapat menyebabkan dehidrasi pada bayi baru lahir. Kadar natrium yang berlebihan dapat juga terjadi ketika terdapat penundaan yang tidak biasa dalam pematangan kolostrum menjadi ASI. Kadar natrium dapat dinormalkan dengan konseling laktasi yang tepat, termasuk cara memompa di antara waktu-wakru pemberian ASI untuk meningkatkan suplai ASI lebih cepat.

Ibu dapat pula memperhatikan tanda-tanda payudaranya berfungsi dengan normal. Apakah payudaranya membesar secara signifikan selama kehamilan? Apakah ibu merasa susunya keluar beberapa hari setelah lahir? Apakah ia merasa haus? Apakah ia merasa adanya “let-down”? Apakah ia melihat adanya susu yang menetes-netes atau memancar dari payudaranya? Memompa atau memerah sedikit ASI dapat meredakan kekhawatiran ibu tentang apakah ia menghasilkan ASI atau tidak.

Kemungkinan yang perlu dicari adalah apakah bayi tidak mampu mengisap dengan benar. Seseorang yang memiliki pengetahuan tentang menyusui sebaiknya melihat posisi bayi pada payudara dan menentukan apakah latch-on dilakukan dengan benar atau tidak. Ibu dapat dibantu dalam menentukan keadaan bayi ketika mengisap dan dapat diajarkan bagaimana cara bekerja sama dengan bayinya untuk meningkatkan ketrampilan menyusui. Menyusui yang sukses merupakan suatu kemitraan.

Sumber : http://www.llli.org/NB/NBNovDec94p184sup.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: