Posted by: Kurnia | April 8, 2009

Praktik Peresepan yang Baik

Prof. DR.dr. Rianto Setiabudy

Bagian Farmakologi FKUI

Pendahuluan

Kemampuan memilih dan menggunakan obat yang baik merupakan standar yang penting sekali dalam profesi dokter. Penggunaan obat yang tidak rasional menghasikan pengobatan yang tidak efektif, tidak aman, eksaserbasi penyakit, perpanjangan masa sakit, penderitaan bagi pasien, peningkatan biaya pengobatan, dan merusak lingkungan (misalnya berkembangnya resistensi terhadap antibiotika).

Cara peresepan yang tidak rasional

Membuat resep bagi pasien sepintas tampak mudah dikerjakan. Dokter melakukan anamnesis, memeriksa fisik, dan bila perlu melakukan pemeriksaan penunjang. Lalu, yang lazim terjadi ialah, berbagai obat lalu dituliskan di resep sesuai dengan jumlah keluhan yang ada. Makin banyak keluhan pasien makin beragam pula obatnya. Bila ada beberapa diagnosis kerja, sering dipilihkan berbagai obat yang mencakup semua kemungkinan yang ada. Obat-obat yang baru, mahal, dan mempunyai selling point cenderung dipilih karena diyakini mempuyai efikasi yang lebih baik. Berbagai obat sering yang punya indikasi yang sama sering dikombinasikan karena diyakini dapat mempercepat penyembuhan sakitnya pasien. Banyak kombinasi obat ini yang unik dan diperoleh dengan meniru resep senior yang punya pasien banyak. Konsep campur-mencampur obat untuk menghasilkan efek terapi yang bagus ini dikenal dengan ungkapan ”medicine is an art”. Inilah kenyataan gambaran yang sering terlihat dalam praktek. Sebagian pasien merasa senang dengan mendapat resep yang mahal karena percaya bahwa ”ada harga ada barang” artinya kalau obatnya mahal pasti efikasinya baik. Namun sebagian pasien juga ketakutan melihat jumlah obat yang demikian banyaknya dan demikian mahalnya. Sebagian pasien yang kritis juga mulai mencari informasi melalui internet untuk mencocokkan indikasi, efek samping, dosis, dsb. untuk mengetahui apakah mereka mendapat obat yang tepat.

Cara peresepan seperti yang digambarkan di atas memang mudah dikerjakan tetapi jauh dari rasional. Peresepan yang rasional menuntut pengetahuan dan pertimbangan yang jauh lebih mendalam dari seorang dokter. Semua ini berujung pada upaya untuk meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan pasien.

Faktor penentu peresepan yang baik

Ada 3 faktor yang berperan besar dalam mempraktikkan peresepan yang baik. Yang pertama ialah kemampuan dokter untuk menilai manfaat-risiko dalam memilih obat bagi pasiennya. Kedua ialah kemampuan untuk memberikan layanan medik yang berbasis bukti (evidence-based medicine, EMB). Ketiga ialah kemampuan untuk secara sistematik memilih dan menggunaan obat secara rasional.

Menilai manfaat-risiko

Kemampuan untuk menilai manfaat-risiko tergantung dari 5 faktor yaitu beratnya penyakit yang akan diobati, efikasi dari obat yang akan digunakan, berat dan seringnya efek samping dari obat yang akan digunakan, keamanan dari obat lain yang bisa digunakan untuk indikasi yang sama, dan efikasi dari obat pilihan lain itu.

Evidence-based Medicine (EBM)

EBM adalah penerapan kebijakan penatalaksanaan penyakit oleh dokter pada seorang pasien yang dilakukan secara hati-hati dan bijak berdasarkan pada bukti ilmiah terkini. Di dalam EBM terkandung pengertian mengenai tingkat kualitas bukti ilmiah (qualification of evidence), tingkat rekomendasi (categories of recommendations), pengukuran statistik, dan kualitas laporan uji klinik. Sulit diharapkan seorang dokter yang tidak memahami EBM akan dapat menerapkan praktik peresepan yang rasional. Sebagai contoh bila ia diberikan informasi bahwa secara in vitro terbukti bahwa ATP dapat mempercepat gerak sperma, maka mungkin tidak sulit meyakinkan dia bahwa seorang pria yang motilitas spermanya kurang baik perlu diberi resep ATP agar bisa cepat punya anak. Demikian pula karena telah diketahui orang bahwa vitamin E mempunyai efek antioksidan, tidak sulit kiranya meyakinkan dia bahwa vitamin ini sangat perlu diresepkan untuk berbagai indikasi klinik di mana terjadi reaksi inflamasi dan pembentukan radikal bebas.

Langkah-langkah peresepan yang baik

Dalam buku Guide to Good Prescribing yang diterbitkan oleh WHO, diuraikan bahwa peresepan yang baik harus dikerjakan dalam urutan beberapa langkah sbb.:

1. Menentukan apa masalah yang dijumpai pada seorang pasien
2. Menentukan apa tujuan terapi yang hendak dicapai pada pasien itu
3. Membuat daftar obat apa saja yang potencial dapat digunakan untuk mencapai tujuan terapi tersebut
4. Memilih obat terbaik untuk mencapai tujuan terapi tersebut dengan mempertimbangkan efikasi, keamanan, kesesuaian (suitability) untuk pasien yang bersangkutan, biaya, dan ketersediaan obat tersebut. Untuk dapat mempertimbangkan faktor-faktor ini dengan baik digunakan suatu sistem skor
5. Meresepkan obat tersebut
6. Memberikan informasi, instruksi, dan peringatan bagi pasien
7. Memantau hasil pengobatan dan bila perlu memodifikasi atau menghentikannya

Dalam mempertimbangkan faktor keamanan dan kesesuaian pilihan obat bagi pasien individual, harus diperhatikan ada kelompok pasien tertentu yang memerlukan perhatian khusus. Mereka adalah kelompok anak/bayi, usia lanjut, pasien dengan kelainan farmakogenetik, gangguan fungsi ginjal dan/atau hati, wanita hamil atau menyusui, pasien dengan kerentanan terhadap risiko interaksi obat, dan pasien dengan riwayat hipersensitivitas.

________

Bacaan selanjutnya:

1. Grahame-Smith DG, Aronson JK. Principles of prescribing. In: Clinical Pharmacology and drug therapy. 3rd ed, Oxford University Press, 2002: 173-80

2. Sackett DL, Straus SE, Richardson WS, Rosenberg W, Haynes RB. Evidence-based Medicine. Edinburgh: Churchill Livingstone, 2000

3. Dawes M. Is this therapy effective? In: Dawes M, Davies PT, Gray AM, Mant J, Seers K, Snowball R, eds. Evidence-based Practice. Edinburgh: Churchill Livingstone, 1999: 159-80.

4. Nierenberg DW, Melmon KL. Introduction to Clinical Pharmacology and Rational Therapeutics. In: Carruthers SG, Hoffman BB, Melmon KL, Nierenberg DW. 4th ed. Melmon and Morelli’s Clinical Pharmacology

5. Brunton LL, Lazo JS, Parker KL. The Pharmacological Basis of Therapeutics. 11th ed,NY: McGraw-Hill, 2006

6. Lofholm PW, Katzung B. Rational prescribing & Prescription Writing. In: Katzung B, ed. Basic and Clinical Pharmacology. Boston:McGraw-Hill, 2007:1063-72

7. World Health Organization – Action Programme on Essential Drugs. Guide to Good Prescribing, Geneva, 1994

* dipresentasikan pada Seminar “Meet the Expert: Compounding, Quo vadis?”, FKUI, Jakarta 3 Mei, 2008


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: