Posted by: Kurnia | April 19, 2009

Anak Indonesia Kurang Bermain

Senin, 6 April 2009 | 16:40 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com – Anak-anak Indonesia ternyata memiliki play quotion (tingkat bermain) paling rendah jika dibandingkan dengan anak-anak dari negara lain seperti Jepang, Thailand, dan Vietnam. Ini sangat memprihatikan generasi penerus bangsa kita.

Demikian diungkap Psikolog Klinis dan Perkembangan Ratih Ibrahim dalam diskusi Pentingnya Bermain bagi Anak di Jakarta, Kamis (2/4).

“Anak-anak Jepang mampu menyeimbangkan waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah, bersantai, dan beraktifitas fisik,” kata Ratih. Sementara di Indonesia banyak anak menghabiskan waktu untuk belajar atau bersantai tapi kurang aktivitas fisik.

Sebuah penelitian menunjukkan, anak-anak Indonesia menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk belajar dan kegiatan non fisik, misalnya menonton TV dan bermain game, kata Ratih. Ciri-ciri anak yang kurang aktivitas fisik antara lain tampak lesu, tidak suka makan, pemurung dan mudah mengantuk.

Untuk itu unsur bermain dengan melibatkan kegiatan fisik dan menyenangkan sangat penting, kata Ratih.

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/04/06/16402313/anak.indonesia.kurang.bermain

Tiga Alasan Kenapa Anak Perlu Bermain
Senin, 6 April 2009 | 16:39 WIB
KOMPAS.com – Bermain itu adalah hak anak. Sayang tingkat bermain anak di Indonesia sangat rendah. Padahal bermain memberi manfaat bagi anak.

Menurut psikolog anak Ratih Andjayani Ibrahim, ada 3 alasan kenapa anak mesti punya kesempatan untuk bermain yang menyenangkan.

Pertama, dengan bermain anak akan tumbuh menjadi manusia dewasa yang utuh, sehat jiwa dan bahagia. Kedua, tanpa unsur bermain yang menyenangkan dan bergerak, anak akan tumbuh menjadi dewasa yang kurang tegas, stres, dan neurotik. Dan yang ketiga, pada level ekstrim, ketegangan dan stres bisa memicu gangguan-gangguan, termasuk gangguan jiwa.

Kebutuhan anak-anak usia 2 – 13 tahun adalah bermain. “Maka biarlah mereka bermain, jangan dipaksa belajar atau les ini dan les itu. Kalau mau mengajari (pelajaran) kan bisa dengan bermain,” kata Ratih.

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/04/06/16393661/tiga.alasan.kenapa.anak.perlu.bermain


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: