Posted by: Kurnia | April 19, 2009

Demensia, Sang Pencuri Ingatan

Demensia, Sang Pencuri Ingatan

Lupa dimana meletakkan sesuatu, lupa nama seseorang, lupa mematikan kompor saat memasak. Mungkin ini hanya sebagian dari ‘daftar’ lupa yang kerap menghinggapi para lansia. Banyak orang beranggapan bahwa pikun (demensia) merupakan bagian dari proses menua, sehingga wajar dialami oleh orang usia lanjut. Namun sebenarnya tidak semua usia lanjut akan mengalami demensia, dan demensia biasanya menjadi semakin parah karena seringkali tidak terdeteksi sehingga terlambat ditangani.

Bila dibiarkan, demensia dapat menyebabkan seseorang menjadi tergantung pada orang lain, kehilangan saat berharga dengan keluarga, dan bila disertai dengan gangguan perilaku dapat meningkatkan stres bagi keluarga maupun orang yang merawatnya. Belum lagi tingginya biaya perawatan yang harus dikeluarkan untuk merawat lansia yang mengalami dimensia.

Gejala demensia biasanya memang tidak disadari oleh individu bersangkutan, justru orang-orang di sekitarnya yang kerap terganggu karena sifat pelupa tersebut. Terdapat beberapa gejala demensia yang sebaiknya Anda waspadai, yaitu:

  • Sering lupa nama, nomor telepon, atau tugas, dan tidak dapat mengingatnya kembali.
  • Sulit merencanakan dan menyelesaikan tugas harian. Misalnya memasak namun lupa mematikan kompor.
  • Lupa kata-kata sederhana atau menggunakan kata secara tidak tepat sehingga sulit dimengerti.
  • Tersesat di lingkungan sendiri, tidak ingat jalan pulang dan tidak mengenali lokasi tempatnya berada.
  • Berpakaian tidak sesuai dengan lingkungan.
  • Sulit menghitung, lupa kegunaan dan sulit berpikir abstrak.
  • Meletakkan barang di tempat yang tidak sesuai, misalnya kacamata di lemari pendingin atau meletakkan kunci di tempat gula.
  • Sering berubah suasana hati dengan cepat tanpa sebab.
  • Mengalami perubahan kepribadian, misalnya mudah curiga, takut dan bingung.
  • Kehilangan inisiatif untuk beraktivitas, lebih suka tidur berlama-lama atau menonton televisi.

Jika sudah terlihat gejala-gejala di atas, segeralah berkonsultasi dengan dokter agar kondisi tersebut tidak semakin parah. Demensia dapat dihambat perkembangannya dengan obat yang akan diberikan setelah dilakukan pemeriksaan secara seksama. Selain itu, sebenarnya ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi dimensia yaitu melakukan aktivitas harian seoptimal mungkin dengan membiasakan diri melakukan pekerjaan secara teratur dan berurutan, serta melakukan aktivitas yang bersifat rekreasi dan memacu kerja otak atau kreativitas seperti membaca, bermain catur atau puzzle, berkumpul bersama teman, mendengarkan musik, dan lain-lain.

Gangguan Fisik & Psikis Orang yang Merawat Penderita Demensia

Karena berbagai gangguan intelektual dan gangguan fungsi eksekutif, penderita demensia kerap mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari maupun dalam melakukan perencanaan dan keputusan. Dalam kondisi ini, orang yang merawat memiliki peran sangat penting agar lansia merasa nyaman dan aman, tercukupi semua kebutuhannya, serta mendapatkan perhatian dan kasih sayang.

Agar kondisi penderita demensia dapat membaik, orang yang merawat harus memiliki sikap empati, sabar dan hangat pada pasien, berusaha mengerti penyebab dan arti dibalik perilaku pasien, dapat beradaptasi dan mau toleransi, mengusahakan secara realistik keinginan pasien, mengikuti jadwal rutin pasien, menghargai pasien sebagai pribadi yang memiliki emosi dan perasaan, tidak malu atau menyembunyikan keadaan penyakit pasien, dan memiliki kemampuan mengekspresikan diri, kreatif, serta punya kemauan memecahkan masalah dan merasa puas dalam merawat penderita demensia.

Menjadi orang yang merawat bukanlah pekerjaan yang ringan dan mudah sebab tidak hanya memerlukan pengetahuan dan keterampilan, namun juga harus memiliki kemauan, pengabdian dan kesabaran. Selain harus menghadapi masalah praktis perawatan, orang yang merawat kadang kala juga harus menghadapi beban emosional yang cukup berat saat harus merawat penderita demensia yang mengalami problem perilaku maupun depresi.

Sebagai manusia, orang yang merawat juga mempunyai keterbatasan dalam hal mental, fisik dan emosional hingga wajar saja dalam menjalankan tugasnya mengurus penderita demensia dapat terserang rasa jenuh, kesal, cemas, marah , lelah, sampai depresi. Beberapa faktor yang mempengaruhi ketahanan mental orang yang merawat antara lain adalah usia, jenis kelamin, pendidikan, hubungan keluarga, hingga kepribadian orang yang merawat itu sendiri.

Selain ketahanan mental, beberapa masalah kesehatan juga dialami para orang yang merawat, yang paling sering adalah depresi dan kecemasan. Status kesehatan orang yang merawat juga kerap kali lebih buruk dibanding orang yang tidak menjadi orang yang merawat, misalnya imunitas yang lebih rendah dan risiko kematian yang lebih tinggi 63%. Karena tugas yang harus dilakukan memiliki tingkat stres tinggi, orang yang merawat memerlukan bantuan untuk menghindari hal-hal yang dapat mempengaruhi pelayanan yang diberikan kepada pasien demensia.

Sumber: Presentasi dr. Ria, SpKJ dalam Pertemuan Caregiver (Orang yang Merawat) Demensia di Sanatorium Dharmawangsa tanggal 15 Februari 2008


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: