Posted by: Kurnia | April 23, 2009

Kebesaran Itu Menurun

“Kebesaran Itu Menurun”
“Sebesar 80 persen kegemukan pada anak bermula dari ayah-ibu yang gemuk.”
Kami memanggilnya Papi Ageung–dalam bahasa Sunda, ageung berarti besar. Istrinya tentu disebut Mami Ageung. Nama itu tak hanya menunjukkan posisinya sebagai anak terbesar dalam keluarga, tapi juga karena bentuk badannya yang besar ke samping dan ke atas. “Kebesaran” itu ternyata hingga kini masih kami temukan pada keluarga tersebut, bukan cuma pada anak-anaknya, tapi juga cucu-cucunya.

Ketika melihat sebuah keluarga tengah berkumpul di restoran di Jakarta Selatan pada suatu sore, saya teringat kepada keluarga ageung itu. Maklum, keempat anggota keluarga tersebut, dilihat dari ukurannya, semua rata-rata bulat. Semuanya pun tampak tak berhenti mengunyah. Profesor Dr Ir Ali Khomsan, ahli gizi dan pangan dari Institut Pertanian Bogor, menyatakan faktor keturunan memang mempunyai peranan penting dalam pola makan secara berlebihan. “Sebesar 80 persen kegemukan pada anak bermula dari ayah-ibu yang gemuk,” ia menegaskan dalam Media Workshop Nestle Indonesia beberapa waktu yang lalu.

Ketika ayah dan ibunya sudah terbiasa dengan porsi besar, pola itu berlanjut kepada sang anak. Demikian juga dengan pilihan jenis makanannya. Manakala si ayah dan ibu punya hobi makanan berlemak, si anak kemungkinan lebih dini mengenalnya, bahkan bisa menjadi penggemarnya. Ali menyebutkan, dengan sekali makan di restoran cepat saja, si anak telah memenuhi kebutuhannya dalam sehari. Lazimnya, si anak dengan pola makan berlebihan tak cukup mengkonsumsi satu potong ayam dan satu kantong kentang goreng. Selain porsi ditambah, jenis makanannya pun lebih beragam, misalnya, plus burger dan minuman soda. Walhasil, sekali kunjungan asupan kalorinya bisa mencapai 1.300 kkal. Padahal kebutuhan anak usia 7-9 tahun per hari hanya sekitar 1.800 kkal.

Erika Wasito, ahli nutrisi dari Nestle Indonesia, menyatakan kebutuhan kalori setiap orang itu berbeda-beda. Secara umum, ia menyebutkan, setiap orang membutuhkan rata-rata 2.000 kalori. Namun, kemudian berlainan karena tergantung usia, jenis kelamin, dan aktivitasnya. Berdasarkan jenis kelamin, perempuan berusia 19-49 tahun membutuhkan 1.800-1.900 kkal, sedangkan pria dari kelompok usia yang sama memerlukan 2.350-2.550 kkal. Khusus pria dengan aktivitas tinggi bisa mencapai 3.000 kkal per hari. Erika menyebutkan, yang penting energi yang masuk sebanding dengan energi yang keluar. Karena itu, intinya diet yang seimbang. Diet yang seimbang mencakup karbohidrat (55 persen), protein (15 persen), dan lemak (30 persen).

Dari data SKRT, Ali menemukan tren anak balita yang pendek semakin menurun. Misalnya pada 2001 mencapai 34,3 persen dan pada 2004 menjadi 25,8 persen. Lantas, survei pada 2008 di sekolah dasar swasta di Jakarta menunjukkan persentasenya tinggal 20 persen, sedangkan survei anak sekolah dasar yang gemuk di Bogor pada 2007 menemukan angka 30 persen. “Persentase yang berubah itu mengimplikasikan pendapatan orang tuanya,” katanya. Semakin tinggi pendapatan, tentunya anak mendapat asupan yang lebih baik, bahkan hingga berlebihan. Selain itu, berat dan tinggi badan meningkat.

Masalahnya, menurut Ali, bila kegemukan pada anak-anak terus berlanjut hingga dewasa, penyakit penyerta pun akan segera menyerang. Selain itu, kegemukan pada anak memberi dampak sosial-psikologi. Artinya, ia menyebutkan, anak menjadi pemalu karena diledek teman-temannya. Biasanya, ia menambahkan, kegemukan itu tidak berlanjut hingga dewasa bila ketika remaja si anak melakukan berbagai aktivitas fisik.

Namun, bila terus berlanjut, hingga berakibat obesitas, ada risiko ganda. Erika menyebutkan, ketika mengalami obesitas, serangan stroke menjadi berganda, demikian juga tekanan darah tinggi, osteoarthritis, kanker pankreas, kanker kolon, dan masalah kehamilan. Yang berisiko menjadi tiga kali lipat adalah batu empedu, kanker payudara, dan rematik. Lantas masih ada risiko yang lebih tinggi, seperti kanker rahim (lima kali lipat), jantung koroner (enam kali lipat), dan diabetes tipe 2 sekitar 10 kali lebih tinggi.

Dari ukuran lingkar pinggang, Erika menyebutkan, bisa dilihat risiko penyakit. Erika mengatakan, yang tergolong berisiko lebih tinggi bila pria memiliki lingkar pinggang lebih dari 90 sentimeter dan perempuan lebih dari 80 sentimeter. Dari sisi gender, ternyata perempuan lebih rentan mengalami kelebihan berat badan. Ali menyebutkan, data 2005 menunjukkan bahwa kegemukan pada pria di atas usia 30 tahun lebih hanya sekitar 12,1 persen, sedangkan pada wanita dalam usia yang sama mencapai 27,8 persen. Angka obesitas pun menunjukkan kecenderungan yang serupa. Obesitas pada pria berusia di atas 35 tahun hanya 5,6 persen, sedangkan pada perempuan mencapai 17,3 persen.

Untuk menjaga keseimbangan itu, Erika menyarankan mengkonsumsi makanan yang bervariasi, kemudian melakukan aktivitas fisik yang seimbang. RITA

Menakar Kebutuhan

1.. Setiap hari anak memerlukan 1.800 kkal.
2.. Sayuran yang dibutuhkan 3-4 porsi. Satu porsi sekitar 25 kkal.
3.. Buah-buahan sebanyak 4-5 porsi, dengan ukuran 40 kkal. Satu porsi sebesar bola tenis atau satu gelas jus.
4.. Tiga porsi kelompok padi-padian. Bila berupa nasi atau mi, pilih satu takaran bola tenis. Demikian juga kentang, cukup setengah mangkuk. Bila pilih roti, cukup dua lembar.
5.. Daging-dagingan 200 gram. Satu porsi bisa disiapkan 100 kkal dan per hari bisa dibuat 2-3 porsi.
6.. Produk susu dan olahannya empat porsi.
7.. Dua sendok minyak.
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/04/22/Gaya_Hidup/krn.20090422.163144.id.html


Responses

  1. […] Gizi Anak, Tak Kurang Tak Lebih Terkait dengan Kebesaran itu Menurun […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: