Posted by: Kurnia | April 23, 2009

Saat Stroke Tidak Pilih Usia

Selasa, 07 April 2009 | 11:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Entis Sutisna, 34 tahun, berjalan tegap bersama rekan lain peserta Gema Nusa 10K di Bandung, pada 2006. Hingga separuh jarak tempuh, Entis dengan nomor dada 8764, masih dalam kondisi prima. Namun, pada 1 kilometer berikutnya, warga Marga Senang, Bandung, itu mendadak ambruk. Tepatnya di Kilometer 6 Jalan Soekarno-Hatta. Sayangnya, nyawa Entis tetap tidak tertolong walau segera diboyong ke Rumah Sakit Immanuel, Bandung. Dia diketahui telah meninggal sejak di lokasi ambruknya itu dan pihak rumah sakit mengatakan bahwa Entis terkena serangan jantung.

Kasus Entis tersebut menunjukkan bahwa stroke tidak lagi identik dengan usia di atas kepala lima. Kini penyakit mematikan kedua di Jepang setelah kanker itu mulai menyerang lebih awal. Malahan, menurut Spesialis Bedah Saraf Rumah Sakit Mayapada, Tangerang, Banten, Dr Syafrizal Abubakar Sp.BS, ada pasiennya yang berusia 30 tahun sudah terkena stroke. “Perubahan gaya hidup menjadi faktor risiko terkena stroke,” katanya seusai seminar mengenai stroke di Rumah Sakit Mayapada, Tangerang, beberapa waktu lalu.

Menurut Kepala Bagian Bedah Saraf RS Mayapada, Dr Roslan Yusni Hasan, Sp.BS, stroke adalah gangguan saraf yang permanen. Stroke itu dibagi dua jenis, yaitu penyumbatan dan perdarahan. Penyumbatan itu disebabkan oleh penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah atau pembekuan darah yang menyumbat alirannya ke otak. Sedang perdarahan terjadi karena pembuluh darah pecah sehingga menghambat aliran darah yang normal dan merembes ke area otak dan merusaknya. “Kedua jenis stroke ini tidak sama, tetapi gejalanya banyak yang sama,” katanya pada kesempatan yang sama.

Nah, lalu apa yang menyebabkan usia muda rentan terkena stroke? Sejumlah kasus stroke di usia muda, menurut Syafrizal, diakibatkan tingkat depresi yang tinggi dan pola makan buruk. “Stres menyumbang 20 persen penyebab stroke,” ujarnya. Stres ini bakal memicu naiknya tekanan darah dan menaikkan kolesterol dalam darah. Kondisi inilah yang membuat pembuluh darah menjadi tersumbat. Belum lagi ditambah kebiasaan kawula muda mengkonsumsi makanan cepat saji.

Artinya, stroke itu adalah hasil akhir dari penyakit yang sudah mendahului sebelumnya. Seperti kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi maupun kencing manis atau diabetes melitus. Malahan, penderita kencing manis cuma tinggal menunggu waktu saja untuk terkena stroke. Sebab, pembuluh darahnya sudah terkontaminasi. “Ini adalah faktor risiko yang berjalan,” Roslan menjelaskan. Masalahnya, jika sekali sudah terkena stroke, risiko seseorang terserang lagi akan lebih besar. “Itu karena kualitas pembuluh darahnya sudah jelek.”

Stroke sendiri menyerang tanpa mengenal waktu. Namun, pada sejumlah kasus, stroke terjadi pada saat pasien tidur di pagi hari karena sebelum lewat pukul 10 pagi tekanan darah memasuki angka paling tinggi. Biasanya dari sore menjelang malam, tekanan darah akan mulai turun kembali. “Karena itu, obat darah tinggi disarankan diminum di pagi hari,” ujar Roslan. Untuk itu, sebelum terjadi “serangan otak”, segala faktor risiko harus dikontrol. Kecuali, tentunya faktor risiko yang tidak bisa dikontrol seperti usia dan genetik.

Dari presentasi yang disampaikan spesialis rehabilitasi medik RS Mayapada, dr Ita Kartika, Sp.RM, ditunjukkan bahwa 15 hingga 30 persen dari segala tipe stroke berisiko tinggi menjadi cacat permanen. Baik fungsi kognitif, motorik, maupun kemampuan verbal. Sayangnya, hal ini biasa terjadi karena mustahil puskesmas memiliki fasilitas pemeriksaan neurologi lanjutan. “Mereka tidak memiliki CT Scan atau MRI,” ujarnya. Malah, menurut Roslan, sekitar 26 persen stroke, walau sudah diobati, berakhir pada kematian.

Lebih jauh, spesialis bedah saraf RS Mayapada, Profesor Doktor Satyanegara Sp.BS, mengatakan bahwa stroke dapat dicegah lebih awal dengan melakukan pemeriksaan secara teratur dengan melakukan general check up dan brain dock. “Selain itu, diperlukan pengendalian emosi dan pola hidup yang baik,” ujarnya saat jumpa media.

Adapun, berdasarkan makalah Roslan, di Negeri Abang Sam ada sekitar 600 ribu per tahun kasus baru stroke yang muncul dan 300 ribu di antaranya di ambang kematian. Sedangkan dalam skala lebih kecil, RS Mayapada dalam sepekan terakhir ini setiap harinya menangani lima pasien baru stroke. “Usianya bervariasi dan ada juga dari kalangan ekonomi kelas bawah,” kata dokter asal Surabaya itu.

HERU TRIYONO

Hindari Stroke
1. Kontrol faktor risiko, seperti tekanan darah, kolesterol, dan kencing manis.
2. Pola makan disesuaikan dengan faktor risiko yang dimiliki.
3. Olahraga untuk melancarkan aliran darah.
4. Kelola stres atau depresi dengan baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: