Posted by: Kurnia | April 28, 2009

Kasus ADHD Terus Meningkat

Sunday, 26 April 2009
KASUS ADHD seolah terus meningkat jumlahnya. Sebenarnya secara jumlah tidak meningkat, hanya karena pengetahuan seputar ADHD semakin tinggi, semakin banyak pula kasus ADHD yang ditemukan.

Data menyebutkan bahwa 4%- 12% di antara anak usia sekolah mengalami ADHD dengan tingkat gender laki-laki: perempuan = 4:1 sampai 9:1. Dari jumlah tersebut, 30%- 80% menetap sampai remaja dan 65% menetap sampai dewasa. Di Indonesia, ADHD belum banyak diketahui, padahal kasus ini terhitung kasus yang tidak sedikit.

Sedangkan, laporan dari WHO menyebutkan, satu di antara lima anak dan remaja usia di bawah 18 tahun memiliki masalah kesehatan jiwa. Sedangkan 3%-4% dari kelompok umur tersebut memiliki gangguan kesehatan jiwa yang serius dan memerlukan penanganan yang memadai. Anak Indonesia yang berumur 5-9 tahun berjumlah 20 juta, sedangkan10-14 tahun berjumlah 20 juta. Adapun 5% dari 2 juta anak harus mendapat terapi dan perhatian khusus baik di rumah, dalam pergaulan atau disekolah.

“Jumlah anak ADHD diperkirakan sekitar 3%- 7 % di antara anak sekolah. Di Jakarta, ditemukan 26,2% dari anak berumur 6-13 yang mengalami ADHD,” kata Dr dr Dwidjo Saputro SpKJ (K). (inggrid)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/232989/

Kebiasaan Anak Berkebutuhan Khusus
Sunday, 26 April 2009
ANAKberkebutuhan khusus tertentu terbiasa melakukan perbuatan untuk mendapatkan perhatian orang tua. Namun, tindakan tersebut biasanya adalah perbuatan negatif.

Perilaku tersebut antara lain stimulasi diri, melukai diri sendiri, mengamuk atau menyerang orang lain. Self-stimulation atau stimulasi diri merupakan perilaku stereotip yang berulang yang terlihat tidak bertujuan selain stimulasi sensori, seperti memainkan ludahnya, memutarmutar suatu benda, memainkan tangannya (hand flapping), menatap sesuatu dalam waktu yang lama, dan sebagainya. Self-injury atau melukai diri sendiri.

Anak biasanya menganiaya diri sendiri secara berulang seperti menggigit, mencakar atau memukuli dirinya sendiri, membenturkan kepalanya, dan sebagainya. Terkadang stimulasi diri yang terlalu sering dan intens dapat menjadi melukai dirinya sendiri seperti menggigit tangannya, memukuli kepala, dan tubuhnya, mengulum tangannya, dan mencubit dirinya. Mengamuk. Tentu saja ini sangat merepotkan. Dalam hal ini, anak akan melukai diri sendiri, berteriak, menangis, melempar atau merusak barang dan agresi terhadap orang lain.

Biasanya terjadi karena anak merasa marah dan frustrasi karena tidak mampu mengekspresikan dirinya. Namun demikian, ada juga anak yang terbiasa mengamuk demi mendapatkan keinginannya. Aggression toward others (menyerang orang lain) seperti memukul orang lain, melemparkan barang menuju orang lain, dan perilaku serupa lainnya.

//http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/232988/

Dampingi Anak Berkebutuhan Khusus
Sunday, 26 April 2009
PERLU perhatian khusus untuk membesarkan anak berkebutuhan khusus.Bila dibimbing secara maksimal, mereka bisa tumbuh seperti anak normal lainnya.

Jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia terus meningkat jumlahnya.Pada Hari Autis Sedunia yang jatuh pada 8 April lalu diketahui bahwa prevalensi anak berkebutuhan khusus saat ini mencapai 10 anak dari 100 anak.Berdasarkan data ini menunjukkan 10% populasi anak-anak adalah anak berkebutuhan khusus dan mereka harus mendapatkan pelayanan khusus.

Anak yang dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental, ketidakmampuan belajar atau gangguan atensi, gangguan emosional atau perilaku, hambatan fisik, komunikasi, autisme,traumatic brain injury, hambatan pendengaran, hambatan penglihatan, dan anak-anak yang memiliki bakat khusus.

“Mereka secara fisik, psikologis, kognitif atau sosial terhambat dalam mencapai aktualisasi potensinya secara maksimal,” ucap Dra Psi Heryanti Satyadi MSi saat acara seminar bertema “Mengatasi Anak Berkebutuhan Khusus/Special Needs” yang diselenggarakan KiddyCuts. Psikolog yang berpraktik di Jalan Paku Buwono VI No84 Kebayoran Baru ini juga mengatakan,meningkatnya populasi anak berkebutuhan khusus ini salah satunya karena perubahan gaya hidup.

“Banyak penyebab meningkatnya angka populasi ini.Yang pertama adalah karena semakin banyaknya orang yang peduli terhadap anak berkebutuhan khusus dan adanya perubahan gaya hidup yang memang berbeda pada zaman dulu,” ujarnya psikolog dari I Love My Psychologist ini. Di zaman sekarang ini, banyak orang tua yang hanya memiliki sedikit waktu untuk keluarga. Hal tersebut juga berdampak pada anak-anak yang menjadi kurang perhatian, terutama pada anakanak yang berkebutuhan khusus.

“Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang memang secara signifikan berbeda dalam beberapa dimensi yang penting dari fungsi kemanusiaannya,” papar psikolog yang berpraktik di Kawasan Kelapa Gading ini. Penyebab seorang anak mengalami keterbelakangan mental ini disebabkan beberapa hal.Antara lain dari dalam dan dari luar. Jika dari dalam adalah karena faktor keturunan. Sedangkan dari luar memiliki banyak penyebab.

Penyebab dari luar ada beberapa faktor. Satu di antaranya karena maternal malanutritisi (malanutrisi pada ibu).Ini biasanya terjadi pada ibu hamil yang tidak menjaga pola makan yang sehat, keracunan atau efek substansi. Hal tersebut bisa memicu kerusakan pada plasma inti,kerusakan pada otak waktu kelahiran, gangguan pada otak. Misalnya tumor otak, bisa juga karena gangguan fisiologis seperti down syndrome. “Penyebab dari luar juga bisa. Misalnya karena pengaruh lingkungan dan kebudayaan.

Biasanya ini terjadi pada anak yang dibesarkan di lingkungan yang buruk. Kasus abusif, penolakan atau kurang stimulasi yang ekstrem dapat berakibat pada keterbelakangan mental,” katanya. Pada umumnya, anak-anak yang berkebutuhan khusus dan sebagian anak normal mengembangkan suatu bentuk perilaku yang perlu perhatian dan penanganan secara khusus dan hati-hati. Perilaku tersebut bisa saja terjadi karena anak merasa frustrasi tidak dapat mengekspresikan dirinya dengan kata-kata yang komunikatif agar dipahami orang lain.

Akhirnya amarahnya meledak dan mengamuk. “Banyak anak berkebutuhan khusus mengalami masalah serius dalam pengendalian perilaku dan memerlukan bantuan untuk mengendalikan ledakan-ledakan perilaku agresif, yang tidak relevan dengan situasi sosial sehari-hari,” papar ibu dua anak ini. Dokter ahli kejiwaan Dr Ika Widyawati SpKJ (K) mengatakan, anak yang perlu penanganan khusus tidak harus belajar di sekolah khusus.

Mereka bisa saja disekolahkan di sekolah umum bersama anak normal lainnya. “Jika anak disekolahkan di sekolah umum,itu adalah langkah yang tepat dilakukan orang tua asalkan mereka bisa mengikuti pelajarannya,” ujar Kepala Divisi Psikiatri Anak Departemen Psikiatri FKUI/RSCM tersebut. (inggrid namirazswara)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/232990/

Jangan Lupakan Faktor Lingkungan
Sunday, 26 April 2009
BANYAKupaya yang bisa dilakukan untuk membantu anak berkebutuhan khusus. Di antaranya dengan melakukan pengelolaan perilaku yang diberikan secara khusus sesuai kemampuannya dan pengelolaan lingkungan fisik tempat ia berada.

Psikolog dari I Love My Psychologist, Dra Psi Heryanti Satyadi MSi menyebutkan,mengelola lingkungan anak berkebutuhan khusus adalah hal yang harus diperhatikan. “Menempatkan anak di lingkungan yang tepat bisa dilakukan orang tua.Malah itu bisa meningkatkan potensi mereka,” tutur psikolog yang sedang kuliah doktoral di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Heryanti menjelaskan, pengelolaan lingkungan fisik menciptakan kondisi yang memungkinkan agar anak berkebutuhan khusus dapat berkembang secara optimal. “Yang terpenting adalah kepekaan orang tua menangani anak berkebutuhan khusus agar segera ditangani,”ujar psikolog yang aktif di pembinaan gender “Wanita Bijak” Indonesia sebagai pembicara. Ahli kejiwaan dari Smart Kids Clinic, Dr dr Dwidjo Saputro SpKJ (K) mengatakan, untuk mengembangkan potensi optimal, anak berkebutuhan khusus bisa disekolahkan di sekolah umum.

Hal ini justru memacu anak berkebutuhan khusus berkembang secara normal. Di Patmos contohnya. Di sekolah ini anak-anak berkebutuhan khusus disatukan dengan anak normal lainnya.Mereka mendapatkan materi yang sama saat menerima pelajaran hingga akhirnya IQ mereka pun bagus dan bahkan bisa setara. “Asalkan mereka bisa mengikuti pelajaran dengan memiliki IQ yang normal,maka tidak masalah,”ucap dokter yang mengambil gelar doktornya di FKUI ini.

Dwidjo menjelaskan, banyak anak dengan potensi normal ternyata mengalami kesulitan belajar karena gangguan dalam perkembangan kematangan belajarnya, seperti ADHD (gangguan konsentrasi dan hiperaktif). Anak-anak yang mengalami kesulitan belajar tersebut memiliki gaya belajar yang unik sehingga untuk mengembangkan potensi mereka,sangat diperlukan lingkungan belajar yang kondusif, metode belajar yang inovatif,serta guru yang mengasihi dan mau mengerti kebutuhan anak.

“Jika mereka kita bimbing dengan benar sesuai dengan potensi dan keunikan yang dimilikinya, maka setiap anak yang mengalami kesulitan belajar dapat menjadi anak yang cerdas, mandiri, disiplin, dan percaya diri,”pesannya. (inggrid namirazswara)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/232991/

Kenali Gejalanya sejak Dini
Sunday, 26 April 2009
ANAKAnda sulit fokus saat belajar? Bisa jadi buah hati Anda terkena ADHD (attention deficit hyperactivity disorder). Sebab itu,kenali gejalanya sejak dini.

ADHD merupakan suatu gangguan perilaku yang ditandai dengan kurangnya perhatian (inattentiveness), aktivitas berlebihan (overactivity) dan perilaku impulsif (impulsivity) yang tidak sesuai dengan umumnya. Dr dr Dwidjo Saputro SpKJ (K) mengatakan, ADHD merupakan kelainan psikiatrik dan perilaku yang paling sering ditemukan pada anak.ADHD dapat berlanjut sampai masa remaja, bahkan dewasa. Pada anak usia sekolah,ADHD berupa gangguan akademik dan interaksi sosial dengan teman.

Sementara pada anak dan remaja dan dewasa juga menimbulkan masalah yang serius. Kurangnya perhatian adalah salah satu gejala ADHD. Biasanya anak selalu gagal memberi perhatian yang cukup terhadap detail. Atau anak selalu membuat kesalahan karena ceroboh saat mengerjakan pekerjaan sekolah, bekerja atau aktivitas lain. Sering sulit mempertahankan pemusatan perhatian saat bermain atau bekerja.

Sering seperti tidak mendengarkan bila diajak bicara.Dan atau pelupa dalam aktivitas sehari-hari. Gejala kedua yang harus diwaspadai adalah hiperaktivitas yang menetap selama 6 bulan atau lebih dengan derajat berat dan tidak sesuai dengan umur perkembangan. Gejala hiperaktivitas itu di antaranya anak sering bermain jari atau tidak dapat duduk diam.Ia sering kali meninggalkan kursi di sekolah atau situasi lain yang memerlukan duduk di kursi. Anak juga sering lari dan memanjat berlebihan di situasi yang tidak tepat,selalu bergerak seperti didorong motor.

Sedangkan pada gejala implusivitas, misalnya sering menjawab sebelum pertanyaan selesai ditanyakan, sering sulit menunggu giliran, dan sering menginterupsi atau mengganggu anak lain,misalnya menyela suatu percakapan. “Anak ADHD sering dianggap anak nakal, malas, ceroboh, dan lain-lain.Padahal terapi yang tepat akan menghilangkan gejala pada anak ADH,” kata ahli kejiwaan yang juga pendiri dari Smart Kids Clinic – klinik Perkembangan Anak dan Kesulitan Belajar ini.Biasanya gejala hiperaktif-impulsif mulai terlihat sebelum umur 7 tahun.

Gejala terjadi di dua situasi berbeda atau lebih, misal di sekolah dan di rumah. Selain itu gejala bukan merupakan bagian gangguan perkembangan pervasif (autisme), schizophrenia, atau gangguan jiwa berat lain, dan bukan disebabkan gangguan mood, kecemasan atau ansietas, gangguan disosiasi atau gangguan kepribadian. “Orang tua harus hati-hati dalam menentukan apakah anak ADHD atau tidak,” ucap dokter yang kemudian mengambil spesialisasi di FKUI itu0.

Untuk menegakkan diagnosis, diperlukan kombinasi keterangan mengenai riwayat penyakit,pemeriksaan medis,dan observasi terhadap perilaku anak.Keterangan ini sebaiknya diperoleh dari orang tua,guru,dan anak sendiri. Observasi bisa dilakukan pada saat anak melakukan pekerjaan terstruktur di kelas,atau saat anak sedang bermain bebas bersama anak lain.Walaupun ADHD seharusnya muncul di setiap situasi,gejala mungkin tidak jelas bila penderita sedang melakukan aktivitas yang disukainya,sedang mendapat perhatian khusus atau berada dalam situasi yang memberi penghargaan pada tingkah laku yang normal.

Dengan demikian, pengawasan selintas di kamar praktik sering gagal untuk menentukan ADHD. Sementara dokter yang juga merupakan pakar autis,Dr Hardiono Pusponegoro SpA (K) menuturkan bahwa sebenarnya jumlah penderita penyakit ini tidak meningkat.” Penyakit yang sering disertai dengan gangguan psikiatri lain ini bukan meningkat, tetapi semakin banyak orang yang tahu tentang penyakit ini,”ucap dokter dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tersebut.

Bila dikelola dengan baik, ADHD bisa dicegah.Namun, bila tidak ditangani secara dini, kasus ADHD dapat menjadi pemicu pengguna awal minuman beralkohol, rokok, dan narkoba pada usia muda.(inggrid namirazswara)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/232992/


Responses

  1. Klw mau konsul ketemu dr dwidyo saputro…kliniknya b’alamat di mana? Thk u


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: