Posted by: Kurnia | April 28, 2009

Satu (Lagi) Langkah Demi Vitamin A

Setelah kampanye telur, suplemen, kini minyak goreng.
Najma, 3 tahun, langsung membuka mulutnya ketika petugas posyandu siap memberinya tetesan vitamin A. Sekejap setitik cairan itu sudah menerobos kerongkongannya. Bocah yang tinggal di Tangerang itu tertawa senang. Ini bukan pertama kalinya Najma mendapat jatah suplemen vitamin A. Maklum, suplemen ini memang didistribusikan ke berbagai posyandu, meski ternyata tak kunjung mendongkrak asupan vitamin A anak sesuai rekomendasi. Departemen Kesehatan mencatat pencapaiannya baru 50-80 persen.

Kampanye nasional sebelumnya–dengan cara meningkatkan asupan telur dan sayuran hijau–malah cuma menghasilkan angka 15-18 persen. Tak mengherankan jika Badan Kesehatan Dunia dan studi vitamin A di negeri ini dengan telak menyebutkan 25-30 persen kematian bayi dan balita disebabkan defisiensi vitamin A (DPA).

Pada anak, DPA bisa membuat daya tahan anak menurun sehingga rentan terhadap penyakit. Dalam level yang parah, Profesor Ali Khomsan dari Institut Pertanian Bogor menyatakan DPA bisa memicu xeroftalmia atau kebutaan. Pemicu kekurangan vitamin ini, ia menyatakan, adalah bayi tidak mendapat air susu ibu (ASI), menu sehari-hari rendah vitamin A dan rendah lemak, serta pemberian ASI tapi tanpa makanan tambahan atau orang tua memiliki pantangan makanan.

Pada saat kesempatan lain, yakni dalam jumpa pers mengenai minyak goreng fortifikasi vitamin A, Selasa pekan lalu, Dr Ir Drajat Martianto, ahli gizi dan pangan dari IPB, menyebutkan, asupan vitamin A secara sederhana bisa diperoleh dari sayuran, buah-buahan, dan daging. Cuma karena harganya tinggi, terutama daging, masyarakat kelas bawah tidak bisa membelinya. Walhasil, kasus DPA pun masih terjadi. Karena itu, berbagai pihak terkait, bahkan dengan dukungan Pemerintah Jerman, melakukan penelitian tentang fortifikasi minyak goreng dengan vitamin A.

Profesor Soekirman, Direktur Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI), mengatakan fortifikasi adalah pengkayaan bahan makanan pokok yang dikonsumsi masyarakat dengan zat gizi mikro yang dibutuhkan. Dan ia menambahkan, produk ini merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk menambah asupan vitamin A bagi yang kekurangan. Minyak goreng dipilih karena 91-94 persen keluarga mengkonsumsinya per hari. Sekitar 71-84 persen minyak goreng curah dikonsumsi kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Balita terhitung mengkonsumsi 17,3 gram per hari, sedangkan wanita 20,5 gram per hari. Proyek percontohan pun digelar di Makassar. Drajat berkutat dengan minyak curah yang dibubuhi vitamin A.

Drajat menyebutkan, kandungan vitamin A pada minyak goreng tergolong stabil ketika dipanaskan. Bahkan hingga tiga kali penggorengan, meski kadarnya menurun. Studi Drajat di Makassar menunjukkan bahwa pada ikan kembung yang digoreng dalam suhu 160-180 derajat Celsius, kandungan vitamin A pada penggorengan pertama turun jadi 94 persen, kedua 77 persen, ketiga baru 60 persen. Ia juga mengatakan vitamin A tidak stabil terhadap sinar ultraviolet langsung. “Jadi, selama tidak ditempatkan di lapangan terbuka, tidak terjadi penurunan besar” ia menambahkan.

Pada anak, DPA bisa membuat daya tahan anak menurun sehingga rentan terhadap penyakit. Dalam level yang parah, Profesor Ali Khomsan dari Institut Pertanian Bogor menyatakan DPA bisa memicu xeroftalmia atau kebutaan. Pemicu kekurangan vitamin ini, ia menyatakan, adalah bayi tidak mendapat air susu ibu (ASI), menu sehari-hari rendah vitamin A dan rendah lemak, serta pemberian ASI tapi tanpa makanan tambahan atau orang tua memiliki pantangan makanan.

Pada saat kesempatan lain, yakni dalam jumpa pers mengenai minyak goreng fortifikasi vitamin A, Selasa pekan lalu, Dr Ir Drajat Martianto, ahli gizi dan pangan dari IPB, menyebutkan, asupan vitamin A secara sederhana bisa diperoleh dari sayuran, buah-buahan, dan daging. Cuma karena harganya tinggi, terutama daging, masyarakat kelas bawah tidak bisa membelinya. Walhasil, kasus DPA pun masih terjadi. Karena itu, berbagai pihak terkait, bahkan dengan dukungan Pemerintah Jerman, melakukan penelitian tentang fortifikasi minyak goreng dengan vitamin A.

Profesor Soekirman, Direktur Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI), mengatakan fortifikasi adalah pengkayaan bahan makanan pokok yang dikonsumsi masyarakat dengan zat gizi mikro yang dibutuhkan. Dan ia menambahkan, produk ini merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk menambah asupan vitamin A bagi yang kekurangan. Minyak goreng dipilih karena 91-94 persen keluarga mengkonsumsinya per hari. Sekitar 71-84 persen minyak goreng curah dikonsumsi kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Balita terhitung mengkonsumsi 17,3 gram per hari, sedangkan wanita 20,5 gram per hari. Proyek percontohan pun digelar di Makassar. Drajat berkutat dengan minyak curah yang dibubuhi vitamin A.

Drajat menyebutkan, kandungan vitamin A pada minyak goreng tergolong stabil ketika dipanaskan. Bahkan hingga tiga kali penggorengan, meski kadarnya menurun. Studi Drajat di Makassar menunjukkan bahwa pada ikan kembung yang digoreng dalam suhu 160-180 derajat Celsius, kandungan vitamin A pada penggorengan pertama turun jadi 94 persen, kedua 77 persen, ketiga baru 60 persen. Ia juga mengatakan vitamin A tidak stabil terhadap sinar ultraviolet langsung. “Jadi, selama tidak ditempatkan di lapangan terbuka, tidak terjadi penurunan besar,” ia menambahkan.

Artinya, bila disimpan dalam rak terbuka di warung atau di rumah, tidak ada perubahan signifikan. Dari studi Drajat di Makassar, minyak goreng jenis ini dalam wadah tertutup, yang disimpan di toko atau warung selama sebulan, kandungan vitamin A-nya bisa bertahan 95,4 persen. Studi lain bahkan memperlihatkan, dalam minyak goreng plus vitamin A yang disimpan dalam suhu ruang dan terlindung dari sinar, kandungan vitamin A-nya bisa bertahan 78-100 persen ketika disimpan selama 24 minggu. Sebuah studi menunjukkan bahwa penurunan drastis terjadi ketika masa penyimpanan terlalu lama, seperti dalam jangka waktu 18 bulan, kadarnya vitamin A-nya tinggal 33 persen.

Efek vitamin A tersebut dalam tubuh, kata Drajat, juga bisa diketahui langsung. Asupan tersebut naik hanya dalam tiga jam mendekati 16 umol/L plasma retinol, memuncak setelah lima jam, dan baru menurun tujuh jam kemudian. Namun, untuk menjaga tidak terjadi defisiensi vitamin A, asupan vitamin ini harus dilakukan secara konsisten selama enam bulan. Pengalaman negara lain juga menunjukkan, lewat minyak goreng, kasus kekurangan vitamin A bisa diterabas. Di Kanada, pada 1944 ditemukan kasusnya mencapai 48 persen, tapi turun menjadi 2 persen hanya dalam empat tahun. Apalagi untuk memberi tambahan vitamin yang bermanfaat ini, harga minyak goreng hanya perlu dinaikkan Rp 50-100. RITA NARISWARI

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/04/27/Gaya_Hidup/krn.20090427.163663.id.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: