Posted by: Kurnia | May 1, 2009

Air Sehat, Badan Kuat

Budi (bukan nama sebenarnya), 30 tahun, terhenyak saat hasil ultrasonografi dokter menunjukkan adanya batu ginjal di dalam saluran ureternya. Air seninya didapati terlalu pekat sehingga zat-zat yang ada di dalamnya membentuk kristal batu. Salah satu penyebab utamanya, menurut dokter, adalah kurangnya asupan air minum. Ditambah aktivitasnya yang monoton dan kurang gerak. Pria dengan bobot tubuh 80 kilogram ini pun sangat gemar mengkonsumsi makanan cepat saji.

“Mobilitasnya cuma mengendarai mobil, naik lift, kemudian duduk lagi,” ujar dokter yang menangani Budi, Dr Bing Handojo, kepada Tempo seusai acara kampanye “Hidup Sehat tanpa Radikal Bebas” di Hotel Sultan, Minggu pagi. Menurut Bing, pasiennya itu tidak memenuhi standar kecukupan air minum. Seharusnya, seseorang mengkonsumsi paling tidak 2 hingga 3 liter air per hari. “Analoginya, 8 hingga 12 gelas, dalam ukuran gelas 250 cc.”

Air adalah komponen utama tubuh. Rata-rata setiap orang memiliki 60 persen cairan dari berat tubuhnya. Hampir semua sistem di dalam tubuh tergantung pada air. Air mengatur suhu badan melalui keringat, di ginjal air membuang racun melalui urine, dan membawa nutrisi bersama zat penting lainnya ke seluruh tubuh. “Orang bakal tahan lebih dari sepekan tanpa makanan. Namun, cuma beberapa hari tanpa air,” kata dokter eksentrik ini.

Lalu, bagaimana kriteria air yang sehat dan layak diminum? Menurut Bing, secara fisika, air itu harus tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau. Kemudian, secara kimia, PH-nya harus netral (7) atau basa dan tidak mengandung logam berat, racun, serta zat kimia berbahaya. Sedangkan secara biologi, air harus bebas bakteri, lumut, dan mikroba, seperti echoli dan salmonella. Lalu, jika merebus air, dianjurkan melebihi suhu 100 derajat Celsius.

Sayangnya, banyak orang yang tidak peduli terhadap kecukupan air minum sehat dalam tubuhnya. Apalagi masyarakat urban yang jarang olahraga, mereka lebih memilih minuman bersoda dan manis, merokok, serta hidup di lingkungan yang penuh polusi. Kebiasaan buruk plus lingkungan yang buruk bisa menyebabkan produksi antioksidan alami dalam tubuh menurun secara signifikan sehingga memicu berbagai macam penyakit, seperti kanker, diabetes, dan stroke.

Tak mengherankan jika industri pun melirik kecenderungan ini. Aneka produk air plus telah beredar di pasar. Dengan tambahan beragam yang semua disebutkan bisa membantu tubuh menjadi lebih sehat. Satu lagi diluncurkan oleh perusahaan alat kesehatan, Advance, dengan membuat alat–berupa botol–bernama Miracle Doctor Antioxidant Water Maker. Botol ini memproses air siap minum biasa menjadi air minum alkali, kaya akan mineral, dan berfungsi sebagai antioksidan. “Air alkali menghasilkan hidrogen aktif sebagai antioksidan,” kata Direktur Advande Divisi Water, Rommy, pada kesempatan yang sama. Botol ini memiliki cartridge antioksidan alami yang menyimpan beragam mineral alami penghasil antioksidan.

Dalam prosesnya, pengguna tinggal memasukkan air siap minum biasa ke botol. Botol diputar 180 derajat sebanyak tiga kali–agar butiran mineral penghasil antioksidan bekerja. Kemudian, diamkan selama satu menit. Maka, air dengan sendirinya akan berubah menjadi biru. Menurut Bing, warna biru itu adalah hasil proses cartridge sehingga air melebih PH di atas 7. Untuk normalnya, air layak minum PH-nya adalah 7. Sedangkan air tidak layak minum, PH-nya di bawah 7. “Biasanya berwarna kuning.”

Rommy menjelaskan, produknya ini berbeda dengan air mineral dalam kemasan. Dianalogikannya seperti bahan bakar minyak premium dan Pertamax. Yang jelas, antioksidan dalam ragam mineral alami lebih banyak ketimbang yang dalam kemasan. “Setiap dua bulan sekali cartridge diganti agar kandungannya tetap terjaga,” katanya. Cartridge dalam botol itu dihargai Rp 198 ribu, sedangkan untuk satu unitnya, pembeli harus merogoh kocek sebesar Rp 790 ribu.

Namun, idealnya, untuk mengimbangi paparan radikal bebas ke dalam tubuh, secara rutin seseorang juga harus mencukupi aneka buah dan sayur dalam menu sehari-harinya. Dianjurkan diselingi dengan banyak minum dan olahraga yang teratur. “Hindari juga stres dalam bekerja dan makanan lemak tinggi,” dokter yang memiliki bisnis outbound ini mengingatkan. HERU TRIYONO

Kriteria Air Minum Sehat

– Secara Fisika: Tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau.

– Secara Kimia: PH netral (7)/basa, tidak mengandung logam berat, racun, dan zat kimia berbahaya.

– Secara Biologi: Bebas bakteri, lumut, dan mikroba, seperti echoli, dan salmonella.

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/04/28/Gaya_Hidup/krn.20090428.163743.id.html

KESEHATAN
Penyakit Ginjal Kronik, Epidemi Global Baru
Selasa, 28 April 2009 | 05:09 WIB

Jakarta, Kompas – Dunia kini menghadapi epidemi global penyakit ginjal kronik, terutama di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Hal ini ditandai meningkatnya insiden penyakit itu dengan angka kematian karena komplikasi kardiovaskular yang tinggi dan biaya pengobatan yang sangat besar.

“Penyakit ginjal kronik (PGK) berdampak besar pada kondisi sosial dan ekonomi,” kata dr Suhardjono dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar tetap ilmu penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Sabtu (25/4) di Jakarta. Pada acara sama, dr Purwantyastuti juga dikukuhkan sebagai guru besar tetap ilmu farmakologi dan terapeutik FKUI.

Survei Perhimpunan Nefrologi Indonesia menunjukkan, 12,5 persen dari populasi mengalami penurunan fungsi ginjal. Secara kasar itu berarti lebih dari 25 juta penduduk.

“Proses PGK bisa dicegah atau dihambat dengan diet, pengobatan dan pengendalian faktor risiko. Pengobatan pada stadium awal dapat menyembuhkan. Pada stadium lanjut hanya memperlambat penyakit,” katanya.

Awalnya, terjadi kerusakan ginjal tak bergejala-terdeteksi dari sejumlah kecil albumin di urine atau mikroalbuminuria. Bila tidak diobati, gangguan ginjal bertambah berat, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal, terjadi gejala, seperti hipertensi dan beberapa faktor risiko kardiovaskular. Mayoritas pasien meninggal sebelum butuh dialisis karena komplikasi kardiovaskular.

Selain itu, biaya amat tinggi harus ditanggung pasien, masyarakat, dan pemerintah untuk terapi pengganti ginjal, yaitu dialisis dan transplantasi. “Pada tahap akhir, meski sudah menjalani dialisis, risiko kematian 500 kali dari populasi umum,” katanya.

Di seluruh dunia tahun 2001 ada 1,1 juta orang menjalani dialisis kronik. Tahun 2010, diproyeksikan lebih dari 2 juta orang. Bila biaya hemodialisis 66.000 dollar AS per tahun di AS, jumlah biaya dialisis seluruh dunia mencapai 1 triliun dollar AS.

Namun, kesadaran masyarakat mengenai ancaman penyakit ginjal kronik masih rendah. “Untuk negara dengan keterbatasan sumber daya, seperti Indonesia, program pencegahan seharusnya lebih diutamakan, dimulai dengan pendidikan tenaga kesehatan, perawat, dokter, lalu pendidikan masyarakat melalui berbagai media massa dan kegiatan lain,” kata Suhardjono. (EVY)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/28/05090372/penyakit.ginjal.kronik.epidemi.global.baru


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: