Posted by: Kurnia | May 1, 2009

Dalam Bermain, Anak Belajar

KERAP kali kita melihat sekelompok anak bercanda riang di genangan banjir setinggi lutut orang dewasa. Ada yang menepuk- nepuki air dengan kedua telapak tangan mereka sehingga air berwarna cokelat itu menciprati wajah, bahkan ada yang masuk ke mulut mereka.

SEBAGIAN lagi ada yang mengapung di atas ban bekas, atau berenang di genangan banjir. Mereka gembira dan tertawa riang tanpa memedulikan air cokelat yang mengandung berbagai kuman itu bisa menyerang tubuh mereka.
Tidak jarang pula kita melihat anak-anak bermain di tumpukan sampah sambil menemani orang tua mereka yang memulung barang atau plastik bekas. Atau anakanak bermain bola di pinggir jalan, gang sempit, bahkan di tengah jalan. Mereka akan berhenti sejenak bila kendaraan lewat.

Ada juga anak-anak yang asyik bermain dengan dirinya sendiri sampai berjam-jam di dalam rumah. Biasanya mereka bermain game komputer atau console game atau menonton televisi.

Bermain memang bisa di mana saja. Permainan yang dilakukan anak-anak tersebut tentu menyenangkan karena mereka bisa tertawa, bercanda bersama teman, atau asyik dengan permainan sendiri.

Pertanyaannya sekarang, sudah amankah lingkungan bermain mereka? Bermain adalah pekerjaan anak-anak (play is child’s work).

Dengan bermain, anak-anak belajar beragam objek dan hubungan-hubungan sosial.

Bermain merupakan alat bagi anak-anak untuk dapat mengenali dunia sekitarnya.

”Tetapi, kualitas bermain anak juga harus diperhatikan. Jika membiarkan anak bermain di lingkungan tidak aman, terlebih membahayakan mereka, secara tidak sadar kita sudah melakukan tindak ‘kriminal’ terhadap anak,” ujar pemerhati masalah sosial Imam Prasodjo, pada diskusi Pentingnya Bermain demi Tumbuh Kembang Anak, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Diskusi diselenggarakan oleh Frieslandfoods dalam rangka peluncuran program.

Dengan didampingi psikolog yang mengamati perilaku anak, Ratih Ibrahim, Imam mengatakan kualitas bermain sangat ditentukan lingkungan tempat anak-anak bermain. Lingkungan yang buruk, lanjutnya, memaparkan objek yang buruk, membentuk jenis hubungan sosial yang buruk, dan membentuk alam pikiran yang buruk pula.

Prinsip dasar bermain, tambahnya, harus bisa mendorong perkembangan anak secara berkelanjutan. Hasilnya anak akan peduli diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Karena itu, dalam bermain, ujar Imam lagi, anak jangan cuma berin terak si dengan dirinya sendiri, tetapi juga dengan orang lain dan lingkungan (care for the environment).

Pentingnya bermain Para orang tua hendaknya jangan ‘alergi’ dengan kata bermain sehingga menekan anak-anaknya untuk tidak bermain, tetapi hanya belajar dan belajar.

Menurut Ratih Ibrahim, saat ini ada kecenderungan orang tua bersikap negatif terhadap bermain. Itulah sebabnya play quotient anak Indonesia terbilang rendah.

”Pada 2006 Universitas Chulalangkorn Bangkok, Thailand, bekerja sama dengan sebuah produsen sabun cuci pakaian mengadakan penelitian tentang bermain bagi anak-anak.

Hasilnya anak-anak Indonesia menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk belajar dan kegiatan nonfisik, seperti bermain game dan menonton televisi,” jelas Ratih.

Skor play quotient anak-anak Indonesia menurut penelitian tersebut, jelas Ratih, paling rendah jika dibandingkan dengan anak-anak Jepang, Thailand, dan Vietnam.

Anak-anak Jepang mampu menyeimbangkan waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR), bersantai, dan aktivitas fisik.

”Sementara itu, anak-anak Indonesia lebih banyak melakukan kegiatan belajar.

Kalaupun sedang bersantai, kurang beraktivitas fisik,” tambah Ratih.

Lebih lanjut, Ratih mengatakan para orang tua harus ta hu bahwa ada aspek vital mengapa bermain penting bagi anak-anak. ”Bermain da pat membangun inteligensi anak, imajinasi, kemampuan motorik, interaksi sosial, dan perkembangan emosi,” jelas Ratih.

Namun, menurutnya, dalam bermain itu harus ada unsur fun (senang) dan manfaatnya. Permainan yang melibatkan unsur senang membuat anak tumbuh menjadi manusia dewasa yang utuh, sehat jiwa, dan bahagia. Sebaliknya, tanpa unsur senang, anak akan tumbuh menjadi manusia yang tegang, stres, dan neurotik. ”Bahkan pada level ekstrem, ketegangan dan stres bisa memicu gangguan gangguan, termasuk gangguan jiwa,” ujar Ratih.

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2009/04/29/ArticleHtmls/29_04_2009_023_001.shtml?Mode=0


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: