Posted by: Kurnia | May 1, 2009

Era Malaria Mendekati Akhir

SEJUMLAH pakar ke- sehatan pekan lalu menyatakan sasaran pemberantasan malaria kian mendekati kenyataan berkat usaha yang gigih dan dana besar yang dikeluarkan selama ini.
Memang menyapu habis malaria di seluruh dunia masih perlu waktu puluhan tahun.

Meski begitu, banyak negara yang endemik malaria hampir berhasil melenyapkan penyakit yang telah menjangkiti 500 juta orang per tahun dan membunuh 1 juta jiwa di seluruh dunia itu.

“Visi pencapaian pemberantasan malaria di sejumlah negara memang hampir menjadi kenyataan,” ungkap Rifat Atun, direktur strategi badan permodalan internasional Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria kepada Reuters, baru-baru ini.

Sejumlah riset terbaru pun muncul yang membantu pemberantasan malaria. Di Inggris, peneliti dari University of Leeds berhasil membuat bahan kimia yang membunuh parasit Plasmodium falciparum yang hidup di sel darah merah dan menyebabkan malaria, termasuk parasit yang tahan terhadap obat-obatan yang sudah ada.

Bahan kimia itu bekerja dengan mencegah berkembangnya enzim dihydroorotate dehydrogenase (DHODH) yang penting untuk pertumbuhan parasit. Tanpa enzim itu maka parasit akan mati.

“Langkah selanjutnya riset ini adalah melihat bagaimana bahan kimia bekerja bersamasama perawatan lain yang umum dipakai,” kata pemimpin tim peneliti Dr Glenn McConkey Umumnya, korban malaria adalah anak-anak di bawah usia lima tahun dan ibu hamil.

Hampir 90% korbannya berasal dari Afrika, tempat malaria telah menjadi sumber untuk satu dari lima kematian anak-anak.

“Sasaran pemberantasan malaria, yang disebabkan sebuah parasit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, mungkin baru tercapai pada 2050 atau 2060,” kata Richard Feachem, pemimpin Malaria Elimination Group.

Malaria kini hanya endemik di separuh negara-negara dunia setelah berhasil dilenyapkan dari Kanada dan Finlandia sejak 1945.

Itu disampaikan Feachem saat mengumumkan dua laporan dari organisasinya bagi para spesialis kesehatan dan pembuat kebijakan.

Satu laporan berfokus pada pelenyapan malaria di negara semacam Meksiko, Afrika Selatan, dan China, yang berbatasan dengan kawasan tropis tempat malaria menjadi endemik.

Pengawasan agresif Feachem menyatakan strategi yang dipakai adalah pengawasan agresif di pelosok untuk mengurangi infeksi dan kematian, mengeluarkan negara per negara dari pengaruh malaria, kemudian meneliti obat, vaksin, dan insektisida.

Dia mengatakan banyak negara bisa belajar dari Singapura yang menerapkan aturan ketat.

Di Singapura, adalah sesuatu yang melanggar hukum jika perusahaan konstruksi membiarkan nyamuk pembawa malaria berkembang biak di lokasi bangunan.

Para warganya pun bertanggung jawab untuk mencegah air tergenang di rumah-rumah mereka.

Upaya melawan malaria terdiri dari beberapa bagian, yaitu menyemprot rumah dan tempat tidur untuk mengusir nyamuk, memakai obat untuk merawat orang yang terjangkit, dan menemukan vaksin untuk mencegah infeksi.

Upaya-upaya tersebut telah diberikan kepada warga negara-negara miskin oleh organisasi internasional maupun swasta seperti Bill and Melinda Gates Foundation, yang membeli obat dari perusahaan farmasi dengan harga terjangkau.

Beberapa dari metode itu bersifat kontroversial. Pestisida DDT sudah menyelamatkan jutaan jiwa dari malaria. Namun, DDT dikhawatirkan menyebarkan kanker sehingga kemudian dilarang dipakai di sawah dan ladang di beberapa negara.

“Pengobatan medis terbaru seperti obat yang dikembangkan perusahaan farmasi Novartis telah memakai artemisinin, yaitu bahan dari rempah yang dipergunakan dalam obat tradisional China dan telah menurunkan malaria serta infeksinya,” kata Chris Hentschel dari Medicines for Malaria Venture.

“Pengobatan macam itu, yang diberikan kepada 57 juta orang tahun lalu, telah berhasil menyelamatkan 1 juta jiwa. Kini 50 proyek obat baru sedang berjalan,” tambahnya.

Perusahaan lain, GlaxoSmithKline, sedang akan memulai uji coba klinis sebuah vaksin yang melibatkan 16.000 anak di tujuh negara Afrika. Perusahaan pembuat obat terbesar kedua di dunia itu berharap produknya bisa masuk pasar tiga tahun mendatang.

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2009/04/29/ArticleHtmls/29_04_2009_029_002.shtml?Mode=0


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: