Posted by: Kurnia | May 1, 2009

Selamatkan Anak dari Pnemokokus

Tuesday, 28 April 2009
ASAP Indonesia (Asian Strategic Alliance for Pneumokokus Disease Prevention) yang diresmikan di Surabaya pada tanggal 30 Juni 2008,

merupakan kelompok independen di Asia, suatu kelompok aliansi strategis untuk pencegahan infeksi Pneumokokus yang terdiri atas 20 orang perwakilan negara di Asia. Indonesia menjadi salah satu anggota ASAP diwakili Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, SpA (K),

Spesialis anak konsultan penyakit tropik dan infeksi FKUI/RSCM Jakarta, dan Prof. Dr. dr. Cissy B Kartasasmita, SpA (K), MSc. PhD, spesialis anak konsultan respirologi FK Unpad/RS Hasan Sadikin, Bandung. ASAP berkomitmen untuk berperan aktif menurunkan angka kematian yang disebabkan infeksi penyakit pneumokokus.

Caranya dengan meningkatkan kewaspadaan (awareness), melaksanakan pemantauan keadaan penyakit secara berkala (surveillance), melakukan advokasi dan pencegahan (prevention), maka disarankan perlu dibentuk ASAP Indonesia.

Dikatakan spesialis anakkonsultan penyakit tropik dan infeksi FKUI/RSCM, Jakarta, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, SpA (K), bahwa keberadaan ASAP Indonesia sangat penting di Indonesia.

“Melalui ASAP, kita semua akan berkiprah mencegah dan menyelamatkan lebih banyak anak-anak di Indonesia dari bahaya pneumokokus yang mematikan,” katanya. (*)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/233693/

Cegah Sebelum Mewabah
Tuesday, 28 April 2009
SERANGANbakteri pneumokokus bisa memicu timbulnya berbagai penyakit berbahaya pada anak. Pencegahan bisa dilakukan dengan vaksin dan gaya hidup sehat.

Sudah dua hari, Safira Najwa (10 bulan) terkena batuk. Bayi yang lahir di keluarga yang serba-paspasan ini lantas dibawa ke rumah sakit. Uswatun, ibu Safira lega, ketika dokter mengatakan batuk yang diderita Safira adalah batuk biasa. “Safira hanya diberi obat batuk dan pereda demam,” ucap Uswatun.

Sepulang dari dokter, malam harinya, batuk Safira bukannya mereda. Tiba-tiba badan Safira gemetar seperti kedinginan dan juga terkadang sesak. Setelah diberi obat, demamnya pun tak kunjung hilang.Tidak beberapa lama, Uswatun mengguncang badan Safira dengan penuh kepanikan, dan ternyata Safira telah meninggal dunia. Setelah dibawa lagi ke dokter, ternyata Safira menderita pneumonia.

Berbeda dengan Rania Tanungga (11 tahun), ia didiagnosis mengidap penyakit meningitis sejak 1 tahun lalu. Tubuh Rania lunglai seperti lumpuh, ke mana saja Rania pergi, kursi roda selalu menemaninya. “Dulu waktu Rania belum terkena meningitis, Rania sehatsehat saja sama seperti anak normal lainnya,” cerita Laura Tanungga, ibunda dari Rania.

Ia menceritakan bahwa suatu hari, Tania terjatuh di kelasnya. Saat itu ia merasakan demam dan muntah setelah tiba di rumah. Badannya menjadi lemas tidak berdaya. Setelah Tania dibawa ke rumah sakit, Tania didiagnosis dokter terkena meningitis. “Sekarang saya selalu berada di samping Tania setiap saat,ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi apabila tidak dibantu.

Saya berharap ada keajaiban yang membuat Tania sembuh,”harap Laura. Penyakit yang diderita kedua bocah tersebut tak lain disebabkan kuman pneumokokus. Bakteri ini merupakan bakteri yang bersifat patogen, dapat menginfeksi anakanak maupun orang dewasa.

Bakteri ini juga menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Biasanya, setelah menyerang sistem pernapasan atas, pneumokokus selanjutnya mengakibatkan kondisi yang lebih berat, yaitu pneumokokus yang bersifat invasif (IPD). Pada tahapan ini, infeksi pneumokokus terisolasi dari darah dan lokasi-lokasi steril lainnya.

Dijelaskan staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Udayana/Rumah Sakit Sanglah Denpasar,Dr Ni Putu Siadi Purniti SpA (K) bahwa IPD terdiri atas bakteremia (infeksi bakteri dalam darah),sepsis (darah yang teracuni),meningitis (radang selaput otak),dan pneumonia bakteremik.

Penyebaran pneumokokus dari nasopharynx menuju sistem pernapasan atas dan bawah mengakibatkan penyakit pneumokokus yang bersifat noninvasif,termasuk pneumonia (radang paru-paru), media otitis akut (radang telinga tengah) dan sinusitis (infeksi pada sinus).

“Penyakit pneumokokus dapat menyerang hilangnya pendengaran, kemunduran intelegensi, kesulitan berbicara, kelumpuhan, bahkan sampai pada kematian,”paparnya pada saat acara menghadiri acara Advokasi terhadap Pencegahan Penyakit Pneumokokus (PP) sebagai agenda utama program ASAP Indonesia yang diselenggarakan ASAP Indonesia (Asian Strategic Alliance for Pneumokokus Disease Prevention) di Hotel Nikki, Denpasar, Bali, Sabtu (25/4).

Bayi baru lahir hingga umur 24 bulan memiliki risiko tertinggi infeksi karena sebanyak 60% anakanak prasekolah merupakan pembawa (carrier) pneumokokus, tempat penitipan dapat menjadi sarana penyebaran penyakit ini sehingga anak-anak lain yang mengikuti program penitipan cenderung dapat tertular.

“Jangan pernah sembarang menitipkan anak di tempat penitipan karena tidak sedikit bakteri yang mewabah dan bisa menularkan pada anak kita di tempat tersebut,” pesan dokter yang juga berpraktik di RSB Harapan Bunda Denpasar ini.

Di negara-negara yang telah meneliti penyakit pneumokokus ini, didapati temuan yang menunjukkan bahwa anak-anak usia dini memiliki peluang lebih besar terkena IPD. Bakteri pneumokokus secara normal berada di dalam rongga hidung dan tenggorokan anak-anak dan dewasa yang sehat, dengan empat serotipe berbeda yang terkandung di dalamnya secara bersamaan.

Memang tidak seluruh individu dapat menderita penyakit ini, tetapi ketika dalam tubuh seseorang sudah terjadi kolonisasi bakteri,ia akan menjadi pembawa sekaligus penyebar penyakit melalui partikel udara, misalnya pada saat bersin atau batuk serta kontak tubuh.

“Bakteri ini dapat ditemukan pada tenggorokan dan rongga hidung dewasa,anak dan bayi sehat,” tutur staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Udayana Prof dr Soetjiningsih SpA (K) IBCLC. Kolonisasi pneumokokus pada anak-anak usia dini adalah hal yang umum terjadi, mengingat anak usia di bawah dua tahun belum memiliki antibodi serum tipe spesifik yang cukup untuk melawan bakteri tersebut.

Karena itu, anak-anak merupakan pembawa atau penyebar sekaligus korban utama penyakit pneumokokus. “Penyakit yang disebabkan bakteri pnemokokus ini datang tanpa keluhan dan tanpa gejala. Dan dengan mudah sekali menyebar ketika batuk dan bersin melalui percikan ludah,” papar dokter yang sempat menjadi Konsultan Tumbuh Kembang.

Soetjiningsih menuturkan, pencegahan bisa dilakukan dengan pemberian ASI, nutrisi yang lengkap dan seimbang. Selain itu juga dengan menerapkan perilaku hidup sehat. “Perilaku hidup sehat bisa dilakukan dengan menutup mulut hidung ketika batuk maupun bersin. Menghindari mencium bayi dengan mulut. Menghindari infeksi virus berulang serta menghindari asap rokok dan polusi,” pesannya. (inggrid namirazswara)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/233696/

Vaksin Penangkal Paling Jitu
Tuesday, 28 April 2009
BAKTERI pneumokokus bisa ditangkal dengan vaksinasi pneumokokus rutin, seperti yang dilakukan di Amerika Serikat dan Kanada.

Vaksinasi ini terbukti menjadi cara yang cukup jitu menolak kedatangan bakteri tersebut. Data dari Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/- WHO) menyebutkan bahwa setiap tahun 4 juta anak di bawah usia 5 tahun meninggal karena pneumonia.

“Pneumonia menjadi penyebab 1 dari 5 kematian pada anak balita,” ucap staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Jakarta, Prof.Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro,Sp.A(K) di acara yang sama.Apabila ditinjau besarnya angka kejadian penyakit (burden of disease) penyakit pneumokokus, termasuk meningitis, pneumonia dan bakteriemia, menyebabkan sekitar 2 juta kematian setiap tahun dan 700.000 sampai 1 juta di antaranya adalah balita.

“Anak umur 2 tahun lebih rentan terkena bakteri ini karena belum sempurnanya antibodi pada tubuh mereka,”ucap staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Udayana/Rumah Sakit Sanglah Denpasar, Prof. dr. Soetjiningsih,Sp.A (K) IBCLC.

Penyebaran bakteri pnemokokus sangat mudah terjadi karena bakteri pneumokokus hidup normal di dalam hidung dan tenggorokan (tertinggi pada anak balita). Termasuk di Bali, di mana angka kematian bayi dan balita masih sangat tinggi.

Penyebab utama kematian bayi dan balita adalah infeksi respiratori akut (IRA) yang pneumonia termasuk di dalamnya.Menurut data dari RS Sanglah,Denpasar, pneumonia menyebabkan kematian 11,67% dari kematian pada anak balita pada tahun 2005-2008.

“Untuk pengobatan, maka diagnosis pada penyakit ini harus ditegakkan,” tutur dokter yang juga tergabung dalam anggota BKPPASI (Working Broad for Promoting Breast Feeding). Infeksi pneumokokus menjadi lebih sulit ditangani ketika bakteri menjadi resisten terhadap beberapa antibiotik yang umumnya digunakan.

Penggunaan antibiotik yang berlebihan mengakibatkan peningkatan resistensi dan mengancam efektivitas terapi yang sedang dijalankan.Hal ini juga akan menambah biaya perawatan karena penggunaan antibiotik yang lebih mahal. “Untuk anak-anak penderita penyakit pnemokokus dengan risiko tinggi, harus segera divaksin,”tandasnya.

Vaksin pneumokokus terbaru terbukti aman dan sangat efektif dalam mencegah penyakit pneumokokus. Sejak tahun 2000 bayibayi di Amerika Serikat mulai mendapat imunisasi pneumokokus secara rutin dan ini sangat berhasil dalam menurunkan angka kasus penyakit bakteri pada anak-anak.

Imunisasi pada bayi tersebut, bahkan telah mengurangi penyebaran bakteri pneumokokus sehingga orang dewasa lebih jarang terjangkit dan akhirnya secara tidak langsung terlindung dari penyakit ini. “Pneumonia apabila kita obati, maka akan sembuh,tetapi apabila kekebalan tubuh tidak cukup, maka bisa kambuh lagi.

Oleh sebab itu, pemberian vaksin sangat diperlukan,”katanya. Soetjiningsih menyebutkan, pneumococcal saccharide conjugated (PCV-7) merupakan satu-satunya vaksin yang membantu mencegah penyakit pneumokokus invasif (IPD) pada bayi dan anak di bawah 24 bulan.

Selain membantu melindungi bayi dan anak di bawah umur,PCV-7 membantu melindungi anak dari pneumokokus hingga 9 tahun. Memasukkan PCV7 dalam program Imunisasi Nasional adalah prioritas.

Selain itu PCV-7 dapat mudah diintegrasikan pada jadwal imunisasi rutin.PCV-7 sebaiknya dimulai sebelum usia 6 bulan dan diberikan sejak usia 2 bulan.”Proses pencegahan pasti lebih murah daripada pengobatan,” kata Soetjiningsih. (inggrid namirazswara)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/233695/

Bersarang di Hidung, Menyerang Hingga Paru
Penularan mudah karena bakteri pneumokukus ada di hidung dan tenggorokan yang sehat.

Letupan batuk tiada henti keluar dari mulut mungil Nadyla. Napasnya tersengal-sengal kala batuknya meradang. Sudah dua pekan bayi berusia lima bulan itu mengalami sesak napas. Ketika serangan datang, tubuhnya membiru. Dari hasil observasi dokter, ditetapkan bahwa anak pasangan Nikki dan Ari ini mengidap radang paru-paru (pneumonia). Sayangnya, dalam perawatan medis, nyawa putri dua sejoli itu tak lagi tertolong.

Nikki dan Ari adalah satu dari sekian banyak orang tua dengan anak penderita pneumokokus invasif (IPD)–penyakit yang disebabkan bakteri Streptococcus pneumoniae (pneumokokus). Serangan bakteri ini juga memicu radang selaput otak (meningitis) dan infeksi darah (bakteremia). Testimoni mereka dikemas dalam sebuah film pada seminar nasional advokasi terhadap pencegahan penyakit pneumokokus di Hotel Niki, Denpasar, Bali, Sabtu pekan lalu.

Profesor dr. Soetjiningsih, SpA(K), staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, menyatakan, sebenarnya pada bayi yang baru lahir saja sudah ditemukan bakteri pneumokokus di tenggorokan dan rongga hidung. “Makin belia usianya, maka makin banyak kuman pneumokokus yang bersarang,” ujarnya saat mempresentasikan makalahnya yang berjudul Faktor Risiko dan Pencegahan Infeksi Pneumokokus.

Lalu, seberbahaya apa kuman pneumokokus bagi bayi dan balita? Menurut Soetjiningsih, bakteri ini dapat menyebabkan penyakit berat, seperti pneumonia, sepsis, bakteremia, meningitis, serta gangguan telinga hidung dan tenggorokan, berupa otitis media dan sinusitis. Serangan penyakit pneumokokus, seperti meningitis, pneumonia, dan bakterimia, telah menyebabkan 2 juta kematian per tahun di dunia. Sekitar 700 ribu hingga 1 juta di antaranya adalah balita. Tercatat juga kematian balita akibat pneumonia merupakan proporsi tertinggi. Di Asia Pasifik, dilaporkan 98 balita meninggal karena pneumonia setiap jamnya.

Pneumonia adalah infeksi akut yang menyerang jaringan paru-paru–alveoli. Gejalanya seperti napas yang terengah-engah dan sesak–karena paru-paru yang meradang secara mendadak. Pneumonia berat ditandai oleh batuk disertai kesukaran bernapas yang tak kunjung sembuh. Lebih dalam, bila semua jenis penyakit IPD memasuki tahap kronis, bisa berakhir dengan kematian maupun kecacatan permanen, seperti inteligensi rendah, tuli, lumpuh, dan gangguan saraf.

Penularan pneumokokus, menurut spesialis anak RS Sanglah, Denpasar, Dr Ni Putu Siadi Purniti, SpA, memang mudah terjadi. Hal itu karena bakteri pneumokokus hidup normal di hidung dan tenggorokan orang sehat. Penularan dapat terjadi melalui percikan ludah atau udara bebas, sehingga setiap anak rentan terinfeksi tanpa memandang status dan lingkungan sekitarnya. “Rumah yang lebih sempit lebih besar kemungkinan penularannya,” ia memaparkan.

Beragam faktor risiko serangan penyakit pneumokokus pada bayi, dari lahir kurang bulan (prematur), kurang mendapat air susu ibu, berusia di bawah dua tahun, terkena malnutrisi (vitamin A), terkena polusi serta asap rokok, tinggal di hunian yang padat, hingga sering mendapat antibiotik dan tidak mendapatkan imunisasi. “Anak di bawah dua tahun rentan terinfeksi pneumokokus karena antibodinya belum spesifik,” Soetjiningsih menjelaskan. Repotnya, serangan penyakit pneumokokus pada anak tanpa gejala dan penderita tak mengalami keluhan.

Lebih jauh, Profesor Dr dr Sri Rezeki, spesialis anak konsultan penyakit tropika dan infeksi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, mengatakan bayi dengan pneumonia jarang yang mencapai usia lima tahun. “Bayi yang berisiko terkena pneumonia umumnya berusia dua hingga 23 bulan,” katanya. Untuk itu, sebagai langkah antisipasi, Sri mengimbau anak-anak Indonesia diberi vaksinasi pneumokokus.

Hingga kini Ketua Tim Ahli Imunisasi Nasional ini menyadari vaksinasi pneumokokus belum mencakup tipe pneumokokus yang ganas. “Tetapi tidak ada tumpang tindih dengan vaksinasi wajib, seperti BCG, DTP, dan campak.” Hingga saat ini, dari 90 tipe bakteri pneumokokus, ada 11 tipe yang dinilai ganas. HERU TRIYONO

Faktor Risiko

1. Anak berumur kurang dari dua tahun.

2. Bayi yang lahir kurang bulan (prematur).

3. Tidak mendapat air susu ibu eksklusif.

4. Tinggal di rumah yang sempit dan padat.

5. Waktunya lebih banyak berada di penitipan anak.

6. Menghirup asap rokok dan polusi udara.

7. Sering mendapat antibiotik.

8. Kekurangan vitamin A.

9. Tidak mendapat imunisasi.

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/04/29/Gaya_Hidup/krn.20090429.163840.id.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: