Posted by: Kurnia | May 2, 2009

Dokter : Mengobati atau Berbisnis

Tribun Jabar, 4 Desember 2008
Dokter: Mengobati atau Berbisnis?
Billy N.

Dalam rubrik surat pembaca berbagai media cetak, sering dimuat surat-surat yang mengeluhkan kurang baiknya pelayanan yang diberikan dokter kepada pasien. Sebenarnya, apa yang terjadi pada profesi dokter di Indonesia akhir-akhir ini?
Dokter adalah profesi yang luhur dan mulia, sehingga di masa lalu dokterdianggap “separuh dewa” oleh masyarakat dan memiliki prestise tinggi. Namun, sepertinya keluhuran dan kemuliaan profesi dokter mengalami desakralisasi dengan banyaknya keluhan ketidakpuasan di media massa sampai tuntutan hukum yang menjerat dokter.
Salah satu hal yang paling sering dikeluhkan oleh masyarakat mengenai pelayanan dokter adalah cap materialis. Biasanya dialamatkan pada dokter yang menetapkan biaya pemeriksaan/tindakan medis yang mahal dan berkepanjangan atau harga obat yang mahal. Dokter pun sering dianggap kurang peka, sombong, atau terkesan melecehkan pasien akibat buruknya komunikasi dokter dengan pasiennya.
Dengan banyaknya keluhan tersebut, banyak pasien memilih untuk berobat ke luar negeri dengan harapan mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik. Peluang ini dimanfaatkan oleh beberapa orang dokter dengan menjadi bawahan jasa rumah sakit di luar negeri dengan menjadi agennya di Indonesia.
Banyak pula dari masyarakat yang merasa sudah kehilangan kepercayaan terhadap dokter, sehingga beralih ke berbagai metode pengobatan alternatif dan suplemen makanan, baik yang asli Indonesia maupun dari luar negeri. Namun, banyak dokter juga memanfaatkan peluang ini dengan menjadi praktisi pengobatan alternatif atau aktif menjadi pemasar berbagai produk suplemen makanan.
Memang masih banyak dokter yang berusaha berkarya sesuai tuntunan etika, hukum, dan ilmu pengetahuan, namun berbagai penyimpangan tersebut membuat profesi dokter di Indonesia mendapatkan sorotan dari masyarakat sehingga mengalami penurunan kepercayaan.
Hubungan dokter-pasien adalah hubungan pengobatan berbasis kepercayaan, bukan seperti hubungan bisnis antara penjual-pembeli. Namun, dengan berkembangnya zaman, sepertinya hubungan tersebut mulai bergeser menjadi hubungan bisnis.
Sehingga, timbul kecurigaan dokter yang berkolusi dengan perusahaan farmasi, alat kesehatan, laboratorium, atau rumah sakit dengan imbalan yang telah banyak diungkap oleh berbagai kalangan sejak dahulu. Kolusi yang sebenarnya terlarang menurut etika profesi tersebut menjadi hal yang umum dilakukan oleh dokter.
Lebih jauh lagi, banyak dokter mencoba peruntungannya dengan menjual barang dan jasa pengobatan alternatif maupun suplemen makanan dan multi level marketing (MLM) kesehatan. Meskipun sebenarnya semua itu adalah kembali lagi merupakan pelanggaran etika, disiplin profesi, dan hukum dengan memberikan pengobatan yang tidak sesuai standar pelayanan, tidak memiliki bukti cukup secara ilmiah, serta tidak menggunakan kendali mutu atau biaya.
Profesi dokter yang seharusnya bertujuan mulia untuk memberikan pelayanan kesehatan telah berubah dan kehilangan independensinya menjadi suatu profesi menjual barang dan jasa kesehatan semata demi mendapatkan lebih banyak uang.
Jika semua hal ini dibiarkan, maka selain turunnya kepercayaan masyarakat pada dokter Indonesia, juga akan membuat profesi dokter menjadi profesi bisnis yang sebenarnya tidak boleh terjadi karena sudah bertentangan dengan keluhuran profesi dokter.
Sudah saatnya hal ini dibereskan agar kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap profesi dokter dapat kembali tinggi. Turunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap dokter di Indonesia itu sama sekali bukan karena alat-alat kedokteran di Indonesia kalah canggih dengan yang ada di luar negeri.
Yang menjadi masalah adalah mentalitas dokter yang ingin berbisnis melalui profesinya. Hak dokter secara finansial dalam profesinya hanyalah imbalan jasa medik, bukan komisi dari hasil kolusi dengan perusahaan farmasi, keuntungan dari penjualan alat kesehatan, suplemen makanan, atau praktik pengobatan alternatif.
Untuk itu, pemerintah harus meningkatkan pengawasan dan penegakkan hukum dalam pelayanan kesehatan. Juga menekan biaya pendidikan dokter yang sekarang dirasakan sangat mahal sehingga membuat banyak dokter menjadi cenderung materialistis untuk mengembalikan biaya kuliahnya.
Ikatan profesi dokter harus memberikan pembinaan, pengawasan, dan penegakkan disiplin maupun etika agar para dokter bekerja sesuai kode etik dan standar profesi. Masyarakat pun harus kritis terhadap praktik para dokter.
Sudah saatnya dokter Indonesia kembali ke panggilan yang luhur dan mulia dari profesinya dengan tidak menjadikannya sebagai bisnis semata. Indonesia terus menanti kiprah para dokter yang memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan melindungi masyarakat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: