Posted by: Kurnia | May 2, 2009

Gula = Diabetes? Wrong!

http://lita.inirumahku.com/health/lita/gula-diabetes-wrong-updated/
Gula = diabetes? WRONG! (updated)

Satu dari sekian banyak iklan yang membodohi rakyat negeri ini adalah iklan pemanis pengganti gula (baca: sukrosa/gula pasir putih). Iklan-iklan tersebut mulanya membidik target para perempuan yang ingin langsing namun tetap dapat mengkonsumsi makanan/minuman yang manis. Setelah itu, target konsumen meluas menjadi mereka yang ingin tetap ‘sehat’.

Biasanya, iklan ini mengaitkan antara konsumsi gula dengan diabetes. Benarkah? Big NO! SUGAR DOES NOT CAUSE DIABETES. Kebutaan, amputasi, dan penyakit ginjal adalah komplikasi yang disebabkan oleh penyakit diabetes, bukan oleh konsumsi gula.

Yang mendorong timbulnya diabetes adalah tingginya kandungan gula dalam darah. Kata `gula’ ini sendiri dapat diartikan sebagai sejumlah kalori yang dapat disetarakan dengan jenis karbohidrat yang lain.

In other word, yang menyebabkan naiknya gula darah tidak hanya gula (=sukrosa), tapi karbohidrat secara umum, misalnya nasi, kentang, dan lain-lain sumber energi utama yang kita konsumsi sebagai makanan pokok. Dengan demikian, diabetes disebabkan oleh pola makan yang tinggi kalori, kelebihan berat badan, dan pola hidup yang kurang aktif.

“Ganti gula anda dengan gula jagung Tro****na S**m”. Merk yang sama yang mengkiklankan gula = diabetes. Apakah gula jagung itu? Glukosa. Apakah glukosa itu jenis gula? Tentu. Glukosa adalah gula sederhana yang mudah diserap oleh tubuh. Gula yang lebih rumit seperti sukrosa (gula pasir) dan fruktosa (gula buah) akan dipecah-pecah oleh metabolisme tubuh menjadi glukosa. Glukosa yang terkandung dalam darah dinamakan gula darah.

Apakah sekarang terdengar lebih familiar? Ya memang begitulah bahasa iklan. Menyesatkan mereka yang tidak tahu (apalagi yang tidak mau tahu). Dan kata yang paling mudah `dimainkan’ oleh iklan adalah gula.

Untuk orang yang awam dengan kimia organik, gula adalah sukrosa. Sedangkan pada kenyataannya, di dunia kimia organik, semua senyawa organik yang memberi rasa manis dikatakan gula! Yang membedakan antara gula satu dengan gula lainnya adalah (tentu saja) struktur molekul dan tingkat kemanisan, di mana yang dijadikan standar adalah sukrosa (tingkat kemanisan = 1).

Apabila suatu produk dapat memberi rasa manis namun tidak mengandung gula (atau umumnya diklaim sebagai rendah kalori), maka produk tersebut adalah/mengandung pemanis buatan. Produk `manis’ rendah kalori ini biasanya dilabeli `diet’, seperti Diet C*ke, Diet P**si, dll.

Kalori yang rendah bisa disebabkan oleh penggunaan gula berkalori lebih rendah dengan tingkat kemanisan lebih tinggi (misalnya fruktosa, yang lebih manis sekitar 1,3 kali sukrosa), penggunaan gula berkalori lebih rendah -saja- (misalnya sorbitol), atau kombinasi antara gula dengan pemanis buatan.

*Setahu saya, produsen softdrink memilih sukrosa karena produknya lebih memuaskan. Sehingga kalau rasa produk `diet’ tersebut berbeda atau tidak enak dibandingkan produk regulernya, ya itulah kompensasinya. Asal tahu saja, gula yang digunakan dalam softdrink kaleng reguler 12-oz. rata-rata setara 9,5 sendok makan gula pasir!*gee, stop that softdrink-ing already!*

Atau jika suatu produk dikatakan tidak mengandung gula alias sugar free, maka bisa dipastikan produk tersebut menggunakan pemanis buatan. Pemanis buatan memang tidak menyediakan kalori sehingga tidak mempengaruhi gula darah. Di antara jenis pemanis buatan adalah saccharin (sakarin), neotame, aspartame (aspartam), sucralose, stevia, dan acesulfame kalium (Ace-K).

Yang paling umum digunakan pada produk makanan di Indonesia adalah aspartam, siklamat (biasanya dalam bentuk natrium siklamat), dan sakarin. Sakarin sudah sangat jarang digunakan, mungkin akibat pemberitaan tentang efek sampingnya beberapa waktu lalu (saya tidak tahu). Bagi anda yang suka menikmati minuman serbuk instan, coba amati kandungannya. Minimal satu jenis dari pemanis buatan tersebut tercantum di kemasannya.

Apakah pemanis tersebut benar-benar aman? (mungkin) Aman, jika dikonsumsi dengan tidak melebihi asupan maksimal. Umumnya, produsen yang baik akan mencantumkan kandungan pemanis tersebut beserta konsumsi maksimal per berat badan.

Jadi, jika anda punya kebiasaan minum minuman instan ini beberapa porsi sehari, hitunglah kembali TOTAL pemanis yang anda konsumsi per berat badan anda. Dan umumnya pula, orang-orang dengan kelainan fenilketonuria diperingatkan (dengan tulisan yang kecil-kecil, biasanya di bawah nutrition facts) bahwa produk tersebut mengandung fenilketon.

Untungnya jarang sekali orang Indonesia yang memiliki kelainan metabolisme ini. Kalau tidak, tentu produsen makanan & minuman instan di negeri ini akan menuai badai keluhan sebab iklan mereka TIDAK ADA yang mencantumkan peringatan ini.

Bagaimanapun, JANGAN TERTIPU dengan klaim sugar free atau “Produk ini menggunakan pemanis rendah kalori”. Sebab, bisa jadi total kalori (see on nutrition facts) produk tersebut lebih besar daripada total kalori produk yang menggunakan gula (sukrosa). Dalam hal ini, produsen tidak salah, dan konsumen lah yang harus jeli.

Apakah dengan demikian kita bisa mengonsumsi gula (baca: makanan manis) sebanyak yang kita suka? As sure as it is simple: TIDAK. Gula memang tidak menyebabkan diabetes, tapi makanan dengan kalori berlebih bisa.

Kesimpulannya, konsumsilah gula sesuai dengan kebutuhan kalori anda per hari. Aman kok! Dijamin! Jika kebutuhan kalori per hari adalah 2000 kcal, maka gula (sukrosa) bisa dikonsumsi sampai 10%-nya, atau setara dengan 3-4 sendok makan. Be moderate. Be wise. Yang wajar-wajar aja, segala yang berlebihan tidak baik.

Many of this writing came from:

Sugar does not cause diabetes
Which sweeteners are safe?
Sweeteners and desserts
10% sugar in softdrinks
Yang manis tidak selalu manis


Responses

  1. stevia pemanis buatan?????????????????

    benarkah, karena ada yang menyatakan stevia adalah pemanis alami

    manakah yg benar????????????

  2. mkasih infonya…………….
    gmna cra gula non kalori menurunkan kadar diabetes?????????????????????

    • Gula non kalori tidak akan menurunkan kadar gula dalam darah apabila tidak didukung dengan pola diet yang tepat
      Jadi sebetulnya menggunakan gula non kalori ataupun tidak, tetap harus diet tepat bagi penderita diabetes🙂

  3. jika tlah diikuti dg diet yg tpat bsa dktakan kdar glokosa dlam drah kita turun, truz bisa g’ nlisin reaksi kimianya???????????
    sbelumnya makasih yaaaa

    • Mohon maaf, seperti saya sampaikan dalam info saya, saya bukanlah seorang dokter namun hanya seorang ibu biasa.
      Sehingga, mohon maaf, saya tidak bisa membantu lebih jauh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: