Posted by: Kurnia | May 4, 2009

Penyakit pada Anak

Orang dewasa memiliki peran penting menghadirkan penyakit pada anak. Dengan menularkan, atau menerapkan pola hidup yang salah.

Anak tidak terlepas dari penyakit yang dapat mengintai kapan saja. Lingkungan termasuk perilaku orang dewasa merupakan faktor yang berperan hingga anak memiliki risiko penyakit tertentu. Ketika sistem imun belum terbangun sempurna atau sedang lemah, maka penyakit menular yang diderita orang dewasa berisiko untuk terkena pada anak. Bahkan untuk penyakit yang tidak menular, orang dewasa dan lingkungan berperan dalam menciptakan kebiasaan tertentu yang berdampak pada kesehatan anak.

Penyakit tuberkulosis (TB) pada anak merupakan salah satu penyakit yang perlu diwaspadai. Pasalnya, anak sejak masih bayi sangat rentan untuk tertular penyakit TB dari lingkungannya. Ketika bayi lahir, oma, opa, paman, bibi, dan anggota keluarga lain akan berebut untuk menggendong sambil menciumi anak. Salah satu dari mereka, mungkin menderita TB aktif, dan mungkin sekali menularkan kuman yang ditemukan Robert Koch 100 tahun lalu. Bukan tidak mungkin, anak tersebut lahir dari ibu atau ayah yang menderita TB. Faktanya setiap penderita TB aktif akan menulari rata-rata 10-15 orang, dan anak berada pada simpul strategis untuk mendapatkan infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis ini.

Padahal, penderita TB di Indonesia setiap tahunnya makin bertambah. Berganti pemerintahan, tidak membuat penyakit jadul ini lenyap dari muka bumi Indonesia. Negara ini bahkan berada di tempat ketiga jumlah penderita TB terbesar di dunia setelah India dan Cina. TB, masih menjadi penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit kardiovaskular dan penyakit saluran pernafasan pada semua golongan usia dan nomor 1 dari golongan infeksi. Berdasarkan kemudahan penularannya, WHO menetapkan TB sebagai masalah kesehatan global darurat pada tahun 1993. Setiap harinya TB membuat 300 orang meregang nyawa di seluruh dunia.

Pengobatan TBC yang cukup lama, 1 tahun terus menerus, membuat angka drop out pengobatan TB sangat besar. Meski setelah ditemukan panduan obat baru yang cukup diberikan dalam jangka waktu enam bulan pada tahun 1987, angka drop out masih tinggi. Hal itu menyebabkan tingkat kesembuhan pun kecil. Jumlah penderita TBC, memiliki potensi untuk membesar dengan penderita TB anak mengambil porsi di dalamnya.

Diagnosa Sulit
Pada anak, penyakit TB ditambah satu masalah, yaitu diagnosis. “Sulit untuk melakukan diagnosa TB pada anak,” kata Dr. Emma Nurhema, Sp.A kepada Farmacia pada sebuah acara yang diadakan di RS Persahatan Rabu (18/4) lalu. “Gejala klinis penyakit TB pada anak tidak khas, demikian juga ketika dilakukan rontgen,” ujarnya

Pemeriksaan sputum masih merupakan gold standard pada diagnosis TB. Namun anak umumnya tidak bisa mengleurkan dahak, jadi sukar untuk mengetahui apakah terdapat basil tahan asam dari pemeriksaan mikroskop.

System scoring digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis pada anak. Paramater pertama yang dijadikan ukuran adalah kontak anak dengan penderita TB di lingkungannya. Demam tanpa sebab jelas juga dijadikan sebagai indicator. “Demam hilang timbul tak terlalu tinggi yang berlangsung lama,” ujar Emma. Gejala lain adalah berwat badan turun, nafsu makan tidak ada, pembesaran kelenjar limfe superfisilis yang tidak sakit, batuk lama lebih dari 3 minggu dengan sebab lain telah disingkirkan, diare lama yang tidak sembuh dengan pengfobatan diare.

Sedangkan dari terapi radiologist, dicari gambaran sugestif TB yaitu pembesaran kgb, hilus/trakea, atelektasis, lobus medius, konsolidasi, lobar/segmental, milier, efusi pleura, kavitas-adult type. “Yang paling sering adalah pembesaran kgb, hilus/trakea lalu atelektasis, lobus medius, dan milier. Sedangkan jika sudah parah terjadi destroyed lung,” ujar Emma. Uji tuberkulin dilakukan untuk mengetahui apakah anak telah terinfeksi kuman tuberculosis.

Masing-masing gejala tersebut memiliki tingkat skor dengan kisaran 0-3 untuk hasil yang timbul dari tiap parameter yang diukur. Anak didiagnosis TB jika jumlah skor lebih besar atau sama dengan 6.

Anak dalam tahun-tahun pertama kehidupannya tentu akan bergantung pada ortang tuanya, terutama ibunya. “Anak yang lahir dari ibu yang terbukti menderita TB aktif, maka setelah anak lahir dilakukan evaluasi klinis dan foto torax,” ujar Emma. “Meski pemeriksaan klinis dan penunjang normal, namun karena ibuya TB aktif, maka dilakukan prifilaksis primer.” Profilaksis TB pada anak adalah dengan INH 5-10 mg/kg/hari. Selanjutnya dilakukan evaluasi dan 1 bulan kemudian dilakukan uji tuberkolin.

Ancaman Penyakit Modern
Sementara TB belum berhasil dijinakkan, ada ancaman penyakit lain yang juga mulai mengintai anak-anak yaitu obesitas. Jika TB merupakan penyakit kuno, maka obesitas merupakan penyakit masa depan akibat gaya hidup yang modern dan tidak sehat. Obesitas merupakan faktor risiko berbagai penyakit seperti jantung koroner, diabetes tipe 2, stroke, dan hipertensi. Diabetes juga meningkatkan risiko mortalitas penderita pada semua usia. Pada tahun 1998, WHO telah menetapkan obesitas sebagai epidemi global.

DR. Dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) dari FKUI/RSCM mengatakan obesitas pada anak dapat berdampak pada masalah psikososial, self-image yang negatif, serta penghargaan yang rendah. “Anak bisa mengalami kesulitan dalam menurunkan berat badan bahkan dalam jangka panjang,” ujarnya. Sebanyak 15 persen bayi yang mengalami obese akan cenderung juga obese ketika dewasa. Demikian juga, akan terjadi kecenderungan terkena obesitas saat dewasa pada 25 persen anak yang menderita obes pada usia preschool (6 bulan hingga 5 tahun), 50 persen anak di atas usia 6 tahun, dan 80 persen anak usia 10 hingga 14 tahun yang salah satu orang tuanya mengalami kegemukan.

Orang Dewasa : Faktor Kunci
Studi yang dipublikasikan di jurnal Pediatrics pada 2004 lalu memaparkan beberapa faktor yang membuat anak kelebihan berat. Genetik merupakan faktor pertama. Orang tua yang overweight, maka anaknya memiliki peluang overweight 48 persen. Faktor lain, orang tua kerap kurang peduli terhadap berat badan anak. Terkadang, jika anak memiliki tantrum terhadap makanan, maka membuat orang tua memberi anak makanan ekstra untuk meredakannya.

Rasa bersalah karena meninggalkan anak terlalu lama untuk bekerja, ditengarai juga menyebabkan orang tua akan memanjakan anak. Salah satunya, dengan memenuhi berbagai permintaan anak termasuk makanan atau kurangnya aktivitas fisik. Psikolog Anne Wareham mengistilahkan hal tersebut seperti membunuh anak secara perlahan dengan memanjakannya.

Di Indonesia, aspek lingkungan yang diciptakan orang dewasa juga cukup memborbardir anak untuk berpeluang overweight. “Aspek tersebut teramsuk maraknya makanan yang berasal dari barat, meningkatnya ketersediaan makanan, dan iklan makanan termnasuk pricing strategy,” tutur Damayanti. Kurangnya ruang untuk pejalan kaki juga membuat sulit untuk melakukan aktivitas fisik.

Untuk mengetahui seberapa besar prevalensi obesitas pada anak di Indonesia, Damayanti bersama koleganya melakukan penelitian di 10 kota-kota besar di Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Semarang, Solo, Jogkakarta, Surabaya, Den Pasar, dan Manado dengan subyek siswa sekolah dasar. Hasilnya, prevalensi obesitas pada anak tercatat sebesar 17,75 persen di Medan, Padang 7,1 persen, Palembang 13,2 persen, Jakarta 25 persen, Semarang 24,3 persen, Solo 2,1 persen, Jogjakarta 4 persen, Surabaya 11,4 persen, Den Pasar 11,7 persen, dan Manado 5,3 persen.

“Berdasarkan data tersebut rata-rata prevalensi obesitas pada siswa SD di 10 kota adalah 12,2 persen. Angka ini hampir sama dengan prevalensi obesitas di Inggris (10-17 persen) dan Amerika (10-12 persenn),” urai Damayanti di sebuah kesempatan kepada Farmacia. Maka, obesitas pada anak merupakan problem yang cukup mengkhawatirkan di daerah urban di Indonesia.

Manajemen terbaik untuk mengatasi obesitas adalah dengan menerapkan pola makan yang sehat dan modifikasi gaya hidup atau tingkah laku dengan melakukan olahraga. “Orang tua diharapkan menjadi role model,” ujar dokter cantik berkulit putih ini.

Ketika laju obesitas berhasil dicegah, maka ancaman penyakit masa depan ini berhasil ditekan lajunya. Jangan sampai penyakit terkait gaya hidup ini makin meningkat prevalensinya. Padahal, Indonesia masih disibukkan oleh penyakit masa lalu yang juga belum selesai, yaitu TB.

(Ika)

Seperti tercetak di Majalah Farmacia Edisi Mei 2007 , Halaman: 12 (1631 hits)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: