Posted by: Kurnia | January 11, 2011

Botulisme

DEFINISI

Botulisme adalah suatu keadaan yang jarang terjadi dan bisa berakibat fatal, yang disebabkan oleh keracunan toksin (racun) yang diproduksi oleh Clostridium botulinum. Toksin ini adalah racun yang sangat kuat dan dapat menyebabkan kerusakan saraf dan otot yang berat. Karena menyebabkan kerusakan berat pada saraf, maka racun ini disebut neurotoksin.

 

Terdapat 3 jenis botulisme, yaitu :

– Foodborne botulism, merupakan akibat dari mencerna makanan yang tercemar

– Wound botulism, disebabkan oleh luka yang tercemar

– Infant botulism, terjadi pada anak-anak, karena mencerna makanan yang

tercemar.

 

PENYEBAB

Bakteri Clostridium botulinum memiliki bentuk spora. Spora ini dapat

bertahan dalam keadaan dorman (tidur) selama beberapa tahun dan tahan

tehadap kerusakan. Jika lingkungan di sekitarnya lembab, terdapat cukup makanan dan tidak ada oksigen, spora akan mulai tumbuh dan menghasilkan toksin. Beberapa toksin yang dihasilkan Clostridium botulinum memiliki kadar

protein yang tinggi, yang tahan terhadap pengrusakan oleh enzim pelindung

usus.

 

Jika makan makanan yang tercemar, racun masuk ke dalam tubuh melalui

saluran pencernaan, menyebabkan foodborne botulism. Sumber utama dari

botulisme ini adalah makanan kalengan. Sayuran, ikan, buah dan rempah-rempah juga merupakan sumber penyakit ini. Demikian juga halnya dengan daging, produki susu, daging babi dan unggas.

 

Wound botulism terjadi jika luka terinfeksi oleh Clostridium botulinum.

Di dalam luka ini, bakteri menghasilkan toksin yang kemudian diserap masuk

ke dalam aliran darah dan akhirnya menimbulkan gejala.

 

Infant botulism sering terjadi pada bayi berumur 2-3 bulan. Berbeda dengan foodborne botulism, infant botulism tidak disebabkan karena menelan racun yang sudah terbentuk sebelumnya. Botulisme ini disebabkan karena makan makanan yang mengandung spora, yang kemudian tumbuh dalam usus bayi dan menghasilkan racun. Penyebabnya tidak diketahui, tapi beberapa kasus berhubungan dengan pemberian madu.

 

Clostridium botulinum banyak ditemukan di lingkungan dan banyak kasus yang

merupakan akibat dari terhisapnya sejumlah kecil debu atau tanah.

 

GEJALA

Gejalanya terjadi tiba-tiba, biasanya 18-36 jam setelah toksin masuk, tapi

dapat terjadi 4 jam atau paling lambat 8 hari setelah toksin masuk. Makin

banyak toksin yang masuk, makin cepat seseorang akan sakit.

Pada umumnya, seseorang yang menjadi sakit dalam 24 jam setelah makan

makanan yang tercemar, akan mengalami penyakit yang sangat parah.

 

Gejala pertama biasanya berupa mulut kering, penglihatan ganda, penurunan

kelopak mata dan ketidakmampuan untuk melihat secara fokus terhadap objek

yang dekat. Refleks pupil berkurang atau tidak ada sama sekali.

 

Pada beberapa penderita, gejala aawalnya adalah mual, muntah, kram perut

dan diare. Pada penderita lainnya gejala-gejala saluran pencernaan ini tidak muncul, terutama pada penderita wound botulism.

 

Penderita mengalami kesulitan untuk berbicara dan menelan. Kesulitan menelan dapat menyebabkan terhirupnya makanan ke dalam saluran pernafasan dan menimbulkan pneumonia aspirasi. Otot lengan, tungkai dan otot-otot pernafasan akan melemah. Kegagalan saraf terutama mempengaruhi kekuatan otot.

 

Pada 2/3 penderita infant botulism, konstipasi (sembelit) merupakan gejala

awal. Kemudian terjadi kelumpuhan pada saraf dan otot, yang dimulai dari

wajah dan kepala, akhirnya sampai ke lengan, tungkai dan otot-otot

pernafasan.

 

Kerusakan saraf bisa hanya mengenai satu sisi tubuh. Masalah yang ditimbulkan bervariasi, mulai dari kelesuan yang ringan dan kesulitan menelan, sampai pada kehilangan ketegangan otot yang berat dan gangguan pernafasan.

 

DIAGNOSA

Pada foodborne botulisme, diagnosis ditegakkan berdasarkan pola yang khas

dari gangguan saraf dan otot. Tetapi gejala ini sering dikelirukan dengan

penyebab lain dari kelumpuhan, misalnya stroke.

Adanya makanan yang diduga sebagai sumber kelainan ini juga merupakan

petunjuk tambahan. Jika botulisme terjadi pada 2 orang atau lebih yang

memakan makanan yang sama dan di tempat yang sama, maka akan lebih mudah

untuk menegakkan diagnosis.

 

Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksaan darah untuk menemukan

adanya toksin atau biakan contoh tinja untuk menumbuhkan bakteri

penyebabnya. Toksin juga dapat diidentifikasi dalam makanan yang dicurigai.

 

Elektromiografi (pemeriksaan untuk menguji aktivitas listrik dari otot)

menujukkan kontraksi otot yang abnormal setelah diberikan rangsangan

listrik. Tapi hal ini tidak ditemukan pada setiap kasus botulisme.

 

Diagnosis wound botulism diperkuat dengan ditemukannya toksin dalam darah

atau dengan membiakkan bakteri dalam contoh jaringan yang terluka.

 

Ditemukannya bakteri atau toksinnya dalam contoh tinja bayi, akan

memperkuat diagnosis infant botulisme.

 

PENGOBATAN

Penderita botulisme harus segera dibawa ke rumah sakit.

Pengobatannya segera dilakukan meskipun belum diperoleh hasil pemeriksaan

laboratorium untuk memperkuat diagnosis.

 

Untuk mengeluarkan toksin yang tidak diserap dilakukan:

– perangsangan muntah

– pengosongan lambung melalui lavase lambung

– pemberian obat pencahar untuk mempercepat pengeluaran isi usus.

 

Bahaya terbesar dari botulisme ini adalah masalah pernafasan. Tanda-tanda

vital (tekanan darah, denyut nadi, frekuensi nafas dan suhu) harus diukur

secara rutin. Jika gangguan pernafasan mulai terjadi, penderita dibawa ke ruang intensif dan dapat digunakan alat bantu pernafasan. Perawatan intensif telah

mengurangi angka kematian karena botulisme, dari 90% pada awal tahun 1900

sekarang menjadi 10%.

Mungkin pemberian makanan harus dilakukan melalui infus.

 

Pemberian antitoksin tidak dapat menghentikan kerusakan, tetapi dapat

memperlambat atau menghentikan kerusakan fisik dan mental yang lebih

lanjut, sehingga tubuh dapat mengadakan perbaikan selama beberapa bulan.

Antitoksin diberikan sesegera mungkin setelah diagnosis ditegakkan.

Pemberian ini pada umumnya efektif bila dilakukan dalam waktu 72 jam

setelah terjadinya gejala. Antitoksin tidak dianjurkan untuk diberikan pada bayi,

karena efektivitasnya pada infant botulism masih belum terbukti.

 

PENCEGAHAN

Spora sangat tahan terhadap pemanasan dan dapat tetap hidup selama beberapa

jam pada proses perebusan. Tetapi toksinnya dapat hancur dengan pemanasan,

Karena itu memasak makanan pada suhu 80� Celsius selama 30 menit, bisa

mencegah foodborne botulism.

Memasak makanan sebelulm memakannya, hampir selalu dapat mencegah

terjadinya foodborne botulism. Tetapi makanan yang tidak dimasak dengan

sempurna, bisa menyebabkan botulisme jika disimpan setelah dimasak, karena

bakteri dapat menghasilkan toksin pada suhu di bawah 3� Celsius (suhu

lemari pendingin).

 

Penting untuk memanaskan makanan kaleng sebelum disajikan. Makanan kaleng

yang sudah rusak bisa mematikan dan harus dibuang. Bila kalengnya penyok

atau bocor, harus segera dibuang.

 

Anak-anak dibawah 1 tahun sebaiknya jangan diberi madu karena mungkin ada

spora di dalamnya.

 

Toksin yang masuk ke dalam tubuh manusia, baik melalui saluran pencernaan,

udara maupun penyerapan melalui mata atau luka di kulit, bisa menyebabkan

penyakit yang serius. Karena itu, makanan yang mungkin sudah tercemar,

sebaiknya segera dibuang. Hindari kontak kulit dengan penderita dan selalu

mencuci tangan segera setelah mengolah makanan

 

sumber: milis / web sehat


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: