Posted by: Kurnia | March 25, 2011

Bunga Rampai Kesehatan – Jadilah Pasien yang Smart

Ada beberapa isu yang saya anggap perlu bolak-balik kita renungkan
 
1. KAPAN HARUS KE DOKTER
Suatu hari, seorang DSA senior ngobrol sama suster di sebuah klinik “gimana pasien? kayaknya berkurang ya”
Suster: “iya nih dok”
Dokter: “tapi gak cuma disini aja kok. di RS… H (D…) juga. Pasien sekarang kayaknya dah pada pinter, gak gampangan ke dokter”
Susternya cerita sama saya, mesem aja saya. Semoga, Amiin…
 
Tahukah kalian, kelihatannya sepele mungkin di mata kalian, wong uang gak masalah, wong diganti kantor/asuransi, wong panik, dst dst sejuta alasan lain. Tetapi, tahukah kalian, apabila semakin banyak SP yang bijak dan erdas, at least pasien akan berkurang 50% (apalagi kalau ditambah dengan pasien yang imunisasinya di dokter umum atau bidan), bisa2 DSA bener hanya menangani 30% dari jumlah pasien sekarang sehingga kalau pasien gak mbludak, kan kualitas layanan bisa lebih baik, komunikasi bisa lebih mantap. Buat apa sih kedokter tapi gak bisa komunikasi seperti yg belakangan banyak di share di milis
 
2. KEJELASAN DIAGNOSIS
banyak sekali email menceritakan: “akhirnya” ke dokter,  dikasih obat (nah ada yang obatnya jelas ada yg sepotong-sepotong dengan alas an gak bisa baca tulisan dokter), obatnya belum ditebus.  Perlu gak?”
Ada dua hal yang perlu kita kritisi:
 
 a. Jumping!
Maksudnya? mind set kita (sadar atau tak sadar), sakit means butuh obat. Padahal kan tergantung sakitnya. Bukan anti obat, bukan antibiotik, tapi mari kita tangani sesuai guideline nya, sesuai EBMnya
Kalau guideline nya gak nyebut obat, ya berarti solusinya bukan di obat. Di lain sisi, bagaimana kita bisa menangani gangguan kesehatan secara rasional kalau kita gak tahu diagnosisnya, gak pernah dibaca guidelinenya.
 
b. Diagnosis
 Tidak sedikit email yang langsung jumping ke obat tanpa menyebutkan diagnosisnya. Nah, seharusnya kita lebih bijak dan cerdas ya di masa mendatang. Tanya dulu dong diagnosisnya apa, tanya dulu dong tujuan terapi nya apa (objective of the treatment), tanya dulu dong apa pilihan terapinya (terapi ada 5 bentuk, pemberian obat hanya salah satu bentuk terapi).
Tak sedikit juga email yang mencantumkan diagnosis tetapi dengan bahasa tak jelas.  Misalnya: ususnya luka, ini kan misleading banget. Coba kalau kita mau browsing, apa key wordsnya untuk usus luka. Atau  gangguan pencernaan (padahal anaknya gak diare kronis), atau gejala maag, dst dst.
Nah, ketika ke dokter dinyatakan sakit A atau B atau C, tanyakan istilah medisnya (kalau susah di telinga kita, minta ditulis). Jadi, kita bisa cari informasi menyeluruh dan obyektif
 
3. TERAPI
Mari kita bolak balik mengingatkan diri sendiri bahwa ada 5 bentuk terapi sesuai panduan WHO
a. Advice and information
b. Non drug therapy
c. Drug therapy
d. Referral (dirujuk)
e. Kombinasi
 
Jadi, jangan memvonis bahwa sakit = obat. Kedua, kalau diberi resep obat, masih banyak yang ditebus tapi belum diberikan.  Kelihatannya sepele (wong uangnya dari asuransi/kantor). Tapi tahukah kalian bahwa dengan penebusan resep itu, kalian tak membantu iklim layanan kesehatan untuk menjadi lebih rasional wong pemasukan jalan terus. Ketika kalian tak membeli obatnya, maka pemasukan bisa berkurang (siapa tahu berkurangnya 50%). Ini kan membuat banyak pihak merenung: “Oh ternyata masarakat Indonesia sudah semakin bijak. Berarti, pola layanan kesehatan juga mesti di tata ulang”
 
4. RESEP
 Ada dua hal yang mengganjel buat saya:
a. Saya belum melihat kalian menanyakan baris per baris obat yang diberikan oleh dokter.  Kalau kalian lakukan itu, hitung2an bodo, 10% saja parents menanyakan itu, dokter pun lantas berpikir: “buat apa ya kasih resep panjang2, malah buang waktu ditanya macem2”
b. Masih sedikit dari kalian yang mnta apotek menulis ulang resep dengan huruf cetak. Coba deh, jadi kan jelas buat kalian obatnya apa, bisa browsing. Selain itu, ini maknanya dalem lho. TRANSPARANSI kan salah satu ciri layanan kesehatan yang rasional, bukan hanya etis dan kompeten tetapi juga transparan, accountable, dapat diukur
 
5. BE SMARTER BE HEALTHIER
Suatu hari di seminar vaksin, saat makan siang, pembicara utama ngobrol dengan seorang DSA: “Pasien sekarang pinter-pinter lho, dateng tuh bawa artikel, apalagi soal antibiotik”.
Minggu lalu ada seminar peningkatan pengetahuan berkala buat para dokter. Salah satu topic, EBM, pembicaranya bilang: “salah satu alasan mengapa kita (dokter) harus belajar EBM adalah karena pasien2 kita sekarang semakin cerdas, datang bawa artikel, kan kita mesti bisa nerangin dan mesti bisa jawab”.
Salah satu meeting dokter anak , salah satu peserta bilang: “kita harus menulis tetang pentingnya komunikasi pasien dengan dokter serta menulis pentingnya informed consent”.
Salah satu komentar di rapat imunisasi para dokter: “jadi kita nih mesti gimana? Kan gak enak kalau pasiennya lebih pinter dari kita. Dah baca artikel dah bisa diskusi sama kita?! Kasih panduan dong”.
 
Salah satu inti dari konsep EBM adalah melibatkan pasien secara aktif  dalam pengambilan keputusan. Kedua, menghargai keinginan/aspirasi pasien. Nah, hayooo baca dan belajar. Hayo buka arsip milis. Biasakan print artikelnya dan bawa ke dokter, diskusikan bagian-bagian yang tak kalian pahami.
 
 
Ok sementara segini dulu yaaa, jangan lupa di arsip ya resep2nya, di fotokopi dong please (selain yang ditulis ulang apotekernya, aslinya juga difotokopi ya)
Have a nice week end.
dr. Purnamawati SpAK, MMPed
 
sumber: milis sehat


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: