Posted by: Kurnia | March 25, 2011

Imunisasi Gak Ya

Copas yang sangat menarik

Bism Allah ar Rahmaan ar Rahiim,

Beberapa minggu terakhir berseliweran beberapa catatan tentang imunisasi. Ada yang judulnya cukup seram, sampai menyebut-nyebut konspirasi. Dinyatakan dalam catatan tersebut bahwa imunisasi adalah salah satu program jangka panjang salah satu kaum (non-muslim yang jelas) untuk memusnahkan umat muslim, membuat mereka bodoh, sakit-sakitan, menjadi budak iblis dan yang terakhir, mengakali umat muslim agar do’anya tertolak (untuk tuduhan terakhir ini, saya jadi geli sendiri. Kalaupun seorang muslim terpedaya katakanlah untuk mengimunisasi anak atau dirinya dengan vaksin haram, apa iya Allah sebodoh itu ikut-ikutan menolak do’anya? Yang benar saja…:) Astaghfirullah…benar-benar perendahan terhadap keagungan Allah)

Imunisasi sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun. Suka atau tidak, sejarah membuktikan bahwa penyakit-penyakit yang pernah mewabah di seluruh dunia dan memakan korban baik cacat permanen maupun meninggal setelah melalui perjuangan panjang saat ini berhasil ditaklukkan atau setidaknya dijinakkan penyebarannya. Bahwa ada kegagalan imunisasi di sana sini, itu tidak menjadikan kita lantas boleh menutup mata terhadap keberhasilan upaya menekan angka kecacatan dan kematian akibat penyakit-penyakit yang disediakan vaksinnya.

Faktanya, angka perbandingan antara yang gagal dan yang berhasil masih sangat jauh. Kasus jama’ah haji yang sakit setelah diimunisasi misalnya, sangat kecil dibanding jutaan lain yang berangkat dan pulang dalam keadaan sehat. Pun pada kasus-kasus kegagalan imunisasi atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) bisa ditelusuri sebab kegagalannya dan sebab kegagalan tersebut bukanlah si vaksin itu sendiri, melainan ada faktor-faktor seperti kekeliruan cara penyimpanan vaksin, kekeliruan prosedur pemberian vaksin dan reaksi alergik langka yang hanya terjadi pada sebagian kecil orang dan tidak mudah dideteksi dengan cara-cara pemeriksaan sederhana. Itu sebabnya pemerintah Amerika Serikat memberi semacam perlindungan kekebalan hukum bagi tenaga kesehatan bilamana terjadi kasus kesakitan, kecacatan atau meninggal akibat reaksi alergi langka seperti ini.

Lalu apa betul imunisasi menyebabkan kebodohan?

Para pakar genetika telah membuktikan bahwa tingkat kecerdasan lebih terkait dengan pola pewarisan gen dan ketepatan cara mendidik ketimbang kerusakan akibat terpapar racun yang diduga ada dalam vaksin. Fakta menunjukkan kualitas kecerdasan generasi yang saat ini berumur 40-an tahun sama sekali tidak menurun. Kapasitas belajar anak-anak justru bertambah. Dengan kurikulum pendidikan yang begitu berat, semakin banyak anak-anak menguasai berbagai bidang ilmu di usia lebih dini dibanding generasi sebelumnya.

Imunisasi ditujukan untuk menyebabkan kemerosotan moral umat muslim?

Kita lihat saja, kemerosotan moral di negara-negara dari mana vaksin berinduk lebih cepat menukik jatuh ketimbang negara-negara dimana vaksin disebarkan. Kalau memang sasarannya adalah umat muslim, tentu fenomena kemerosotan moral akan terjadi sebaliknya.

Imunisasi menyebabkan penerimanya sakit-sakitan?

Asumsi bahwa imunisasi menyebabkan penerimanya sakit-sakitan biasanya ditujukan pada anak-anak. Asumsi ini pun bisa dibantah dengan argumentasi sederhana. Pada usia dini anak-anak memang belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang matang dan variatif, itu sebabnya anak-anak di usia balita lebih sering sakit dibanding orang dewasa. Tubuh mereka masih berada dalam tahap pengenalan benda asing dan membentuk zat anti. Para ahli kesehatan anak menyebutkan bahwa di usia balita, kebanyakan anak akan menderita sakit ringan (common cold dan diare) 6 kali dalam setahun.

Anak yang tidak diimunisasi lebih sehat daripada yang diimunisasi.

Untuk pernyataan ini ada baiknya si penanya sesekali menyempatkan singgah di rumah sakit terdekat. Tanyakan, berapa kasus kecacatan dan kematian akibat meningitis TBC yang terkait dengan tidak diimunisasinya korban dengan vaksin BCG. Status kesehatan umum seseorang lebih terkait dengan gaya hidup seperti kebersihan, pola makan dan pola istirahat. Jika ketiga faktor tersebut terjaga, maka kesehatan seseorang akan lebih baik dibanding yang tidak terjaga.

Imunisasi MMR menyebabkan autisme lho….

Al hamdu lillah, penelitian membuktikan bahwa autisme sudah bisa dideteksi sejak bayi masih dalam bentuk embrio. Kalau kelainan sudah ada sejak bayi masih berbentuk embrio, maka diimunisasi atau tidak, kemungkinan besar ia akan menderita autisme. Jadi asumsi bahwa MMR menyebabkan autisme pun tidak benar.

Hampir di setiap forum diskusi tentang imunisasi yang saya ikuti, selalu saja ada argumentasi bahwa anak si A atau si B tidak diimunisasi, toh sehat sehat saja. Mungkin mereka lupa, bahwa ini PUN adalah salah satu bagian dari nikmat keberhasilan imunisasi yang telah berpuluh tahun dilaksanakan di seluruh dunia : sumber penularan beberapa penyakit yang dulu mewabah global saat ini sudah sangat minim. Itu sebabnya banyak anak yang tidak diimunisasi, tetap tidak tertular. Bagaimana mau tertular? Wong sumber penularannya sudah tidak ada atau minim dan tidak adanya sumber penularan itu adalah KEBERHASILAN DARI PROGRAM IMUNISASI yang kita nikmati sekarang. Toh tidak tertutup kemungkinan ada orang-orang carrier di tengah-tengah kita yang masih mungkin menjadi sumber penularan.

Imunisasi ditujukan untuk menekan menekan populasi umat muslim dengan menyebabkan infertilitas….

Please deh…alih-alih menyusut, populasi penduduk dunia membludag nyaris tak terkendali. Kalau pun di negara-negara dari mana vaksin berasal saat ini peningkatan jumlah penduduk bisa diperlambat itu karena mereka ogah punya anak dengan pemikiran punya anak berarti tambah pengeluaran sementara biaya hidup sangat tinggi. Sedangkan di negara-negara Islam peningkatan jumlah penduduk tetap melaju karena penduduknya dengan suka cita beranak pinak.

Kalau kita mau berfikir sejenak, betapa beruntungnya pemeluk Islam. Islam tidak melarang kita memanfaatkan teknologi yang dihasilkan oleh tangan-tangan non muslim. Islam hanya memerintahkan kita untuk bertanya kepada orang-orang yang memahami syari’ah ini sebelum mengambil keputusan dan segala puji hanya untuk Allah, betapa orang-orang seperti ini masih sangat banyak kita temui. Maka jika mereka mengeluarkan fatwanya, kita tinggal mematuhi sedangkan tanggung jawab tetap berada pada mereka. Mudah bukan? Mau melindungi diri dengan thibbun nabawi saja, silahkan, mau melengkapinya dengan teknologi yang dihasilkan oleh non muslim, setelah diketahui kebolehannya melalui fatwa para ulama, Islam pun tidak melarang. Sungguh nikmat menjadi seorang muslim. Nikmat dan mudah.

Sebagai penutup, saya ingin sampaikan bahwa saya tidak sedang menyuruh-nyuruh orang mengimunisasi anaknya atau tidak meyakini kehebatan thibbun nabawi. Imunisasi atau tidak adalah pilihan. Akan tetapi buatlah pilihan secara bijak, rasional dan faktual. Bagi yang memilih untuk tidak mengimunisasi anaknya dan anaknya tetap sehat, sudah itulah kehendak Allah yang patut disyukuri tanpa melecehkan mereka-mereka yang memilih untuk mengimunisasi sebagai bagian dari ikhtiar yang hasilnya pun sepenuhnya kembali pada kuasa Allah. Hilangkan kebiasaan menyebarkan sesuatu yang tidak jelas kebenarannya, menutup mata bahwa apa yang kita nikmati sekarang adalah juga merupakan bagian dari keberhasilan imunisasi ~ yg lagi lagi di atas segalanya adalah juga atas kehendak Allah ~ apalagi sampai menyebarkan tuduhan-tuduhan tanpa bukti yang valid.

Catatan terkait :

– Hidrosefalus akibat Imunisasi : http://www.facebook.com/note.php?note_id=493726037709

– Bahan Vaksin : http://www.facebook.com/note.php?note_id=493993642709

– Kaitan Janin Manusia dengan Vaksin : http://www.facebook.com/note.php?note_id=496772767709

– Eana al Jemberi : Imunisasi dari Segi Medis dan Syari’ah : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150093768572247

– Abu Muhammad Herman : Imunisasi dengan Enzim Babi : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150370318990175&id=1084713685

– Dr. Arifianto : A Doctor’s Journal : http://arifianto.blogspot.com/2008/01/mengapa-tidak-mau-memberikan-imunisasi.html

– Salinan Surat Pertanyaan WHO Kepada Pemuka Agama Islam di Kawasan Timur Tengah Perihal Hukum Pemakaian Bahan Haram dalam Proses Pembuatan Vaksin dan Jawaban : http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.immunize.org%2Fconcerns%2Fporcine.pdf&h=a4e65

Semoga bermanfaat.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=492834417709


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: